Antara Covid-19, Ramadhan dan Sorban

  • Bagikan

Refleksi di bulan Tarbiyah

Atiqullah

Dekan Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura

Awalan

Pandemic. Itulah Allah SWT. mentaqdirkan kepada umat manusia tahun terakhir ini. Sejak sekitar Februari 2020 M. bertepatan dengan tanggal 15 Sa’ban 1441 H. umat Islam pada menunggu datangnya bulan Ramadhan yang penuh dengan kemulyaannya. Malah yang datang pandemi coronavirus disease 2019 (Covid-19) bermula dari kota Wuhan China sekitar akhir Desember 2019 menurut prediksi di Indonesia akan berakhir bulan September 2020. Bagi kita yang penting adalah Covid-19 itu pulang bila diibaratkan kepada seekor mahluq atau benda menyerupai percikan air dan dipercaya sebagai media virus. Anehnya lagi tadi pukul 06.00 wib (5/5/20) sebelum tulisan ini rampung ada kabar lagi bahwa di Arab Saudi telah terjadi hujan es yang menyerupai apa yang diyakini sebagai Covid-19.

Kitapun bersyukur akhirnya pada Jum’at (24/4/20) 15 hari yang lalu bulan Ramadhan Karim itu datang. Ada yang berbeda dari sebagian perilaku kita di bulan Ramadhan tahun ini antara lain; social distancing dalam melaksanakan ibadah yang biasanya terhampar karpet dan sejadah sekarang tidak, dilingkungan masjid biasanya tidak ada himbauan untuk berbasuh sebelum dan setelah keluar masjid atau mushollah, sekarang ada himbauan baru itu karena umat Islam sebelum melaksanakan ibadah harus dalam keadaan suci tidak saja tangan, minimal ia mempunyai wudhu’ sebagaimana diketahui bersama bahwa batas-batas anggota badan yang harus di sucikan. Sebagian masjid sebelumnya jarang terjadi pengepelan/pembersihan lantai atau benda-benda yang ada didalamnya, sekarang ada himbauan untuk penyemprotan minimal dalam satu minggu sekali penyemprotan disinfektan dan dibeberapa tempat sebelumnya jarang orang-orang bermasker, setelah ada himbauan maka masker menjadi kebiasaan yang baik sebagai upaya mencegah menularnya virus. Pembiasaan yang massif  ini dalam rangka meminimalisir penularan Covid-19 dikalangan masyarakat yang memungkinkan terjadinya pergeseran perilaku ini sebagai akibat keranjingan yang akut.

Teringat tulisan Soffa Ihsan seorang Marbot LDB, “Virus yang Menciptakan Revolusi” (27 Maret 2020) di sebuah Media, bahwa revolusi itu bisa juga menyentuh aspek non politik semisal adanya ‘momentum’ bisa berupa ‘aset baru’ yang terbangun, ia meminjam istilah Karl Mannhem adanya ‘determinasi situasional’ yang merekahkan warsa baru, yaitu perubahan. Kata kunci perubahan_revolusioner ini menjadi harapan bersama tentang peradaban manusia era Covid-19, tidak saja dalam masalah sosial, ekonomi, politik, budaya. Keagamaan serta tidak kalah pentingnya adalah pendidikan.

 

Covid-19, Ramadhan dan Aktivitas di Rumah

Awalnya tidak ada korelasi antara Covid-19, Ramadhan 1441 H dan Pendidikan Nasional. kenyataannya adalah berhubungan satu sama lain; pertama. Covid-19 adalah tidak tertentukan adanya bahkan tidak diharapkan kehadirnya. Pandemic semacam ini pernah terjadi pada masa Rasulullah SAW., baginda memerintahkan untuk tidak berdekatan dengan penderita maupun wilayah yang terkena wabah. Konsep karantina wilayah ini seperti diungkapkannya dalam hadits riwayat Imam Bukhari “jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah maka janganlah kalian memasukinya, namun, jika terjadi wabah di tempat kamu berada maka jangan tinggalkan tempat itu”. Menurut direktur Pondok Pesantren UII (Dr. Asmuni dalam Republika, 22/5/2020), pandemi Covid-19 ini mencerminkan universalitas semesta dengan segala kekuatan dan keadilannya sekaligus memperlihatkan universalitas manusia dengan segala kelemahan dan kezalimannya. Dalam perspektif Al-Qur’an telah mengisyaratkan sepanjang masa bahwa “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali ia mengubahnya sendiri”(QS. Ar-Ra’du : 11). Hal ini menjadi suatu inspirasi tersendiri dengan kehadiran Covid-19 dan pada gilirannya masyarakat akan menyesuaikan diri, merubah sikap sosial, pandangan politiknya secara global, bahkan  keberagamaan (religious conversion) dapat dilihat dari antusiasme menghadiri tempat-tempat ibadah dan ritus-ritus tertentu yang dikumandangkan dalam rangka pandemic berupa sholawat tibbil qulub, qunut nazilah, doa jijauhkan dari tho’un, bahkan ada pembacaan burdah berkeliling kampung mengingatkan kita tahun 80-an semasa kita kecil.

