oleh

Anggaran Wisata Budaya Kurang Memadai

Kabarmadura.id-Bangkalan memiliki ragam kebudayaan yang bisa dieksplorasi. Sayangnya, kebudayaan yang menjadi karakter masyarakat Bangkalan tersebut, masih minim dukungan pemerintah, utamanya dalam hal anggaran dan pengenalannya di kancah nasional maupun manca negara.

Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bangkalan Hendra Gemma Dominan mengakui hal itu. Pengenalan kekayaan warisan budaya tersebut, belum didukung oleh anggaran yang memadai dalam rangka pelestariannya, termasuk menjadikannya sebagai objek destinasi wisata ke Kabupaten Bangkalan.

“Pemerintah setempat kurang maksimal dan belum bisa mendukung secara penuh. Karena memang kami di sini butuh proses dan waktu dalam melakukan eksplorasi kebudayaan,” jelasnya.

Namun, menurut pria yang juga seorang pemain musik ini, upaya pelestarian dan pengembangan pariwisata dari  objek kebuidayaan, tidak bisa selalu bergantung anggaran dari pemkab, atau masuk dalam anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).

“Kita tidak boleh ketergantungan terhadap APBD, makanya kami melakukan sebuah kerja sama dan mengkomparasikan dengan pihak luar untuk memajukan budaya-budaya kita,” imbuh Hendra.

Sejatinya, Bangkalan tidak hanya memiliki warisan budaya secara tangible, atau  warisan budaya bukan benda (intangible cultural heritage) seperti tari-tarian dan musik. Kabupaten yang berposisi di paling barat Pulau Madura ini, juga memiliki banyak warusan budaya intangible, yakni warisan budaya benda (tangible cultural heritage) seperti benda cagar budaya dan gedung

Namun Hendra mengakui, kebudayaan merupakan sebuah identitas. Maka Masyarakat dan pemerintah harus bersinergi untuk mengeksplorasinya.

Hendra selaku pegawai negeri (PNS) yang berjiwa seni ini menjelaskan, Disbudpar Bangkalan sudah memiliki langkah-langkah berupa program. Dalam realisasi program tersebutm rencananya akan melibatkan masyarakat.

“Kami sudah menyiapkan berapa-beberapa program yang nantinya kami akan mengikutsertakan masyarakat, yaitu para pelaku seni, buyawan dan sejarawan. Kami nanti akan sharing untuk membicarakan bagaimana tentang kebudayaan ini, ” pungkas Hendra. (km46/waw)

Komentar

News Feed