Bagaimana ketika aku mencintai laki-laki yang sudah pernah menikah?

  • Whatsapp

Semain bertambah usia, semakin banyak hal yang aku hadapi dalam hidup. Ternyata menjadi dewasa itu tidak semudah apa yang aku bayangkan. Dulu, ketika aku melihat banyak orang dewasa berpakaian seragam putih abu-abu, aku berfikir dan mengimpikan seperti mereka. Lambat laun, aku melewati fase itu, asik ternyata siswa yang setiap pagi harus berseragam, mengerjakan tugas seko;lah, mengerjakan PR. Bertemu teman-teman dengan berbagai karakter. Saya suka dengan itu, namun realitanya, hidup tidak stagnan itu, aku akan menjalani fase selanjutnya yakni dunia dewasa, dimana tempat banyak norag yang hidup tentang kehidupan, dimana segalanya harus dipenuhi dengan kemampuan diri sendiri, dengan kerja keras, dimana hidup butuh uang, dimana cinta juga butuh uang atas segala keperluan.

Bertahun-tahun aku memiliki hubungan dengan laki-laki ternyata aku yang menghancurkan segalanya. Lalu aku memilih jalanku sendiri untuk meratapi asmaraku. Caraku menutup luka, dengan berbagai kegiatan yang aku lakukan, berbagai hal yang aku kerjakan hingga aku tak punya waktu untuk memikirkan kisah cintaku. Waktuku begitu produktif, aku punya banyak cerita setiap detik ketika bersama orang lain, bersama orang-orang baru. Menceritakan segala kisah yang baru, hingga pada akhirnya, mataku tertuju pada sosok yang berbeda diantara teman-teman yang aku jumpai.

Aku selalu percaya bahwa setiap orang memiliki kekuatan masing-masing yuang diberikan oleh Tuhan, lalu aku mencoba untuk mengharagai segala sesuatu dengan cara berbeda, tanpa menyamaratakan semuanya. Tak terkecuali dengan laki-laki ini, segudang prestasi dengan profile yang begitu mempesona dalam bidang akademisi, serta agamis, nampaknya aku tertarik pada simbol dan branding yang muncul akan dirinya sebagai sosok laki-laki hebat dan prestisius ini.

“ yakin kau tak suka dengan mas itu? Semua teman-teman sedang membicarakannya” sahut teman yang ada di dekatku sembari tersenyum.

Aku menghiraukan segala bentuk kalimat yang muncul dari dirinya. Rasanya aku juga tertarik untuk mendekatkan diri pada sosok prestisius ini. Bukankah dia baru mendapat gelar doktor di Inggris, dan sampai saat ini masih sendiri?  Sedikit isu yang aku dengar tentang dirinya. Melalui tulisan-tulisannya, aku berkenalan dengan dia, aku berpelukan dengan tata bahasa dan pemilihan diksi yang mengalihkan duniaku pada tulisan. Ah, rasanya aku ingin menemui dan memintanya untuk mengajarkanku.

Singkat cerita, kami dipertemukan dalam forum ilmiah. Awalnya aku tak begitu berminat untuk mendekatinya, apalagi untuk sesuatu hal yang aku dengar dari orang lain tentang sesuatu bagiku tak terlalu membuatku terpikat. Namun, seriing berjalannya waktu, selalu saja ada kesempatan dalam ruang dan waktu untuk mempertemukan kami, hingga aku tidak bisa menjelaskan tentang kedekatan antara kami berdua.

Rasanya aku yang sedang menjalani kuliah di semeter akhir, setiap hari memperoleh 3 sks perkuliahan via telphone semenjak aku kenal dengan dia. Ya begitu mungkin rasanya dekat dengan seorang dosen. Akhirnya, aku memberanikan diri untuk melihat kepribadian secara utuh.

Sementara aku mulai mengagumi kesehariannya, aktiftasnya. Kami ditakdirkan berjumpa, untuk ketiga kalinya kami berjumpa sebagai orang yang saling dekat, melalui pertemanan yang begitu dekat. Hingga pada suatu waktu, kesempatan untuk berjumpa dalam ruang dan waktu yang berdekatan, aku mencoba mencari tahu kepribadian yang selama ini snagat sulit aku jangkau, meskipun dari sana aku sudah tumbuh benih-benih suka.  Namun, untuk ukuran wanita muda sepertiku. Tak segampang itu menjatuhkan hati pada seseorang yang baru dikenal apalagi hanya dalam waktu singkat. Apalagi selisih umur kami sangat jauh, aku pangil “om” kadang-kadang untuk membuat pembicaraan tidak hening.

Beberapa waktu kami jumpa, aku dibuat nyaman oleh kebersamaan sederhana yang terjalin. Mungkin selama ini karena aku terlalu takut untuk melabuhkan hati pada laki-laki dan sibuk untuk menyibukkan diri. Namun, semenjak aku mengenal dia. Hatiku mencoba untuk kembali bediri tergak dengan akar yang kuat. Namun, itu tak bertahan lama semenjak pada waktu kami pergi jalan-jalan pada hari minggu, tangan kami bergandengan, baru kali ini aku merasa bahwa aku merasakan kenyamanan, tenang, damai rasanya. Ia menghampiri seorang anak kecil, bercanda ria seolah merasa keakraban yang begitu kuat.

“ Mas kenal dengan anak ini” tanyaku penasaran.

“ Ohya, aku belum kenalkan. Ini anakku” jawabnya dengan santai sekaligus memecahkan senyum yang seketika berubah menjadi mendung. Rasanya hatiku bergetar mendengar kalimat itu. Aku tidak bisa menyaksikan sosok laki-laki ini ketika menggendong anak kecil dengan penuh tawa, lalu akhirnya aku memilih untuk pergi meninggalkan keduanya dari keramaian itu.

Cerita ini tidak bisa aku lanjutkan. Sebab akupu tidak tahu bagaimana cara aku melanjutkan kisah untuk laki-laki yang sudah pernah menikah. Sedangkan aku yang sangat awam persoalan hubungam. Aku tidak berniat menyalahkan masalalu, sebab cerita ini ditulis karena aku sedang tidak menemukan jalan tentang cintaku.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *