Angka Kekerasan Anak di Bangkalan Menyusut, Mayoritas Kasus Tidak Dilaporkan 

  • Whatsapp
(FOTO: KM/HELMI YAHYA) BERMAIN: Beberapa anak menikmati wahana permainan di Taman Rekreasi Kota (TRK) Bangkalan.

KABARMADURA/.ID, BANGKALAN -Angka kekerasan terhadap anak sudah mengalami penurunan. Kondisi itu jika dibanding dengan kasus tahun 2020 yang mencapai 15 kasus. Sedangkan di 2021 hanya ada 13 kasus. Meski begitu, kasus kejahatan pada anak dan tidak dilaporkan masih ada. Sehingga perlu menjadi prioritas pengawasan dan penanganan dari Dinas Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KBP3A).

Salah satu aktivis perempuan Siti Riamna menyampaikan, ada banyak kekerasan di desa yang belum tuntas dilaporkan. Bahkan pihak keluarga juga ada yang tidak melaporkan. Sebab, mereka tidak mau dicap sebagai orang tua yang gagal mendidik anaknya. “Rata-rata memang karena gengsi, jadi tidak mau lapor, kalau seksual bisa saja langsung dinikahkan,” ungkapnya.

Seharusnya ada peran pemerintah daerah dalam mengatur dan mendorong penanganan kasus semacam itu, maka bisa bekerja sama dengan karang taruna atau organisasi desa. “Sekarang ini kan susah jika terjun langsung, harusnya penyuluh dan kader KB juga lebih digiatkan,” ucapnya Minggu (10/10/2021).

Kepala KBP3A Bangkalan Amina menyampaikan, mayoritas penyebab kekerasan terhadap anak yang pertama lantaran faktor sumber daya manusia (SDM). Seperti ,kurangnya tingkat pendidikan dan broken home. “Paling banyak ini memang broken home, jadi tidak ada keharmonisan dalam keluarga,” responnya.

Perempuan yang kerap akrab disapa Amina itu menegaskan, SDM bisa menjadi faktor kekerasan terhadap anak. Padahal seorang anak mendapatkan perlakuan yang baik, karena seorang anak merupakan masa pertumbuhan. “Dari SDM yang kurang bagus berpengaruh terhadap pola asuhnya orang tua kepada anak,” paparnya. 

Jika anak di usia emas 5 tahun kebawah, sudah mendapatkan kekerasan dari orang tua, maka seorang anak bisa merasakan trauma yang berkepanjangan, dan tumbuh kembangnya terganggu.  “Seharusnya anak itu mendapatkan kesempatan yang lebih baik, seperti anak di usia periode emas 5 tahun ke bawah,”  terangnya.

Pihaknya menegaskan, sekolah pertama yang diterima oleh seorang anak merupakan kedua orang tua. Sehingga anak tidak mudah menerima masukan yang tidak seharusnya diterima. “Jika sekolah pertama sudah mengajari pendidikan yang bagus maka anak akan mendapatkan dasar yang kuat, sehingga bisa memilih baik dan buruknya,” tegasnya. 

Reporter: Helmi Yahya

Redaktur: Totok Iswanto

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *