Anggaran Pengerukan Sungai Minim, Banjir Pamekasan Masih Mengancam

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ IST) BANJIR LAGI: Bencana banjir kebali menimpa Kabupaten Pamekasan setelah sebelumnya sempat terjadi bencana yang sama.

KABARMADURA.ID, PAMEKASAN – Banyak pihak yang menyayangkan terjadinya bencana banjir yang menimpa Kabupaten Pamekasan tahun ini. Hal itu karena Kabupaten Pamekasan sempat ditimpa bencana yang sama pada tahun sebelumnya.

Ketua Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pamekasan Ismail menerangkan, banjir yang terjadi akibat tingginya intensitas hujan itu mengakibatkan bertambahnya debit air kiriman dari arah utara.

Bacaan Lainnya

Air yang mengalir melalui Sungai Semajid itu akhirnya meluap di wilayah Kota Pamekasan. Akibatnya di beberapa titikpermukiman terendam.

Menurut Ismail, beberapa tahun terkahir, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan kurang dalam melakukan pengerukan sungai, sehingga sungai menjadi dangkal dan tidak bisa menampung air hujan sehingga meluap.

Tidak maksimalnya pengerukan sungai, menurutnya dikarenakan anggaran yang disediakan tergolong sedikit dan tidak memadai untuk melakukan pengerukan sungai di banyak titik. Seharusnya, anggaran untuk pengerukan sungai disiapkan lebih besar lagi.

“Jadi seharusnya pemkab itu bisa mencari bantuan ke pemerintah pusat dan pemerintah provinsi,” ujarnya.

Sejauh ini, anggaran untuk pengerukan sungai hanya berada di kisaran Rp400 juta hingga Rp600 juta. Sementara menurutnya, pengerukan sungai di seluruh titik rawan banjir akan optimal jika anggarannya mencapai Rp100 hingga Rp200 miliar.

“Kita berharap ini menjadi kejadian terakhir kita untuk bagaimana pemerintah bisa mencari terobosan ke pemerintah pusat,” lanjutnya.

Kendati begitu, pihaknya mengaku terus mengawasi kinerja pemkab dalam upaya mitigasi banjir. Kendati demikian, pihanya juga tidak bisa memberikan solusi terhadap minimnya anggaran pemkab untuk pengerukan sungai selain menunggu bantuan dari pemerintah pusat.

Menurutnya, beberapa titik yang sangat rawan banjir dan perlu penanganan khusus. Setidaknya ada enam titik yang beberapa waktu yang lalu menjadi lokasi banjir terparah, yaitu: di kawasan Patemon, Jalmak, Jungcangcang, Gladak Anyar dan Laden.

“Termasuk di rumah saya juga kebanjiran. Sebelumnya tidak pernah,” ucap politkus Partai Demokrat itu. (ali/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *