oleh

Angka Kematian Ibu dan Bayi Tetap Tinggi

Kabarmadura.id/Sampang -Berbagai upaya untuk menurunkan terjadinya kasus kamatian ibu dan bayi saat melahirkan terus digalakkan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Sampang. Namun, hal itu belum membuahkan hasil yang optimal.

Sejauh ini, kasus kematian ibu dan bayi di Sampang tergolong masih tinggi, sejak bulan Januari sampai Oktober 2019, sudah tercatat terjadi 70 kasus.

Plt Kepala Dinkes Sampang Agus Mulyadi mengatakan, kasus kematian ibu hamil dan bayi saat lahir, pada tahun ini sudah mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Namun penurunannya belum signifikan. Alasannya, butuh proses dan harus dilakukan secara bertahap.

Ia mengungkapkan, kasus kematian ibu dan bayi, tidak bisa ditiadakan secara singkat. Sebab, hal itu erat kaitannya dengan tingkat kesadaran masyarakat.

Sejak bulan Januari hingga Oktober, kematian ibu hamil tercatat 10 kasus dan kematian bayi 60 kasus, sehingga totalnya 70 kasus.

Sedangkan pada 2018, kasus kematian ibu dan bayi saat proses persalinan tercatat sebanyak 159 kasus yang tersebar di seluruh wilayah Sampang. Perinciannya, kasus kematian ibu hamil mencapai 14 kasus dan kematian bayi mencapai 145 kasus.

“Penanganan kasus kematian ibu dan bayi terus menunjukkan trens positif, karena dari tahun ke tahun sudah ada penurunan, tapi perlu terus ditingkatkan, karena kasus kematian masih tinggi,” ujar Agus Mulyadi kepada awak media.

Pria asal Sumenep itu menjelaskan, masih tingginya kasus kematian ibu hamil karena sejumlah faktor, seperti kematian saat proses persalinan, karena sang ibu mengalami pendarahan akibat kondisi gizi ibu kurang bagus dan karena tensinya tinggi (preeklampsia).

Sedangkan penyebab tingginya kasus kematian bayi baru lahir, secara umum karena mengalami kegagalan bernafas (asfiksia) dan  mengalami berat badan lahir rendah (BBLR) di bawah 2,5 kilogram saat melahirkan, sehingga sang bayi tidak bisa terselamatkan.

“Untuk mencegah terjadinya kematian ibu hamil ini, para ibu hamil wajib memeriksaan diri minimal empat kali semasa kehamilan dan asupan gizi yang memadai,” terangnya.

Agus berdalih, kendala menekan terjadinya kasus kematian saat persalinan, yakni tingkat kesadaran, pemahaman warga Sampang tentang kesehatan yang relatif rendah, sebab masalah kesehatan masih dianggap sebagai tugas tenaga kesehatan saja.

Di sisi lain, ketersedian sarana prasaran (sarpras) di faslitas kesehatan (faskes) di sejumlah desa kurang mendukung. Terutama ketersedian air bersih dan akses menuju pelayanan kesehatan sulit dijangkau.

Selain itu, mayoritas orang tua enggan anaknya diimunisasi, sehingga kasus kematian ibu, bayi dan balita tetap tinggi serta penularan penyakit sangat sulit untuk dikondisikan dan sebagainya.

“Yang jelas, untuk menekan kasus kematian ini, kami akan terus mengoptimalkan program kesmas, seperti penanganan gizi buruk, bumil, BBLR, evaluasi gizi masyarakat, pertemuan linsek dan lingprog, kegiatan monev, bimtek dan semacamnya,” jelasnya. (sub/waw)

 

Komentar

News Feed