oleh

APTI Minta Harga dan Serapan Tembakau Petani Diperhatikan Serius

Kabarmadura.id/Sumenep-Dalam rangka menstabilkan harga serapan tembakau di Sumenep yang selama ini dinilai kurang berpihak kepada petani, Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) mendatangi kantor DPRD Sumenep.

Rapat koordinasi antara APTI, Pemerintah Sumenep, pihak pabrikan, dan Komisi II DPRD Sumenep itu menjadi tumpuan petani tembakau di Sumenep supaya tembakau dihargai mahal dan terserap semua.

Ketua APTI Sumenep KH Thalabuddin menyampaikan, ada tiga maksud yang dibahas dengan sejumlah elemen berkenaan dengan harga dan penyerapan tembakau di Sumemep.

“Pada koordinasi ini, ada dari pertanian, gapoktan, perizinan, pabrikan, dan Komisi ll DPRD Sumenep. Kami menyepakati beberapa poin yang urgen dalam meningkatkan harga tembakau, terutama untuk petani di Sumenep,” katanya, Senin (24/8).

Dalam rapat koordinasi tersebut, yang diminta untuk disepakati di antaranya adalah waktu pembukaan pabrikan untuk menyerap tembakau petani, kebutuhan kuota tembakau yang akan diserap pabrikan, dan patokan harga yang disesuaikan dengan kalkulasi biaya produksi.

Dari beberapa ketentuan tersebut, dapat disepakati di antaranya pabrikan akan mulai beroperasi pada tanggal 1 September mendatang, sementara untuk harga sesuai kalkulasi pihaknya menginginkan di atas Rp45.250 per kilogram.

“Kami mempunyai hitungan-hitungan patokan harga, tahun lalu Rp41,250 per kilogram. Sementara tahun ini kami minta minimal Rp45.250 per kilogramnya. Maka harga pembelian tembakau petani harus di atas itu. Dan itu sudah berdasarkan monitoring dengan beberapa elemen yang menanyakan langsung ke petani,” paparnya.

Sementara untuk kuota yang dibutuhkan pabrikan, Wismilak 20 ton, Gudang Garam 15.000 ton, dan Djarum 9.000 ton untuk wilayah Madura. Sementara produksi tembakau untuk Sumenep tahun ini diperkirakan mencapai 6.000 ton.

“Sehingga kami masih berharap ada tambahan kuota nanti. Sebab misalnya 9.000 ton yang akan diserap Djarum itu se-Madura, kalau dibagi tiga kabupaten, kami masih punya 1.500 ton yang tidak terserap nanti,” ungkapnya.

Menanggapi hal itu, Ketua Komisi II DPRD Sumenep H Subaidi menyampaikan, mengaku siap berkoordinasi dengan pabrikan untuk menstabilkan harga tembakau di Sumenep.

“Makanya rapat koordinasi ini memang melibatkan juga dari pabrikan, sehingga nantinya kami akan bersama-sama memperjuangkan harga dan penyerapan tembakau. Kami tidak butuh regulasi, regulasi bisa diakali, kami butuh nurani untuk berpihak kepada petani,” pungkasnya. (ara/ong)

Komentar

News Feed