Anggaran Satu MCK di Bangkalan Tembus Rp60 Juta

(KM/HELMI YAHYA) KUMUH: Lingkungan di daerah sungai sekitar Kelurahan Pejagan Bangkalan seharusnya mendapatkan bantuan sanitasi.

KABARMADURA.ID | BANGKALAN -Pengadaan bangunan mandi, cuci, kakus (MCK) sebesar Rp660 juta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) tahun ini, belum mampu mengakomodir kebutuhan di setiap desa. Hal tersebut diungkapkan Kepala Bidang (Kabid) Penyehatan Lingkungan dan Air Minum (PLAM) Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) Bangkalan, VRizal Mardiansyah.

Menurutnya, anggaran tahun ini hanya mampu menyasar 11 titik MCK. Masing-masing MCK dianggarkan Rp60 juta. Ketentuannya, satu desa akan memperoleh satu program sanitasi atau MCK. Sedangkan untuk bentuk bangunannya, akan ada dua bilik. Yakni, kamar mandi dan jamban serta satu septic tank.

“Kalau dihitung dari jumlah lokasi yang mendapatkan program sanitasi lebih banyak tahun ini dari pada sebelumnya. karena tahun lalu masih fokus penanganan pandemi Covid-19. Saat ini lebih kepada pembangunan ekonomi nasional. Tahun lalu ada 7 titik. Tahun 2022 ini ada 11 titik. Ini juga termasuk program prioritas bupati,” ujarnya.

Bacaan Lainnya

Dalam menentukan setiap titik, bisa melalui musyawarah perencanaan pembangunan desa (Musrenbangdes) dan pengajuan proposal. Meski demikian, untuk memastikan desa penerima program harus dilakukan survei lokasi. Tujuannya, memantau kelayakan desa penerima.

“Yang jelas 11 desa penerima tahun ini belum pernah memperoleh program sanitasi. Baik dari daerah maupun provinsi. Intinya tidak boleh ada desa menerima bantuan ganda. Karena masih banyak desa yang belum memperoleh program sanitasi ini,” ucapnya.

Sementara itu, salah satu warga Desa Kamal, Bayu Suryono mengaku, di sekitar tempat tinggalnya masih banyak yang belum tertib dan sadar lingkungan. Sehingga kadang membuat hajat ke laut atau pantai. Kesadaran lingkungan masyarakat sebenarnya bisa ditertibkan jika fasilitas atau sarana sudah memadai.

“Karena tingkah laku itu biasanya menyesuaikan pada kondisi lingkungan. Kalau di lingkungan itu sudah ada fasilitasnya, sepertinya bisa lebih mudah diawasi,” responnya.

Reporter: Helmi Yahya

Redaktur: Totok Iswanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.