oleh

Asmaraloka

Cerpen : Nanda Dyani Amilla

Kamu yang berdiri di depan pintu, tak berani mengetuk untuk masuk. Kamu yang pernah hilang, kemudian kembali datang. Kamu yang dulu kusayang, kemudian kulupakan. Seandainya kamu tahu, aku pernah melalui hari-hari berat dengan ketidakpedulianmu. Aku pernah begitu mencintai tapi kamu selalu menyakiti. Aku pernah berharap, namun kau patahkan kerap.

Aku pernah mendewakanmu dalam doa. Aku pernah memujamu dalam semua tulisan-tulisanku. Aku menamaimu sebagai sesuatu paling indah. Nyatanya, mencintai diam-diam tidak selalu mudah. Memberi perhatian agar tak ketahuan, juga pernah kulakukan. Tapi kamu selalu membagi jarak, memberi tapal batas yang sulit aku lewati.

Sekarang kamu datang membawa bongkahan-bongkahan cerita masa lalu. Berharap aku bisa menerimamu kembali. Ketahuilah, kehadiranmu hanya membangkitkan kesakitanku. Aku senang kamu datang. Aku senang mata kita kembali bertabrakan. Aku senang kamu perhatian. Melakukan hal-hal yang kerapkali melibatkan kehadiranku.

Namun semua tak lagi sama. Telah ada seseorang yang menjadi pelabuhanku. Telah ada seseorang yang mengobati lukaku. Merawat cintaku hingga dia terus bertumbuh. Lalu, kamu datang untuk apa? Katamu, kamu mencintaiku sejak dulu. Katamu, masa SMA dulu hanya jerat bagimu. Jika perempuan itu tak kau cintai, tentu kamu sudah meresponku. Bukan begitu?

Tapi yang kamu lakukan justru sebaliknya. Beritahu aku, bentuk perhatian yang mana yang tak kuberi padamu? Segala cara aku lakukan untuk mendapatkan matamu. Tapi kamu enggan menoleh padaku. Aku menyadari satu hal saat itu, bahwa sudah saatnya aku menyerah. Tiga tahun lamanya, aku memupuk luka atas harapan tentangmu. Sia-sia, kamu tetap mengabaikan.

Kini, kamu datang dengan sebongkah penyesalan. Katamu, kamu mencintaiku. Ucapan yang ingin sekali kudengar bertahun-tahun dulu. Katamu, kamu mencariku. Mencari kontakku agar bisa tahu kabarku. Memanipulasi semua hingga akhirnya takdir mempertemukan kita kembali. Membaca wajahmu saja aku sudah tak mau. Tapi Tuhan bilang aku harus mau.

Seandainya kamu datang lebih dulu. Seandainya kita lebih cepat bertemu. Seandainya aku belum bersama orang lain. Tentu semua tak akan jadi serumit ini. Kamu meminta cinta yang sudah jadi milik orang lain. Sedangkan aku terkukung dalam perasaan yang aku sendiri tak tahu menentukannya. Kehadiranmu membuat rumit segalanya.

Bisakah kamu pergi saja? Bisakah kamu tak usah kembali lagi? Bisakah kamu enyah dari seluruh kehidupanku? Kamu membangkitkan luka yang telah kuobati seorang diri. Kamu ingin mengoreknya lagi? Dengan perhatian yang tidak lagi kuharapkan atau dengan cinta yang tidak lagi kuinginkan?

Berhenti mengatakan kau menyayangiku. Tugasmu sudah digantikan orang lain. Orang yang bahkan dulu tak kukenali. Kamu tak perlu lagi mengkhawatirkan segala tentangku. Meski aku bahagia akhirnya tahu semua perasaanmu. Tapi semua tak sama, kita tidak berada di masa yang sama. Kamu datang terlambat. Enam tahun sudah cukup bisa mematikan perasaanku padamu.

“Kita berada di waktu yang salah,” katamu lewat seberang telepon. Aku tahu arah pembicaraan ini. Aku pun tahu yang akan dibahas hanya seputar penyesalanmu saja. Tapi aku coba dengarkan. Aku masih menganggapmu sebagai salah satu teman terbaik, meski porsi lukaku selalu perihalkan kamu.

“Maksudnya apa?” aku merespon ucapanmu. “Kamu mencintaiku dulu, tapi aku sedang bersama orang lain. Aku mencintaimu sekarang, dan kamu pun sedang bersama yang lain,” Kudengar helaan napasmu berat. Dalam hati aku meringis, klasik sekali. Bukankah dulu kamu sengaja menutup mata atas segala hal tentangku?

“Aku ingin mengisi gelas. Tapi ingin kupastikan juga bahwa gelasnya tidak bocor,” katamu lagi. “Apa kamu masih bersama dia?” tanyamu beruntun. Diam aku. Kubiarkan kamu bermain dengan perasaanmu. Hey, kamu sungguh beruntung. Bisa mengatakan segalanya tanpa harus memendam lama.

Tentu tidak akan menjadi sakit yang berkepanjangan untukmu. Meski aku belum juga menjawab semua pertanyaan itu. “Aku malas bahas itu,” sahutku kemudian. Diam juga kamu. Beberapa detik sepi menggantung. Kamu tahu, di perasaan terdalamku, kamu itu spesial. Kamu cinta pertama yang kuat sekali kudoakan. Cinta pertama yang membuat aku lebih baik. Meski ujungnya berakhir buruk.

Kadang, di malam-malam sepi, saat dengkur manusia bertebaran di udara. Aku sering bermonolog dengan Tuhan. Menanyakan perihal kamu yang tiba-tiba muncul kembali di hidupku. Mengapa Dia mempertemukan kita lagi? Padahal Dia tahu, aku pernah sangat terluka saat itu. Cintaku bertepuk sebelah tangan. Meski katamu tidak benar.

“Aku menyukaimu sejak dulu. Sejak bersama perempuan itu. Tapi aku sadar dengan siapa aku berkomitmen lebih dulu. Teman-teman juga tahu pada siapa aku melabuhkan hati lebih dulu. Jadi aku simpan sendiri perasaanku. Tak kutunjukkan juga padamu,” terangmu. Benarkah? Hatiku bilang tidak begitu. Kamu memilih dia sebab dia lebih cantik dari aku. Dia lebih baik dan lebih segalanya. Iya, kan?

Katamu tidak. Tapi hatiku bersikeras mengatakan itu benar. Sudahlah, tidak ada lagi gunanya kita membahas perihal rasa. Kamu terus berusaha meyakinkanku soal itu. Sedangkan aku jutaan kali menyanggah segalanya di dalam hati. “Kalau soal lebih dulu, dia yang sekarang telah lebih dulu menjadi kekasihku. Bagaimana? Apa kau terima?” tanyaku kemudian. Sengaja menyudutkanmu.

Kamu diam. Lumayan lama. Untuk kemudian kamu berkata, “Aku akan menunggu.” Kalimat apa itu? Menunggu untuk apa? Menunggu aku menyudahi hubunganku dan memilih menjadi kekasihmu? Nyatanya, hari-hariku diisi perhatianmu. Teleponku diisi dering darimu. Aku menanggapi semua karena kamu teman baikku. Tidak mudah, menolak percakapanmu hanya karena persoalan rasa. Bukankah kita sudah sama-sama dewasa?

Bagaimana? Sekarang kamu merasakannya, kan? Mencintai orang yang telah berkekasih? Mencintai tanpa dicintai kembali. Memperhatikan tanpa diperhatikan. Bagaimana rasanya jadi aku seperti dulu? Sakit, bukan? Aku hanya merasa skenario Tuhan sedang bekerja. Doa-doaku juga tengah bermuara. Menjelma keajaiban yang melingkupi takdir kita.

Lepaskanlah. Sebab bersama bukan lagi keinginan kita. Cukup pada batas aku mengetahui perasaanmu. Kau harus mengerti, bahwa ada hal-hal yang tak bisa dipaksakan. Ada hal-hal yang harus kau maklumi. Untuk kemudian memetik bahagia dengan jiwa yang lain. Bukan aku tak berperasaan, kadang aku masih bisa merasakan getaran saat mata kita bertemu.

Tentu saja itu wajar. Bahkan di nada ucapanku saja masih sering terselip grogi. Wajar, sebab dulu kau adalah rumah untuk segala rasa. Kau adalah lelaki paling didamba. Tapi tidak untuk sekarang, keadaan sudah berputar. Bumi sudah berjalan. Kamu bukan lagi rotasi pijakan. Jangan khawatir, di luar sana tentu akan ada perempuan yang mencintaimu lebih hebat daripada aku. Tentu akan ada yang mengasihimu lebih dalam daripada aku. Tentu akan ada yang kau suka juga selain daripada aku.

Semua hanya perihal waktu. Kita hanya perlu sembuh. Mengobati perasaan yang tengah mendalam sejak dulu. Aku juga pernah berada di lautan rasa yang biru. Galau setiap waktu. Sedih terus menerus. Tapi satu hal yang kamu harus tahu, jangan lagi sia-siakan orang yang tulus mencintaimu. Sebab kita tidak tahu, bagaimana ujung takdir Tuhan bekerja.

(Penulis adalah ALUMNI FKIP UMSU, Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 2018)

Komentar

News Feed