Aplikasi Hompimpa; Dorong Pemkab Sumenep Tepat Terbitkan Kebijakan Bidang Kesehatan Masyarakat

  • Whatsapp
(FOTO: KM/DOK) TEROBOSAN: Pemkab Sumenep melakukan inovasi melalui aplikasi Hompimpa. Menunjang Pemkab Sumenep tepat terbitkan kebijakan bidang kesehatan masyarakat.

KABARMADURA.ID, SUMENEP  – Bersamaan dengan launching Call Center 112, Selasa (17/8/2021), Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep meluncukan aplikasi Health Indicator Modules With Appropriate Integrated Methods For Proper Access of Health Information atau disebut Hompimpa.

Bupati Sumenep Achmad Fauzi menerangkan, aplikasi tersebut akan memudahkan tenaga kesehatan (nakes), terutama yang sedang bertugas di semua pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) se-Sumenep.

Menurutnya, setiap pasien yang berobat ke puskesmas, secara otomatis akan terdaftar di aplikasi itu. Fungsinya, nakes yang akan menangani itu bisa mengetahui medical record sang pasien, sehingga mempercepat penanganan, tanpa melakukan pemeriksaan yang lebih panjang lagi.

Petugas di meja registrasi puskesmas cukup memasukkan nomor induk kependudukan (NIK) dari pasien itu, selanjutnya akan muncul rekam medis mengenai penyakitnya.

“Hompimpa adalah aplikasi yang ada di semua puskesmas. Setiap pasien yang terdaftar atau sudah berobat ke puskesmas secara otomatis akan ada medical record-nya. Mau datang ke puskesmas mana saja, sudah mengantongi rekam penyakit dari pasien itu,” terangnya.

Tidak sebatas berfungsi untuk mengetahui medical record, Pemkab Sumenep juga bisa memiliki data rata-rata penyakit di Kota Keris ini.

Dengan data tersebut, bisa mempermudah arah program ke depannya dan tiada kembali kesalahan prioritas program, terutama dalam menangani penyakit di kabupaten yang dipimpinnya itu.

Dengan aplikasi itu, membantu Bupati Fauzi dalam menentukan kebijakan, utamanya  bisa memetakan masa penyakit atau wabah. Misal demam berdarah (DBD) di Sumenep biasa terjadi dalam kurun waktu Agustus hingga September, Pemkab Sumenep akan mulai gencar melakukan penyemprotan sebulan jelang masa itu agar jentiknya sudah bisa dimusnahkan dan meminimalisir angka paparan DBD.

Melalui strategi itu, bupati berusia 42 tahun ini menyampaikan, angka harapan hidup akan tinggi di indikator kesehatan. Dampaknya, indeks pembangunan manusia (IPM) di Sumenep akan meningkat.

Selain itu, bisa meningkatkan pengetahuan warga Sumenep dalam melakukan pencegahan dini penyakit. Kini program itu tetap akan dikembangkan, salah satunya pengambilan nomor antrean di setiap puskesmas.

“Dari data akumulasi penyakit itu, kami bisa breakdown, sehingga menentukan arah program untuk melakukan pencegahan. Tujuannya ke mana, otomatis ke angka harapan hidup yang membuat IPM kami naik,” kata Fauzi. (idy/waw)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *