Ayu Dwi, Santriwati yang Sadar Pentingnya Relasi, Bisa Kuliah Sambil Bisnis

  • Whatsapp
(KM/ISTIMEWA) AYU DWI: Perempuan mandiri biaya kuliah serta kebutuhan hidup tidak mau bergantung kepada kedua orangtuanya.

Kabarmadura.id/Bangkalan-Mengenal Ayu Dwi gadis desa asal Kebun, Kecamat Kamal, cukuplah mudah. Perempuan cantik jelita ini, selain dikenal sebagai mahasiswi mandiri dan suka bisnis, juga dikenal sebagai perempuan ramah yang berlatar belakang santri.

MOH SAED, KAMAL

Bacaan Lainnya

Ayu Dwi lahir di Bangkalan, 15 Mei 1998, meski menjadi santriwati di salah satu Pondok Pesantren Al Khatibiyah di Madura Jawa Timur, tidak membuat dirinya surut untuk menggeluti dunia bisnis.

Setelah menjalani penggemblengan studi 6 tahun di pondok pesantren, berbekal ilmu pendidikan Islam, dirinya dihadapkan dengan transisi perkembangan zaman yang membuat diri menuju kedewasaan.

Enam tahun bukanlah waktu yang singkat, selama menjalani pendidikan Islam di pondok pesantren, suka duka sering kali dijumpai.

Tuntuntan untuk belajar mandiri menjadi syarat yang umum, perpisahan sementara dengan keluarga menjadi kenyataan yang pahit, waktu bermain bersama teman sebaya terbatas, bercengkrama dengan luasnya dunia terhalang.

Kehidupan 180 derajat telah berubah. Itu bagian dari pengorbanan yang akan terbayar lunas dengan kegembiraan keceriaan sewaktu datang masa liburan.

Anak bungsu dari 4 bersaudara ini sangat gemar dengan permainan olah raga yang sering dimainkan kaum laki-laki, seperti sepak bola.  Ayu pertama mengenal dunia pendidikan di bangku sekolah dasar pada tahun 2004, di SDN Kebun 2, Kamal.

Setamat sekolah dasar (SD), dia lansung menawarkan diri kepada orang tua untuk melanjutkan pendidikan di pesantren, menyicipi dunia pesantren. Pada tahun 2011 masuk di MTs sampai lulus MA  pada tahun 2016.

Dari sanalah dia banyak kenal dengan teman-teman lain daerah atau satu daerah dengan berbagai karakter orang berbeda-beda. Relasi tersebut disambut baik. Karena dirinya senang dengan dunia bisnis, setelah menyelesaikan studinya di pesantren, melanjutkam studi di kampus ternama di surabaya, Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Selama menjalani studi di kampus, Dwi tidak memutus komunikasi dan silaturhami dengan teman-temannya, terutama yang masih di pondok.

“Saya melihat ada kesempatan dan peluang, melihat pakaian menjadi salah satu tren kebutuhan primer untuk teman santriwati, saya merasa dalam hati terpanggil untuk menyediakan kebutuhan mereka,” ucap Dwi memulai cerita sambil membubuhi senyuman manis.

Secara umum, santriwati tidak boleh keluar dari area pondok, terkecuali ada sesuatu yang mendesak seperti sakit. Bagi perempuan berusia 22 tahun itu, menilai bahwa menjadi perempuan dewasa itu bagaimana caranya tidak menggantungkan diri kepada orang tua. Lalu bagaimana sikap kita menjaga silaturahmi dengan orang yang pernah dikenal.

“Selama menjalani studi di bangku kuliah, dalam fikiran terbesit untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah dengan cara berbisnis. Dikarenakan saya hidup di Kota Metropolis (Surabaya, red) dengan segala jenis kebutuhan hidup tersedia, saya mencoba untuk memangkas uang saku untuk dijadikan modal kulakan. Dengan modal seadanya saya dapat membeli baju kemeja serta kaos untuk dijual kembali kepada tema,” ungkapnya.

Dirinya mengakui bahwa tidak akan bisa hidup dengan menggantungkan diri kepada orang tua selamanya. Maka dari itu, harus ada cara alternatif untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah.

Dalam situasi kondisi saat ini, ia menilai orientasi pendidikan bagi dirinya untuk berimotivasi untuk menjadi pembisnis.

“Keuntungan yang saya dapatkan terbilang lumayan, bisa membeli sesuatu yang diiginkan, saya juga bisa lulus kuliah dengan uang yang saya kumpulkan, walau terkadang nafas tersendak sebab harus meminilalisir pengeluaran yang di anggap tidak penting ” tambahnya.

Awal mula menjadi pembisnis pernah ditertawakan oleh orang-orang di sekitar, sebab bisnis yang dijalaninya tidak akan pernah merubah hidupnya. Namun, hal itu terjawab dengan sendirinya setelah dirinya menyelesaikan kuliah dengan tidak pernah menerima sepeser pun uang jajan dari kedua orangtuanya.

Sampai saat ini ia masih menggeluti bisnis jualan baju kemeja dan kaos, dirinya masih terus memikirkan dan bermimpi untuk menjadi perempuan yang lebih produktif lagi, hingga ia dapat membuka sebuah “clothing store”.

“Semoga bisnis jualan  baju ini bisa semakin berkembang, minimalnya punya toko pakaian sendiri,” harapan Dwi sambil mengakhiri ceritanya. (rul/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *