oleh

Ayah dan Sepatu yang Tak Terbeli

Jam 04.00. suara ayam jantan terdengar samar dari kejauhan. Seperti melantunkan gema takbir ke seluruh alam. Dentingan jatuhnya embun dari pinggiran genteng rumah seperti mewekeri waktu malam yang mulai beranjak fajar. Sebentar lagi adzan subuh segera dikumandangkan masjid sebelah yang berjarak seratus meter dari rumah. Pak tarun membangunkan anaknya yang masih terlelap itu. Mengajaknya solat berjamaah di masjid. Sedangkan Maryani istrinya pak Tarun, hanya bisa solat di rumah saja, diatas kursi roda. Kakinya lumpuh sebab celakaan yang terjadi beberapa tahun yang lalu.

Adzan pun dikumandangkan. Pak Tarun berangkat ke masjid yang tak jauh dari rumah bersama anaknya itu, yang sebentar lagi mau lulus dari kelas tiga SMP. Arul namanya.

Semburat cahaya matahari sudah mulai menampakkan diri dari timur. Meskipun persawahan yang terletak di perbatasan kota Jogja sedikit, tidak sampai hektaran, udara pagi masih segar untuk dihirup. Pak Tarun yang kerjanya serabutan, yaitu mengumpulkan sampah-sampah yang ada di setiap rumah-rumah. Pak Tarunlah yang tiap harinya ngangkut sampah-sampah itu  dengan gerobak besar seperti bak pick up yang ia tarik tiap harinya, hanya untuk biaya hidup keluargnya terutama menyekolahkan anaknya, Arul.

Jam 04.50. sebelum berangkat, pak Tarun menikmati teh hangat buatan Maryani.

“Pak…” panggil Maryani sembari menatap lantai rumah. Bengong.

“Ya, buk, gimana?” jawab pak Tarun sembari meletakkan teh hangatnya. “loh, kok malah bengong, Buk, ada apa?

“Sepatu Arul sudah rusak, Pak. Sudah tiga tahun ini nggak diganti-ganti. Dan, dia sudah mau lulus lo, Pak. Bapak kapan mau belikan Arul Sepatu baru?”

“Emm…” Pak Tarun mulai mikir sejenak. Pikirannya menjalar kemana-mana, semabari kedua tangannya mengusap-ngusap kedua pahanya itu. “Tenang, nanti Bapak pasti belikan, Buk. Dari kemaren-kemaren uangnya habis buat bayar hutang ke haji Samsul tetangga sebelah itu. Dan juga, habis karena buat sehari-hari kita to,” jawabnya agak santai. Sesekali tangan kirinya merangkul tangan kanan kiri istrinya. Dan kemudian tersenyum datar. Sedangkan Arul yang ada di kamarnya, sedikit mendengar percakapan Ibu-Bapaknya diluar. Yang hanya terpisah dengan kamar Ibunya antara kamar Arul dan tempat perbincangan mereka berdua. Padahal, di setiap gajian, pak Tarun selalu menyisihkan uangnya hanya untuk membelikan sepatu Arul, dan akan dikasihkan dihari kelulusanya nanti.

“Ya sudah, Buk, Bapak berangkat dulu.” Pak Tarun pun beranjak dari tempar duduknya, dan kemudian menghampiri Arul yang ada dikamarnya.

“Rul, Bapak berangkat dulu ya. Belajarlah dengan baik. Jadilah orang-orang yang sukses. jangan malas belajar. Jangan jadi seperti Bapak ya.” Arul hanya manggut-manggut. Kemudian Pak Tarun pergi mengambil sampah-sampah yang ada di tiap-tiap rumah, tubuhnya hilang dari bibir pintu kamar Arul.

Pernah sekali pak Tarun marah kepada Arul, dengan kemarahan itulah penyakit jantungnya kumat lagi . Sebab Arul mau berhenti sekolah. Karena ia tahu, Bapaknya cuma bekerja memungut sampah di tiap-tiap rumah tetangga. Dan ibunya, yang hanya duduk di kursi sebab lumpuh yang dialaminya. Saat itu, Haji Samsul datang ke rumahnya untuk menagih hutang yang sudah satu tahun belum lunas.

Heh..!”Bentak pak Tarun  kepada Arul saat ia tidak mau melanjutkan sekolahnya. “Mau jadi apa kamu, hah?” Tanyanya geram. Arul hanya duduk merunduk meratapinya. Saat itu juga,  nafas pak Tarun mulai sesak. Mendadak penyakitnya mulai kambuh lagi. Tidak terlalu parah. Arul segera memegang tangan Bapaknya yang didekapkan ke dadanya saat mau jatuh ke lantai, tapi pak Tarun segera menghempas tangan Arul. Marah. Arul pun terjatuh. pak Tarun kemudian pergi meniggalkan Arul dalam keadaan menahan dadanya itu.

***

Asap kenalpot sudah menyebar di lorong-lorong ber-aspal. Terik panas hari sudah mulai menyengat ke tubuh pak Tarun. Itu menunjukkan jam sudah pukul 09-00. Entah kenapa, Pak Tarun agak lesu hari ini, dan berniat pulang sekalipun pekerjaannya belum selesai.

Esoknya, pak Tarun melakukan aktifitasnya sebagaiman biasa; membangunkan Arul untuk melaksanakan solat jama’ah di masjid yang tak jauh dari rumah, dan kemudian pergi memungut sampah di tiap-tiap rumah tetangga dan membuangnya di pusat Tempat Pembuangan Sampah di pinggir Kota, untuk kebutuhan hidup sehari-hari, bayar hutang, dan untuk kebutuhan sekolah si Arul. Tapi sayang, uang hasil kerjanya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, bayar hutang walau masih nyicil, dan juga untuk kebutuhan sekolah Arul. Kira-kira kurang lebih dua bulan lagi Arul akan lulus dari sekolahnya, Sekolah Menengah Pertama. Terkadang jika terdesak akan kebutuhan sehari-harinya, pak Tarun memakai uang tabungannya yang disisikan untuk membelikan sepatu baru Arul. Tiap kali Arul lewat di depan kamar bapakanya, ia sering memergoki bapaknya sedang menatap secarik kertas semacam koran yang dipegangnya dengan mata berkaca-kaca, yang entah Arul sendiri tidak tahu isinya apa di kertas itu.

Karena Arul penasaran dengan kertas yang dipegang Bapaknya, Arul memutuskan untuk bertanya langsung. “Pak, itu kertas apa ya, kok kelihatannya Bapak sedih begitu?”

Pak Tarun langsung melipat kertas itu saat Arul bertanya di depan pintu kamar bapaknya. “ Oh, bukan apa-apa, kertas biasa kok,” jawabnya,

“Ooh…” Arul pun meninggalkan kamar itu dengan penuh tanda tanya.

***

Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Bulan semakin meninggi, menunjukkan malam sudah semakin Tua. Sudah beberapa hari ini penyakit pak Tarun sering kambuh. Dan sudah lima hari ini pak Tarun hanya berbaring di dalam kamarnya.

Klontang……” Suara termos jatuh dari arah kamar pak Tarun. Bergegas Arul keluar dari kamarnya yang hendak mengerjakan tugas akhir sekolahnya saat itu. kemudain disusul Ibunya yang terbangun akan suara termos jatuh. Jantung pak Tarun kumat lagi saat hendak menuangkan air ke gelas.

“Bapak minta maaf ya, Nak. Bapak belum bisa membelikanmu sepatu baru sampai saat ini,” nafas pak Tarun mulai tersengal. Arul hanya menggelengkan kepala. Sepasang matanya berkaca-kaca. Malam semakin hening. Pak Tarun pun sudah tiada. Tangis pun pecah di malam itu.

***

Ke esokan harinya, pak Tarun dimakamkan yang tak begitu jauh dari rumahnya. Semua warga pulang kerumah masing-masing begitu juga dengan Arul dan Ibunya.

Di hari itu juga, Arul membereskan kamar Bapaknya. Dan kebetulan menemukan tabungan bapaknya. Sepasang mata Arul kembali berkaca-kaca. Saat menemukan secarik kertas didalamnya, bergambarkan sepasang sepatu sekolah.

Hari kelusan sudah tiba, sepasang mata Arul kembali berkaca-kaca. Saat melihat gambar sepasang sepatu itu.

 

BIODATA

Nama Penulis, Faidi Anwar, lahir beberapa tahun silam di Kabupaten Sumenep Madura, dan sekarang bertempat tinggal di Sapen GK I/438, Demangan DIY. Saat ini ia sedang melanjutkan pendidkannya di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Fakultas Syari’ah dan Hukum, prodi HukumTata Negara.

 

Komentar

News Feed