oleh

Angka Kemiskinan dan Putus Sekolah Masih Tinggi

Kabarmadura.id/SUMENEP-Angka kemiskinan dan anak putus sekolah di Jawa Timur (Jatim) rupanya masih tinggi. Sehingga pekerjaan yang harus diemban oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) masih berat.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indarparawansa menyampaikan, pihaknya menginginkan indeks pembangunan manusia (IPM) di Jatim terus meningkat. Tentunya dengan program-program yang akan dijalankan.

“Kami ingin IPM di Jatim terus mengalami peningkatan, termasuk derajat kesehatan masyarakat. Kami ingin rata-rata sekolah anak dan inkam per kapita masyarakat terus meningkat,” paparnya saat hadir di Hari Pers Nasional (HPN) tingkat Jawa Timur di Gedung Grahadi, Rabu malam (27/3).

Ketika mantan menteri Sosial RI tersebut berkoordinasi dengan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD), ada banyak hal yang disampaikan, termasuk program yang wajib dijalankan demi meningkatkan IPM, menekan angka kemiskinan, menekan angka anak putus sekolah dan lain sebagainya.

“Yang kami sampaikan kepada OPD-OPD, bahwa yang tidak bisa ditawar adalah peningkatan IPM, yang tidak bisa ditawar menurunkan kemiskinan pedesaan di Jatim. Karena kapan desa itu miskin, maka angka nikah dini cenderung tinggi, sehingga kemungkinan dropout sekolah pada usia yang mestinya masih wajib belajar,” terangnya.

Mantan menteri Pemberdayaan Perempuan di era Presiden Abduttahman Wahid itu juga menerangkan, rata rata lama sekolah anak-anak di Jatim masih 7,4.

Itu artinya, lanjutnya, masih banyak anak-anak yang seharusnya masih duduk di bangku sekolah justru putus sekokah. Faktanya, bahwa di Jatim saat masih kelas dua di sekolah menengah pertama (SMP) di semester satu sudah dropout.

Pihaknya menegaskan kepada OPD-OPD di lingkungan Pemprov Jatim, bahwa yang tidak bisa ditawar adalah mendekatkan disparitas angka kemiskinan antara antara wikayah kota dan desa.

Sebab saat ini, kata Khofifah, ada angka yang sangat jauh antara kemiskinan masyarakat yang ada di wikayah kota dengan masyarakat pedesaan. Sebab hari ini angka kemiskinan di perkotaan berada di angka 6,9 persen, sementara di pedesaan angka kemiskinannya mencapai 15,2 persen.

“Harusnya rentang kemiskinan ini antara desa dan kota tidak terlalu jauh, maka harus didekatkan dengan menurunkan angka kemiskinan di pedesaan,” harapnya. (ong/waw)

Komentar

News Feed