oleh

Apa Kabar Kasus Beras Oplosan? Ini Kata Kasatreskrim Baru Polres Sumenep

Kabarmadura.id/Sumenep-Kepolisian Resort (Polres) Sumenep belum menetapkan tersangka baru dalam kasus beras oplosan.Penyidik menunggu hasil lab dan pemeriksaan saksi.

Kasatreskrim Polres Sumenep AKP Dhany Rahadian Basuki mengatakan, saat ini masih menunggu dari hasil laboratorium yang masih belum keluar. Saat ini masih pemeriksaan saksi ahli di lapangan.

“Hasil lab-nya masih belum keluar,” katanya, Selasa (7/7/2020).

Dia menjelaskan, meski hasil labnya belum keluar, tersangka berpotensi dijerat dengan penerapan Pasal 62 ayat (1) UU nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen, Pasal 139 UU nomor 18 tahun 2012 tentang pangan dan Pasal 106 UU 7 2014 tentang perdagangan.

“Jika hasil lab selesai, maka kami akan umumkan dan diserahkan pada kejaksaan,” ujarnya.

Diketahui, Polres telah menetapkan Latifa (43) sebagai tersangka sekaligus sebagai pemilik Gudang Yudhatama Art. Latifa megajukan praperadilan saat dirinya masih berstatus tersangka. Akan tetapi, upaya Latifa ditolak oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Sumenep sehingga penetapan status tersangka sah demi hukum.

Tersangka sempat ditahan selama kurang lebih dua bulan karena ada berkas yang tidak lengkap maka dikeluarkan dari tahanan kembali. Sehingga, saat ini masih proses uji laboratorium kemabali.

“Tersangka saat ini tidak dilakukan penahanan. Sebab, berkas perkara belum dinyatakan lengkap atau P21 hingga masa tahanan berakhir,” paparnya.

Polres Sumenep saat ini tetap fokus pada satu tersangka. Pasalnya, berdasarkan hasil pengembangan Korps Bhayangkara, kasus beras oplosan di Gudang UD Yudatama Art hanya difokuskan pada satu tersangka, yakni Latifa.

Dhany mengakui hasil pemeriksaan beras di laboratorium sebenarnya sudah keluar. Namun, khusus untuk Undang-Undang Perlindungan Konsumen dan Perdagangan, Kejari Sumenep masih butuh saksi tambahan dan uji laboratorium pangan untuk melengkapi bukti kasus beras oplosan tersebut.

“Nah itulah yang saat ini sedang ditunggu mas,” paparnya.

Jika sudah diketahui hasil labnya, maka akan koordinasi lagi dengan kejaksaan apakah ada lagi yang mau ditambah atau tidak mengenai dokumen dan bukti-bukti. “Intinya kita masih menunggu lab mas,” ujarnya.

Diketahui sebelumnya, berdasarkan hasil fakta penyidikan, beras oplosan tersebut diperoleh dari kemasan Bulog dari Sidoarjo kemudian dilakukan pencampuran dengan beras lokal atau petani.

Setelah itu beras tersebut disemprot dengan cairan pandan untuk membuat harum, kemudian dilakukan pengisisan dan dikemas seperti ini (BB) “Kami berjanji akan terus dalami hingga ditemukannya hasilnya,” pungkasnya (imd)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

News Feed