Baca juga  Membangun Peradaban di Era 5.0

Kedua Ramadhan sebagai syahru al-tarbiyah dimana para sho’imat (orang yang puasa karena iman kepada Allah SWT.) menjalani pembelajaran diri berupa ritual menahan dari makan, minum dan bersanggama dengan pasangan) dimasa Covid-19 puasa Ramadhan 1441 H tidak saja menahan dari tiga makan, minum dan bersanggama bahkan juga diwajibkan untuk menahan tidak bertemu secara fisik berjarak (physical distancing) atau sosial berjarak (social distancing) dengan jumlah besar. Suatu proses ibadah yang membutuhkan focus of contemplation antara hamba kepada Allah SWT. harusnya memang melakukan dua hal social & physical distancing dengan sesama, bahkan dalam ibadah tertentu sebagaiamana sholat sunnah seseorang harus bangun disaat orang lain lelap, itu adalah bagian dari social distancing atau physical distancing dengan sesama. Anehnya juga mengapa pandemic ini mengisyaratkan agar pada ibadah-ibadah tertentu yang justru pahalanya besar apabila melibatkan orang banyak seperti sholat jum’at menjadi gugur kewajibannya didaerah tertentu. Inilah Rahmat Allah SWT., yang jauh melibihi murka-Nya, betapa kita dibelajarkan untuk mencapai kefitrahan itu dengan beberapa ujian, kesemuanya tidak untuk diperdebatkan karena manusia itu tidak boleh mengaku dirinya iman kepada Allah SWT., sementara ia belum teruji (QS. Al-Ankabut : 2). Dalam satu riwayah, Rasulullah SAW ditanya seorang sahabat, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berat cobaannya?” Baginda SAW menjawab: “para nabi, kemudian, orang-orang saleh, kemudian yang sesudah mereka secara berurutan berdasarkan tingkat kesalehannya. Seseorang akan diberikan ujian sesuai dengan kadar agamanya. Bila ia kuat, ditambah cobaan baginya. Kalau ia lemah dalam agamanya, akan diringankan cobaan baginya. Seorang mukmin akan tetap diberi cobaan, sampai ia berjalan di muka bumi ini tanpa dosa sedikit pun.” (HR Bukhari). Hakikat dari semua itu bagi umat Islam merupakan sarana dalam men-tarbiyah-kan dirinya agar menjadi manusia yang bertaqwa (QS. Al-Baqarah : 183) pertanyaannya adalah kapan kita lulusnya ?. Harapannya tentu tidak perlu ada pertanyaan ini karena ber Islam itu sebaiknya tidak banyak bertanya tapi sejauh mana mengerjakannya. Islam itu “ilmiyun wa amaliyun” dengan ilmu, dengan iman, dan amal perbuatan itulah sesungguhnya sedang mengajarkan dan mendidikkan ego kita.

Baca juga  Karya-karya Besar dari Kesunyian

Ketiga adalah pendidikan. Suatu hari dalam suasana WFH saya ke kampus, suasananya persis ketika revolusi marketing dari offline ke online, dari traditionalmarket ke marketplace, dari departement store ke e-commerce, yang terjadi adalah seperti kampus mati berjejer ruang-ruang kuliah mewah yang saat itu tentu membutuhkan biaya banyak untuk pembangunan sarana-prasarana sebagai alasan menjaga mutu pendidikan dan pengembangan karakter yang itu tidak bisa digantikan oleh mesin-mesin dan IT, meminjam istilahnya Otomo Nanadjaya (2011) bahwa “ruang-ruang kelas telah menjadi penjara”, dan ruang itulah yang menjadi penjara bagi mahasiswa, sekaligus kita berfikir saatnya nanti para Rektor tidak lagi sibuk menganggarkan dana pembangunan ruang fisik karena itu sesungguhnya ruang maya sudah tidak lagi tak terbatas. Suatu pembelajaran bagi berubahnya perilaku mengajar dalam ruangan offline ke mengajar online. Tentu pertanyaannya adalah dimana ruang mendidiknya ?.

Ceritera Madura tentang Mbah Kholil Bangkalan dalam pertemuannya bersama sang ibunda dengan jarak begitu jauh antara pondoknya dengan rumah (dhalem; Madura) dimana ibu beliau tinggal. Ra Mad Halil safaan akrabnya kala rindu sang ibu, ia hanya membuka jendela gedik pondokannya, ia bertemu nyata dengsn sang ibunda suatu pertemuan tingkat tinggi pada saat itu tidak banyak diketahui orang lain yang ini sekarang lagi menjadi kecenderungan belajar dari rumah. Disini sang ibu sedang mendidik Ra Mad Halil kala itu adalah menjadi jawaban kebuntuan saat kita terlena dalam alam materialis. Mendidik karakter memang tidak bisa tergantikan oleh IT karena bisa saja dosen yang sedang mengajar dari rumah ia dalam keadaan hadats atau paling tidak dalam kostum yang belum siap sebagaimana standar seorang dosen, demikian juga mahasiswanya enak tiduran dikasur yang empuk sambil belajar online itupun kakinya keatas meja, tentu ini tidak etis, tidak baik bagi kesalehan dan kepribadian serta karakter yang semestinya terbangun-senantiasa harus terawasi.

Demikian filosofi sorban selama kurang lebih 2 bulan ini dari beberapa jemaah sholat ke masjid akibat Covid-19 semua alas karpet untuk sementara di gulung sebagai upaya terhindar dari menulara virus, mereka berduyun-duyun ke masjid dengan sorban yang menyilang di bahu untuk menjadi alas dan sebagian kecil saja menjadi alat penutup kepala. Memang tidak ada keterangan dan hadist tentang pahala memakai sorban dalam sholat yang ada adalah keutamaan menutup kepala. Selama ini sorban, serban, turban, imamah, ghuthrah, syimagh dan istilah lainnya tidak lain adalah budaya Arab, menjadi dibenarkan pemakaian sorban ini bila dikenakan dikepala kendatipun canggung bagi yang belum pernah melaksanakan ibadah haji padahal sebagai penutup kepala dalam sholat menjadi lebih utama daripada sebagai alas bersujud. Pada masa kita belajar tasawwuf tingkat mubatadi’ dalam “thoriqah” biasanya diajarkan bagaimana menjaga pandangan agar tetap seimbang tidak terlalu memandang keatas, atau kebawah apalagi kasamping kanan dan kiri secara liar, ibarat kaca mata kuda agar kuda berlari tetap kedepan ia bisa belok kekiri dan kekanan hanya dengan kendali kusir, tentu ini tidak sedang mempersamakannya dengan seekor kuda, karena beda letak alat pandang kita dengan kuda. Letak alat pandang kita dikaruniakan didepan, betapa Allah menyempurnakan ciptaan pada kita dengan kesempurnaan alat pandang, akal dan budi. Hahikatnya akal kitalah yang terus menerus di belajarkan agar tetap istiqamah dalam fungsinya, sebagaimana layaknya perempuan berkerudung itulah gambaran pengenaan sorban dalam sholat sebagai penutup kepala diatasnya kopyah dan hukumnya mubah saja sedangkan mengikuti Nabi SAW, bernilai kebaikan atau sunnah, sementara pengenaan sorban diluar sholat menurut Imam Albani bernilai syiar bagi kaum muslimin untuk membedakan dengan non muslim dan bernilai etik dalam menjaga dari pandangan yang kurang baik.

Baca juga  Syahrian Abimanyu,  Bangga Berseragam Madura United

Akhiran

Pesan yang dapat kita petik dari peristiwa pandemi Covid-19 sebagai moment revolusi mental dari pola fikir mainstream, hidonist, infulsif adalah; pertama, perilaku  personality of conversion dalam bidang keagamaan dan kepribadian. Signifikansi perilaku ini dapat dilihat dari gerakan solidaritas umat, rasa contiousness atau kesadaran jema’ah masjid untuk berbagi baik itu dipengaruhi oleh suatu pandemic, krisis ataupun moment keagungan Ramadhan sebagai bulan suci bagi berkembangnya ritualitas dan spiritualitas keagamaan umat Islam. Kedua, perilaku adaptive learning and working-from-home professional dalam bidang pendidikan. Perubahan ini dapat dilihat dari kebijakan Pemerintah tentang proses dan edaran belajar di rumah melalui aplikasi berbasis IT atau model tradisional akan merefungsikan peran orang tua dalam hal ini ibu menjadi guru utama (al-ummu madrosah) keluarga bagi anak-anak mereka sendiri dalam mengajarkan aqidah dan pendidikan keluargaan, sementara guru dan para pegawai pemerintah memiliki ruang yang lebih luas memimpin, membimbing dan mengarahkan dari rumah serta dapat mengembangkan profesinya melalui perkembangan era tehnologi informasi berbasis android adalah moment yang tepat dengan segala keterbatasannya[]  Pamekasan, 4  Mei 2020

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan