oleh

Arah Pengembangan Budaya Membingungkan

Kabarmadura.idBANGKALAN-Kegiatan pengembangan kebudayaan di Bangkalan, dinilai hanya berkutat pada urusan cagar budaya. Bahkan, lebih banyak menjalanjan program atau anggaran hanya untuk kegiatan konservasi secara fisik terhadap cagar-cagar budaya.

Anggota Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bangkalan Munari mengatakan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bangkalan harus menekankan program pada pengembangan sejarah dan tradisi di Bangkalan yang mulai ditinggalkan oleh masyarakatnya, bukan sekedar konservasi fisik.

Dengan begitu, menurutnya, Dispudpar kurang memahami kebudayaan itu sendiri. Padahal terdapat beberapa tradisi yang menurutny perlu menjadi perhatian khusus. Yang dimaksud Munari adalah, terdapat beberapa orang, masih menjalankan tradisi lama, namun jumlahnya kecil dan hampir punah lantaran tidak ada generasi penerusnya.

Selain sudah jarang ditradisikan, juga karena tidak pernah disentuh perhatian pemerintah dalam rangka pelestarian.

“Cagar budaya yang perlu dikembangkan lagi yakni sejarahnya yang paling penting bukan konservasi atau pugarnya. Ada 3 tradisi yang mulai dilupakan oleh masyarakat, yakni Macapat, Tari Topeng dan tradisi 1 Suro.,” kataya saat ditemui di kantor DPRD Bangkalan, Selasa (7/5).

Dari evaluasi yang telah dilakukannya bersama Dispudpar, tiga bulan terakhir, Dispudpar tidak ada serapan sama sekali. Sehingga dirinya menyebut, Disbudpar tidak memahami kebudayaannya sendiri di Bangkalan.

“Ini yang mungkin belum tersentuh. Dari evaluasi kita per tiga bulan kemarin, belum ada serapan, masih nol. Saya takut orang dinas kebudayaan itu kurang memahami, jadi tidak diperhatikan,” katanya.

Sementara itu, anggota DPRD Komisi D lainnya bernama Muhajjir mengatakan, untuk mengembangkan kebudayaan tersebut haruslah ada perkenalan kepada masyarakat. Lelaki yang biasa disapa Abah ini menambahkan, Disbudpar harus banyak mengenalkan tradisi itu ke generasi baru.

“Promosikan yang seperti ini ke anak cucu kita nantinya. Biar mereka tahu. Macapat atau mamcah, tari topeng, dan tradisi bulan Suro ini punya Bangkalan, itu punya kita,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Dispudpar Hendra Gema mengungkapkan, saat ini, untuk mengembangkan kebudayaan harus sesuai dengan skala prioritas. Untuk tahun ini, dirinya akan mengadakan pembentukan tim ahli cagar budaya (TACB). Kegiatan itu akan menyedot anggaran yang tidak sedikit, sekitar Rp200 juta. Sebab, dirinya ingin cagar budaya terkonservasi dan dipugar.

“Sementara kami konservasi dan pugar, fokus pada 6 yang sudah ada surat keputusan (SK) resmi, yakni Ratu Ebuh, Makam Agung Arosbaya, Makam Pangeran Sarif Arosbaya, Museum Cakraningrat, Makam Agung Blega, dan Benteng Efprin,” tuturnya.

Terkait skala prioritas pengembangan budaya lainnya, tahun ini Disbudpar akan mempromosikan budaya.

“Skala prioritas kami, yakni mindset masyarakat dan para pelaku pegiat. Jadi kita skala prioritas event budaya yang ada di Bangkalan sendiri, dengan mempromosikan kebudayaannya,” tandasnya. (ina/waw)

Komentar

News Feed