oleh

AQ: Kebanggaan Timbulkan Cinta

KABARMADURA.ID – “Sepakbola itu pemersatu. Kelemahan negeri ini adalah tentang persatuan. Suatu saat, saya menginginkan sepakbola ini menjadi alat persatuan yang bagus, untuk menyatukan dari Sabang sampai Meraoke.”

Demikian penegasan Presiden Klub Madura United Dr. Achsanul Qosasi. Pimpinan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI tersebut menegaskan, ada satu syarat guna menguatkan persatuan lewat sepakbola.

“Syaratnya cuma satu; perbaiki sistemnya, bangun ekosistemnya mulai sekarang, urus dengan baik, dan kita harus menjadi kebanggaan. Karena kebanggaan lah yang menimbulkan cinta. Tempatkan sepakbola pada tempatnya. Marwah sepakbola itu sudah ada. Jangan diganggu. Ayo kita jadikan sepakbola sebagai alat persatuan!” urai pria asal Desa Daramista, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep itu.

Tokoh nasional yang akrab disapa AQ tersebut mengungkapkan kisah menarik sewaktu AFF 2010 di Gelora Bung Karno: tidak ada strata sosial, semua sama. Menangis dan bergembira di saat yang sama. Kita Indonesia. Kalah saat melawan Malaysia di final, kita terima. Mayoritas masyarakat Indonesia menerima kekalahan.

“Namun, yang mereka lihat bukan kekalahan. Tapi, proses menuju final itu luar biasa membanggakan. Menurut saya, itu persatuan yang perlu kita pupuk secara berkesinambungan. Siapa pun pemimpin di negeri ini, jangan pernah menganaktirikan sepakbola. Dia harus concern betul, bahwa sepakbola ini alat pemersatu bangsa,” urai Ketua Yayasan Qudsiyah Bahauddin Mudhary yang menaungi Universitas Bahauddin Mudhary (UNIBA) Madura itu.

Komitmen dan kecintaan AQ ke sepakbola, sudah diakui publik dunia. Tiap kali menjalani tugas negara, AQ pasti mengunjungi stadion dan klub di negara yang didatanginya. Terdapat stadion yang paling magis bagi AQ. Yakni, markasnya Liverpoll; Anfield.

“Saya tidak perlu menjelaskan kemagisan stadion tersebut. Jika ingin mengetahuinya, datangilah Anfield,” terang fans berat Liverpool FC tersebut.

“Kegilaan” AQ ke sepakbola tampaknya tidak ada yang bisa menandinginya. Saat ini. Di negeri ini. Tiap Piala Dunia, AQ hampir pasti selalu menghadirinya. Di Afrika Selatan. Di Korea. Dan setiap 4 tahun Piala Dunia, ada AQ di situ. Uniknya, AQ tidak datang di waktu final atau semi final.

“Saya datang saat babak penyisihan. Karena di situlah semua negara masih berkumpul. Ramai di situ. Termasuk ke Moskow, saya pun datang ke sana. Saya melihat euforianya,” terang AQ.

Menurut AQ, sepakbola tidak hanya 45 x 2 menit. Namun, euforianya luar biasa. Berkali-kali AQ menegaskan, dari itulah muncul dan terikat kuat persatuan; ada kebersamaan, terdapat kepedulian. Betul-betul terjadi.

“Sepakbola memang segalanya,” tegas AQ.

Apa yang dipunya dan dialami AQ terkait sepakbola, kini diterjemahkan ke buku terbarunya: Achsanul Qosasi; 10.01 Cerita Bola. AQ pelan-pelan menyusun buku tersebut. Tidak terburu-buru.

“Sehingga, buku tersebut betul-betul membuat orang membaca sembari membayangkan apa yang dilakukan saya,” tandasnya. (nam)

 

Komentar

News Feed