Antitesis Kesusastraan Indonesia

  • Whatsapp

Oleh: Muakhor Zakaria*

Dunia sastra kini dianggap sesak dengan ketidakpastian dan tantangan besar. Tentu berlebihan jika ada seniman yang berkomentar, bahwa persoalan disrupsi digital adalah biang keladinya. Padahal, tidak sedikit karya-karya sastra generasi milenial yang bermunculan, serta diakses secara masif di ranah publik, justru oleh peran media daring yang dianggap kontroversial.

Memang belum ada media sastra yang menjadi jembatan penghubung dan sanggup mengayomi semua pihak, termasuk antara penulis generasi status quo dan milenial. Akan tetapi, kesanggupan dan keberanian beberapa media untuk menampilkan karya-karya genuine dari generasi milenial patut diacungi jempol. Sebut saja misalnya, Kabar Madura, Radar Mojokerto, Bangka Pos, Singgalang, Solopos, kompas.id, nusantaranews.co, litera.co.id, sastranesia.com hingga NU Online, alif.id dan lain-lain. Mereka seakan berkolaborasi menciptakan orkestra yang merdu nan indah, tanpa menghiraukan selentingan dan gunjingan beberapa seniman yang merasa jengkel. Sementara, mereka sebagai kafilah tetap melangkah maju – tak peduli anjing menggonggong – hingga sanggup menempuh capaian-capaian terbaru yang sulit dibayangkan.

Di dunia pendidikan dan perguruan tinggi, kita mengenal “Kampus Merdeka” yang menjalankan program kolaborasi dan orkestrasi kampus dengan swasta. Kemendikbud-Ristek terbukti mampu menjadi jembatan kampus dengan industri yang selama ini dianggap tidak nyambung. Tetapi kini, mahasiswa ditantang untuk terjun langsung berpraktik di lapangan, menghadapi dunia kerja nyata yang – bagi sebagian mahasiswa elit – boleh jadi dianggap tak seindah lagu-lagu romantis yang mereka bayangkan.

Baru-baru ini, banyak penulis muda dikagetkan oleh kemunculan cerpen “Jejak Langkah Sang Seniman” dan “Noktah Akhir Sang Binatang Jalang” di Kabar Madura (baik cetak maupun online). Kemunculan cerpen itu sebenarnya biasa-biasa saja (bagi saya), namun boleh jadi, bagi banyak seniman yang merasa tengah menikmati dirinya sebagai anak emas sistem masa lalu (status quo) merupakan ancaman serius yang tidak kepalang tanggung. Apalagi, bagi status quo yang cenderung asyik bernostalgia dengan karya-karya masa lalu mereka.

Munculnya penulis milenial

Tingginya animo penulis dan sastrawan milenial untuk turut serta berjibaku, menanggapi dan mengkritik novel Pikiran Orang Indonesia adalah salah satu bukti nyata. Berbagai inovasi bermunculan dan membawa harapan baru bagi kemajuan khazanah kesusastraan Indonesia, seakan membentuk transformasi paradigma tersendiri.

Sangat berlebihan jika ada sinyalemen, bahwa karya-karya milenial seakan menafikan atau mencemooh generasi leluhur mereka yang cenderung melawan “Arus Balik” Pramoedya Ananta Toer. Tetapi saya menilai, bahwa fenomena ini adalah wajar dan lumrah saja, sebagai antitesis yang niscaya, hingga kelak memunculkan jalan tengah sintesis yang mengandung banyak berkah dan rahmat. Banyak generasi milenial yang belum memahami dinamika kesusastraan kita, justru akan disirami keberkahan untuk menyelami filsosofi dan psikologi manusia Indonesia yang super kompleks ini. Sebuah gerakan dan terobosan di tengah minimnya karya sastra berikut apresiasinya, terlebih selentingan sebagian orang tentang adanya karya-karya sastra yang lahir dari pikiran-pikiran tertutup.

Terkait dengan ini, kita masih mengenal sinyalemen, bahwa fenomena sastra antitesis ini tentu akan “mengoyak” kenyamanan status quo. Ya, apa boleh buat. Karena bagaimanapun, dunia sastra sedang membutuhkan antitesis demi memastikan kesusastraan Indonesia mampu menciptakan lompatan, hingga sanggup menggapai jurang ketertinggalan.

Saya pernah mendengar sastrawan senior (dari Banten) mengumpat ketus, bahwa semua itu tak terlepas dari unsur-unsur politis. Okelah kalau begitu. Tapi masalahnya, urusan apa dalam kehidupan ini yang terlepas dan tak ada sangkut-pautnya dengan politik. Bukankah suksesnya sebuah kebijakan – termasuk dalam soal pemerintahan – karena tak terlepas dari terobosan komunikasi politik yang baik?

Terlebih di tengah kebutuhan kolaborasi dan koordinasi intensif dengan unsur dan pihak lain, termasuk dengan budayawan dan sastrawan di daerah lainnya? Lalu, kenapa juga harus uring-uringan? Sebegitunyakah mentalitas sebagian sastrawan kita?

Soal kritik sastra

Tak ada masalah dengan kritik-kritik sastra, termasuk yang menyerang novel Perasaan Orang Banten, baik dari sisi positif maupun negatifnya. Justru hal tersebut perlu digalakkan di sebuah negara demokrasi demi memastikan kemajuan budaya dan peradaban bangsa kita. Yang menjadi masalah, ketika kritik sastra terlontar dari orang-orang yang mengaku “intelektual”, tapi apa yang dikatakannya tanpa ada kejelasan yang mendasar (nirsolusi).

Arah kemajuan sastra kita, termasuk lompatan-lompatan yang diinisiasi generasi milenial seperti Pujiah Lestari, Supadilah, Muhamad Pauji, Chudori Sukra, Eeng Nurhaeni, Noviariesta dan banyak lagi yang lainnya, adalah suatu langkah konkret, yang bagi status quo seakan mengusik stabilitas dan kenyamanan. Apalagi, saat gerakan antitesis itu datang dari barisan anak muda kreatif yang sanggup bekerja secara independen, bagaikan ghostwriters yang tidak kepalang tanggung, menyembul entah dari mana, tahu-tahu menciptakan lompatan menakjubkan yang membuat kepala kita tak henti bergeleng-geleng.

Sastra Indonesia yang “mati suri” selama ini, memang harus digerakkan dengan tenaga superbesar. Perlu adanya kolaborasi dan orkestrasi banyak pihak dengan syarat utama harus menyarungkan ego-ego pribadi, keangkuhan intelektual, termasuk post power syndrome generasi senior yang harus bersikap arif dan legowo dalam menyikapi generasi-generasi muda milenial. Kolaborasi itu diniscayakan jika kita memerlukan energi untuk mengangkat dan menggerakkan kapal besar budaya dan peradaban manusia Indonesia.

Kini, semua mata lebih terbuka betapa seni dan kesusastraan kita masih berada jauh di bawah negara-negara lain. Dan selama ini, belum ada solusi konkret dari campur-tangan pemerintah untuk mengentaskannya. Belum lagi, kualitas pelajar dan mahasiswa jurusan bahasa dan sastra yang belum ketahuan jejak-langkahnya. Tidak jarang mereka terkungkung dalam pakem dan kebiasaan lama, ditambah dengan nostalgia dari sastra kalangan status quo yang seakan berhenti di jalan buntu (stuck in the middle). Akibatnya, hasil yang diperoleh sudah bisa ditebak. Karya sastra yang cenderung mempertahankan status quo, seakan berseberangan dengan karya milenial yang sanggup mendongkrak kualitas sastra mutakhir Indonesia.

Dalam hal apapun – tak terkecuali sastra – jika kita ingin melakukan lompatan perubahan, maka kita harus berani berdiri di luar ring (outside the box) atau membebaskan diri dari bayang-bayang status quo, kecuali jika kita ingin terus-menerus terpuruk dalam ketertinggalan. Untuk itu, dunia sastra benar-benar membutuhkan antitesis demi memastikan kesusastraan Indonesia bangkit dan melakukan lompatan-lompatan yang menakjubkan! 

         *Dosen Perguruan Tinggi La Tansa, Banten, menulis esai dan cerpen di berbagai harian nasional luring dan daring

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *