Angin Kencang Agustusan dan Hantaman Riak Kecil

  • Whatsapp

Kabarmadura.id – Masyarakat seluruh tanah air gegap gempita menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) kemerdekaan negeri tercinta, Indonesia. Aneka ekspresi kegembiraan mereka tampakkan. Agustusan merupakan sebutan dari pesta kemerdekaan. Lantaran di bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945 yang lalu negeri ini dapat menghirup angin kemerdekaan pertama kalinya, baik secara defacto maupun dejure. Di setiap bulan Agustus, seluruh penduduk negeri ini mengadakan aneka perhelatan guna menyambut lahirnya moment bersejarah tersebut.

Sebagian, mengekspresikannya dengan mengadakan ragam perlombaan, dari lomba jenis hiburan sampai pada yang paling serius. Kegembiraan ini dapat dirasakan oleh anak seusia TK sampai pada orang lanjut usia, dari kalangan kelas bawah sampai pada strata sosial yang paling wah. Sebagian lainnya, mengekspresikannya dengan cara berbagi hadiah. Tak pelak, perusahaan dan tempat-tempat pembelanjaan memanfaatkan momentum ini. Bonus, diskon harga, dan hadiah meriah mewarnai perhelatan akbar tersebut.

Di tengah euphoria kemerdekaan yang berjalan sudah 74 tahun ini, selama 74 tahun pula komitmen kebangsaan kita masih terpasung oleh beragam pertanyaan. Sudahkah kita benar-benar merdeka? Sudahkah kita benar-benar merdeka dari birokrat dan pejabat-pejabat korup? Sudahkah ketidak-adilan dan jerat kemiskinan benar-benar hengkang dari tanah pertiwi ini? Atau sudahkah negeri ini bebas dari narasi-narasi yang mencerabut nilai-nilai sakral NKRI? Ataukah sudah benar-benar bersih dari sampah hoax dan fitnah yang keluar dari tangan-tangan kreatif generasi bangsa ini? Pertanyaan-pertanyaan itu masih bergelantungan di tengah aroma harum angin kemerdekaan.

Akhir-akhir ini, negeri tercinta ini diserang virus ganas bernama hoax. Virus ganas tersebut lahir, dibuat dan dihembuskan oleh bangsa sendiri. Sementara dampak racunnya telah melumpuhkan banyak isi kepala. Berbagai perilaku yang berpotensi mencabik nilai-nilai persatuan, kerukunan dan kebersamaan antar anak bangsa telah nampak serta menyeruak kepermukaan. Hembusan bayu kemerdekaan yang telah dinikmati selama 74 tahun lamanya, seperti mengalami aus dan terjadi banyak kikisan-kikisan. Jika tidak segera ditambal, maka kikisan-kikisan tersebut menjadi semakin meluas dan sulit untuk dibenahi.

Lain lagi dengan rasa curiga yang membayang-bayangi dada anak bangsa. Mereka yang melakukan sesuatu, dicurigai akan ada sesuatu yang buruk menimpa oleh sebagian lainnya. Berkarya di tengah situasi rasa curiga tersebut,  seakan-akan ada upaya untuk menghantam dan merugikan. Di balik semuanya, tentu melahirkan gesekan yang berkepanjangan.

Kenyataan ini, untung saja dapat diredam oleh upaya konsiliasi antar dua elemen kekuatan. Jika tidak, maka dis-integrasi semakin meluas dan amukan rasa curiga terus membara dan membakar, jelas juga akan sulit untuk dipadamkan. Namun meski begitu, kita tidak boleh lengah, situasi tenang ini akan selalu dimanfaatkan oleh segerombolan riak kecil yang terus berupaya dirinya menjadi ombak besar bahkan badai yang ingin menghantam keadaan kondusif tersebut. Dan, lagi-lagi hoax menjadi senjata ampuh mereka.

Hembusan angin yang membawa riak kecil tersebut dapat diendus oleh aparat penegak hukum, berbagai upaya telah dilakukannya. Mulai dari kerjasama TNI-Polri bersama tokoh-tokoh masyarakat sampai pada menggelar acara akbar bernama deradikalisasi dari hulu sampai ke hilir. Namun sayang, tidak pernah dilakukan sebuah upaya untuk menggandeng segerombolan riak kecil tersebut guna mencari titik temu dan solusi, kemudian merangkulnya agar angin kencang agustusan terus bersendalu. Kemudian endingnya, komitmen kebangsaan kita berjalan tegak seutuhnya, tanpa ada adegan toleh kanan dan toleh kiri yang mengganggu pandangan.

74 tahun angin agustusan berhembus kencang telah membawa bunga-bunga prestasi banyak bermekaran. Namun, kerja belum usai, masih banyak ladang yang akan ditanam, masih banyak sawah luas membentang yang akan digarap. Tentu pula, masih banyak hama yang siap akan dibasmi dan dimusnahkan. Bukan saatnya menuai buah, apalagi merasa telah panen raya. Amukan kemiskinan, korupsi, ketidak-adilan, dan sejenisnya, jelas juga masih membentang. 74 tahun angin besar agustusan mengelus bulu-bulu sayap burung garuda dan telah mengiringinya terbang melintasi langit bumi pertiwi. Terbang tinggi membawa mimpi-mimpi agung negeri ini segera menjadi nyata.

74 tahun bukan jalan yang instan untuk sebuah bangsa yang besar. Selama itu, angin agustusan berhembus membawa perahu layar bernama Indonesia mengarungi bahkan menerjang, tidak hanya riak kecil melainkan pula ombak besar bahkan terkaman badai sekalipun. Namun, lagi-lagi jalan masih panjang, gelombang masih akan menerjang, dan angin bulan Agustus semoga tetap dan terus kencang berhembus membawa perahu layar negeri ini menuju pulau berperadaban gemilang.

Oleh: Holikin, S.Pd.I

*Penulis adalah alumni Ponpes. Hidayatus Salafiyah, Pramian Srereh dan Guru di UPTD SDN Pulau Mandangin 6. Kini, ia sedang menunggu buku ketiganya bertajuk “Narasi Cinta” segera rilis.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *