oleh

ARB Pertanyakan Longgarnya Izin yang Mengancam Lingkungan Sumenep

KABARMADURA.ID, Sumenep –  Usia Kabupaten Sumenep yang semakin dewasa,masih dihiasi dengan perampasan ruang hidup dan pengrusakan lingkungan. Salah satunya, tambak ilegal yang saat ini terkesan tidak tertangani dan berdampak pada tatanan lingkungan.

IMAM MAHDI, SUMENEP

Ditengah sengatan terik matahari, sekira 30 orang menggelar mimbar rakyat secara long march, Selasa (3/11/2020). Panasnya kemarau sekitar pukul 10.00 itu, nampak tidak terasa bagi mereka.

Sekelompok pemuda atas nama  Aliansi Rakyat Bergerak (ARB) itu, long march dari Taman Bunga menuju Jalan Trunojoyo lalu menggelar mimbar rakyat di perempatan utara Masjid Agung, Sumenep.

Teriakan-teriakanorasi terus dilontarkan. Satu per satu dari mereka bergiliran menyuarakan protes atas masifnya kerusakan lingkungan di Sumenep. Aksi massa berbusana serba hitam itu,dijaga ketat oleh pihak keamanan.

“751 tahun bukan umur yang muda bagi sebuah kota yang katanya Adipura. Namun, kenyataannya masih banyak persoalan yang harus diselasaiakan,” kata koordinasi aksi ARB, Moh Faiq, Selasa (3/11/2020).

Faiq berulangkali meneriakkan masifnya alih fungsi lahan atau perampasan ruang hidup yang terjadi selama ini.Mereka heran, pengrusakan lingkungan yanag seharusnya menjadi ancaman bagi Kabupaten Sumenep, justru terkesan dilonggarkan jalannya.

“Problem kerakyatan sangat nampak dirasakan, terutama bagi masyarakat pinggiran yang nasibnya dipertaruhkan,” teriaknya.

Dia mencontohkan, menjamurnya pembukaan tambak di pesisir Sumenep yang semena-mena tanpa memikirkan masa depan. Masalah terbaru terjadi di Pantai Lombang. Di pantai yang dikenal cantik ini, sudah dicemari limbah tambak udang. Kondisi serupa juga menimpa Pantai Badur dan lainnya.

“Keadaan semakin diperparah ketika posisi birokrasi hanya menjadi kaki tangan para pemodal pemilik kepentingan,” ucapnya

Menurutnya, demokrasi yang menjunjung tinggi ketaatan dan penegakan hukum, serta keterwakilan yang menitikberatkan pada kepentingan rakyat, dinilai sangat pasif alias tidak progresif.

“Sumenep memang cantik, banyak  investorterpikat lalu mengikat rakyat,” tandasnya.

Menurutnya, kedaulatan rakyat tidak lagi dipikirkan dan jadi sebatas angan. Padahal, seharusnya tugas dari pemerintah mengedukasi masyarakat.

“Jangan sampai negara hadir sebagai alat perjuangan yang lemah,” tandasnya.

Aktivis PMII itu jugaingin masyarakat memahami dan mengetahui keadaan Sumenep saat ini. Harapannya tidak menjadi tumbal kepentinagan oleh para investor di Sumenep.

“Hentikan perampasan ruang hidup dan pengrusakan lingkungan.Pemkab selayaknya bergegas menangani aktivitas kegiatan yang akan mencemarkan lingkungan itu,” tandasnya.

Selain berorasi, para aktivis lingkungan itu juga membagikan kertas putih kepada pengguna jalan. Kertas putih itu,sebagai lambang perlawanan terhadap korporat. Sebab masyarakat juga ingin bahagia dan sejahtera dengan tenang dan sehat.

Mimbar rakyat itu dilakukan hingga sekitar pukul 12.30.Sebelum untuk pulang kerumah masing-masing,meraka berjanji akan kembali bersuara lantang jika aksinya itu tidak ditindaklanjuti.

“Kami kecewa dengan pemerintah yang saat ini tidak prorakyat,” pungkasnya.(imd/waw)

 

 

 

Komentar

News Feed