Angka Kesembuhan Meningkat, RS di Pamekasan Mulai Sepi Pasien Covid-19

  • Whatsapp
(FOTO: KM/ ALI WAFA) TINGGI: Pasca kebijakan baru dari Kemenkes, angka kesembuhan pasien terinfeksi Covid-19 di Kabupaten Pamekasan meningkat tinggi.

Kabarmadura.id/Pamekasan–Prosedur baru yang ditetapkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tentang standar kesembuhan pasien terinfeksi Covid-19, berdampak terhadap tingginya angka kesembuhan pasien terinfeksi di Kabupaten Pamekasan.

Diungkapkan oleh Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Slamet Martodirdjo (RSUD Smart) Pamekasan dr. Syaiful Hidayat, pihaknya saat ini hanya merawat sedikitnya lima orang pasien. Satu di antara lima pasien itu terkonfirmasi terinfeksi Covid-19, sementara empat lainnya berstatus suspect.

Bacaan Lainnya

“Alhamdulillah, sekarang rumah sakit sepi oleh pasien Covid-19. Dengan protap baru itu pasien jadi banyak yang sembuh,” ungkapnya, Selasa (11/8/2020).

Menurutnya, banyaknya pasien yang dinyatakan sembuh hingga mencapai 200 orang lebih, dipengaruhi oleh prosedur baru yang ditetapkan oleh Kemenkes. Sebab, jika sebelumnya pasien harus menunggu hasil swab dua kali bersih dari Covid-19 untuk dinyatakan sembuh, maka dengan prosedur baru ini pasien dengan gejala ringan hanya cukup menjalani isolasi mandiri selama 10 hari, lalu kemudian otomatis dinyatakan sembuh.

Sebelumnya, pihaknya telah menyiapkan dua paviliun dan satu ruangan khusus isolasi pasien terinfeksi Covid-19 dengan total 25 bet. Kini ruangan tersebut banyak kosong dan tidak terpakai, bahkan jika sebelumnya pihaknya harus menumpuk dua pasien dalam satu ruangan, karena over kuota, saat ini pihaknya hanya memfungsikan lima bet untuk pasien.

Tidak hanya itu, menurut dokter spesialis paru tersebut, masyarakat masih banyak termakan oleh isu lama tentang berita miring Covid-19.

“Ya mereka masih begitu, jadi masih termakan oleh (isu miring, red) itu,” tutupnya.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan Achmad Marsuki membenarkan adanya protap baru tersebut. Menurutnya, hal itu merupakan kebijakan baru dari pemerintah pusat melalui Kemenkes, dan telah melalui kajian dan penelitian yang matang oleh WHO.

“Protapnya yang memang begitu,” ulasnya. (ali/pin)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *