Bang Toyib 

Uncategorized143 views

 Cerpen Indah Noviariesta

 Pegiat organisasi Gerakan Membangun Nurani Bangsa (Gema Nusa), menulis prosa dan esai di berbagai media nasional, cetak dan online

Namanya Muhamad Toyib, dan orang-orang di kampungnya memanggilnya dengan sebutan “Bang Toyib”. Di masa kekuasaan Orde Baru ia merasa kesulitan mencari pekerjaan, karena sebelum rezim militer berkuasa ia pernah bergabung dengan organisasi Barisan Tani Indonesia (BTI). Ketika Jenderal Soeharto sedang sekuasa-kuasanya, menjelang tahun 1990-an ia bertekad untuk meninggalkan tanah air, dan pergi menuju Amsterdam di negeri Belanda. Tak lama kemudian, sesampainya di Amsterdam, ia pun mengubah namanya menjadi Muhammad Marco van Basten.

Bang Toyib mengaku, alasan permohonannya kepada departemen imigrasi dikarenakan rezim Orde Baru yang kerap menggunakan aksi-aksi militer dalam menangani berbagai persoalan di dalam negeri. Ia sudah berkonsultasi dengan kerabat dan handai-taulan di Jakarta perihal penggantian nama baru tersebut. Dia menelepon dari kantor departemen imigrasi, karena tak punya ide dan gagasan yang pas untuk nama barunya. Seketika itu, dia membuka-buka koran dan mengusulkan nama Belanda yang kira-kira cocok untuknya.

“Ya, tepat sekali!” teriak saudara sepupunya dari Jakarta, “lebih baik memakai nama Belanda saja, daripada nama Arab atau Indonesia… meskipun kamu gak pantas untuk menyandang nama Multatuli atau Max Havelaar.”

Bang Toyib membolak-balik koran berbahasa Belanda saat ia melanjutkan percakapan via telepon. Kemudian, dia menemukan kolom olahraga, hingga matanya terpusat pada seorang pemain bola asal Belanda yang sangat terkenal: Marco van Basten. Menurutnya, nama itu akan jadi lebih asyik dan menarik jika ditambahkan kata “Muhamad” di depannya. Maka, jadilah ia menyandang nama “Muhamad Marco van Basten”.

Keelokan suasana Amsterdam membuat Van Basten begitu terpesona. Dia pun ikut kelas belajar bahasa Belanda. Meskipun kewalahan tak menguasainya tetapi ia paksakan berkomunikasi dengan bahasa campur-aduk antara Belanda, Indonesia dan Inggris. Di tahun pertama kehidupannya, Van Basten tak melewatkan apa pun tanpa membandingkannya dengan situasi dalam negeri Indonesia.

Dia menyusuri jalanan sambil menggerutu dalam hati dengan kedongkolan dan kejengkelan, “Lihat betapa bersihnya jalanan di kota-kota Belanda! Lihat kamar-kamar mandi dan dudukan toilet mereka, begitu bersih dan kinclong! Ketimbang saya berak mencret di jamban-jamban Cengkareng dan seluruh wilayah ibukota!”

Ia melihat jalan-jalan raya yang tertata rapi, pepohonan yang begitu hijau dan indah, seolah disirami air jernih setiap harinya? Mengapa kita di Indonesia, tak bisa hidup damai seperti mereka-mereka itu? (pikir Van Basten). Mengapa kita selalu ribut ngurusin politik dan ekonomi yang gak ada juntrungannya? Selalu saja mikirin harga BBM yang terus melonjak naik? Lalu, kapan kita memiliki pemerintahan yang layak dan kredibel, bukan cuma diurus elit-elit politik yang hanya berkoar-koar di layar TVRI dengan mengumbar penyataan-pernyataan politis smata?

Kenapa kita tinggal di rumah seperti kandang ayam dan kambing, sementara rumah mereka hangat, aman, dan berwarna-warni? Mengapa mereka memperlakukan anjing setara dengan manusia, sedangkan di Indonesia, moral anjing dipersamakan dengan umat manusia dan hamba-hamba Tuhan?

Segala yang dilihat Van Basten membuatnya terpukau dan terhina secara bersamaan, dari mulai lembutnya kertas toilet, hingga gedung parlemen yang tertata rapi, dan hanya dijaga oleh kamera-kamera pengawas (CCTV) saja.

Hidup Van Basten berjalan sesuai rencananya. Setiap hari ia membuat kemajuan dalam hal menguburkan identitas dan masa lalunya. Setelah belajar bahasa Belanda, Van Basten kemudian bekerja sebagai pustakawan di salah satu perpustakaan di kota Amsterdam. Di situlah ia berjumpa dengan kekasihnya yang berasal dari negeri Belanda.

Setelah beberapa bulan berpacaran, berat badannya bertambah menjadi 93 kilogram. Ia berusaha memperlakukan pacarnya seperti seorang pria Eropa yang terbilang cukup bebas dan liberal. Dia selalu mengenalkan diri sebagai orang Singapura, dan ayahnya meninggalkan negaranya untuk menetap di Meksiko, Amerika Serikat. Kekasihnya punya gambaran bahwa negeri Indonesia, bekas jajahan Belanda itu, identik dengan suku Dayak, Baduy, hingga Papua yang dikenal hitam, keling dan tak mengenal peradaban. Atas alasan itulah yang membuat Van Basten mengaku-ngaku dirinya berasal dari negeri Singapura.

Dikarenakan pernikahannya dengan wanita kelahiran Belanda, ditambah fakta bahwa dia tak punya masalah hukum dan catatan kriminal, dia pun bisa memperoleh kewarganegaraan lebih cepat daripada yang bisa diimpikan imigran-imigran dari Afrika maupun negeri dunia ketiga lainnya. Ia berjanji pada istrinya akan selalu merayakan hari jadinya sebagai warga negara Belanda setiap tahunnya.

Van Basten merasa kulit dan darahnya telah berubah menjadi Belanda untuk selama-lamanya. Ingatannya akan tanah air seakan hilang terbawa angin, bahkan saudara-kerabat di Cengkareng, Jakarta Barat, nyaris tak pernah dihubunginya sama sekali.

Baca Juga:  Dugaan Pungli e-KTP di Dispendukcapil Pamekasan Menjadi Bahan Evaluasi Tahunan Inspektorat

***

Segala sesuatu bisa ditampik dan dielakkan dari memori Van Basten. Namun, siapa yang bisa melawan takdir mimpi. Dan apa bedanya mimpi dengan kenyataan di saat kita sedang tidur dan merasakan anehnya mimpi tersebut. Begitulah segalanya berjalan, hingga masalah mimpi terus-menerus menyelimuti bahkan menghantui pikiran dan perasaan Van Basten.

Ia merasa kesulitan menikmati masa-masa bulan madunya bersama istri lantaran mimpi-mimpi buruk itu. Mimpi yang muram dan menyedihkan. Dalam mimpinya itu, dia sama sekali tak bisa bicara bahasa Belanda maupun Inggris. Dia menghadapi bos dan atasannya yang orang Belanda, tiba-tiba menyemprotnya ketus, dengan menggunakan dielek Jakarta: “Ngapain lho minggat jauh-jauh ke Belanda? Apa udah lupa sama saudara di kampung?”

Dia tersentak kaget dan menemukan dirinya dalam posisi duduk bersimbah keringat, lalu menangis tersedu-sedu. Pada awalnya, dia pikir itu hanya mimpi biasa yang akan segera berlalu. Namun, mimpi-mimpi itu terus berlanjut menderanya tanpa ampun. Pada malam berikutnya, dia menyaksikan sekelompok anak-anak gelandangan di kampung kelahirannya tiba-tiba mengejar dirinya dengan mengeluarkan cacian dan sumpah serapah: “Van Basten orang gila! Van Basten orang sableng! Van Basten orang sinting dan senewen!!”

Mimpi-mimpi buruk itu semakin hari semakin menyeramkan, dan menurutnya sama sekali tak masuk di akal. Suatu malam ia bermimpi melihat mendiang Presiden Soeharto tiba-tiba mengenakan jubah hakim. Ia mangkir dari pengadilan lantaran pura-pura sakit dan hilang ingatan (amnesia). Lalu, ia menyamar sebagai hakim agung, seraya membentak Van Basten laiknya seorang tentara KNIL, lalu memerintahkannya agar jangan bicara campur-aduk antara Belanda, Indonesia dan bahasa Inggris.

Masih dalam suasana mimpi panjang. Sang hakim akhirnya menyediakan penerjemah bahasa Indonesia, namun sang penerjemah kewalahan juga. Karena Van Basten menyelipkan berbagai-macam istilah yang merupakan serapan dari bahasa Arab dan Jawa kuno.

Keesokannya Van Basten duduk di perpustakaan tempatnya bekerja. Ia membuka-buka buku perihal mimpi. Suatu ketika ia menemukan buku Sigmund Freud, meski ia merasa kewalahan dan jengkel menyalahkan penerjemahnya yang enggak becus. Ia pun berpindah kepada buku karya pemikir Islam Al-Ghazali, kemudian membuka-buka buku Erich Fromm namun juga kesulitan memahami isi kandungannya.

Sekelumit kata-kata Freud dia pahami, bahwa keberadaan ego menjadi satu-satunya titik tolak dari pikiran dan perasaan manusia. Di sisi lain, dari pemikiran Al-Ghazali dia berkesimpulan, bahwa hukum-hukum syariat agama boleh dilanggar semau-maunya manakala kita sedang tidur, seakan membentangkan sayap kebebasan di negeri-negeri akhirat. Sementara dari Fromm dia kutip, bahwa manusia merasa bebas dan tak terikat oleh hukum-hukum realitas, manakala sedang merasakan nikmatnya tidur.

Van Basten membanting buku-buku itu di atas meja. Ia merasa kewalahan seraya bertanya-tanya, bagaimana mungkin kita bisa merasa bebas? Faktanya, kalau kita tak mampu mengendalikan mimpi, justru kita yang akan diperbudak oleh mimpi? Bukankah kita hanya bisa bebas pada saat terjaga?

Van Basten bertanya pada seorang sahabatnya sebagai sarjana psikologi, lalu ia menunjukkan sebuah buku tentang hubungan antara mimpi, kuliner, dan pengaruh makanan yang kita konsumsi sehari-hari. Namun, ketika sang sahabat melihat adanya raut bertanya-tanya dengan seberkas kerutan di kening, ia pun banting stir menyarankan Van Basten agar mendatangi perpustakaan khusus di kota Rotterdam, yang menyediakan buku-buku perihal mimpi, halusinasi dan segala tetek-begkek mengenai dunia mistik, sihir dan alam-alam gaib.

***

Istri Van Basten semakin mengendus aroma yang kurang sedap pada kelakuan suami yang terbilang aneh, di luar nalar dan akal sehat. Termasuk perubahan pola makan dan kebiasaan tidurnya, termasuk juga kesibukan mondar-mandir ke kamar mandi di tengah malam. Van Basten kini tak lagi bernafsu menyantap kentang manis dan daging merah kesukaannya. Bahkan, ketika istrinya memasak dengan model apapun. Tetapi chicken masih tetap ia santap, meskipun ditambah dengan menu bebek angsa, burung, dan berbagai jenis unggas lainnya.

Tentu sang istri terus bertanya-tanya, sampai kemudian menemukan buku yang tergeletak di sofa, yang mengaitkan persoalan mimpi dan sayur-mayur, umbi-umbian, dan segala makanan berakar, yang dianggap sebagai penyebab sang pemimpi terhubung dengan latar belakang masa lalunya.

Menurut Van Basten, memakan tanaman berakar mempunyai efek berbeda ketimbang ikan yang hidup di air, atau buah-buahan yang tergantung di pohon, apalagi burung yang terbang bebas dengan kepak sayapnya. Di sore hari, Van Basten akan duduk di meja makan, mengunyah setiap potong makanan dari daging burung unta, seakan-akan ia dapat menikmati kebebasan untuk menerbangkan tubuhnya sendiri ke angkasa raya.

Baca Juga:  Berantas Rokok Ilegal di Sumenep: Target Minimal Kumpulkan 4.800 Batang per Operasi

Dalam semua usahanya memperbaiki hubungan mimpi dengan kehidupan nyata, ia bisa beralih cepat di antara imajinasinya dengan informasi yang dia baca dari buku-buku. Suatu hari, ia mengamit buku tentang sejarah asal-usul daerahnya di Jakarta, tetapi yang dia temukan adalah novel Pikiran Orang Indonesia. Dia membayangkan hubungan dua sejoli antara Haris dan Ida Farida. Dia juga membaca bagian petuah tokoh utama selaku narator, namun ia lebih tertarik membaca petualangan sang tokoh yang hengkang dari kampung halamannya, untuk berhijrah menuju daerah Rangkasbitung, Banten Selatan.

Dari sekian banyak literatur yang dia baca, pada akhirnya dia menemukan gagasan yang terbilang jitu dan mujarab. Bahwa obsesi yang ada pada dirinya telah melampaui kecenderungan untuk menghalau mimpi-mimpi buruknya. Bagaimanapun, ia harus memurnikan mimpinya, mengubahnya menjadi mimpi-mimpi positif dengan jalan memadukan mimpi itu dengan ketaatan menuruti aturan-aturan hukum yang ada di negeri Belanda.

Karena menggeluti buku-buku aneh perihal mimpi dalam waktu yang cukup lama, Van Basten tak lagi mau berhubungan badan dengan istrinya. Di atas ranjang dia mengenakan jaket wol tebal yang menimbulkan pertengkaran sengit dengan sang istri. Dia pun memutuskan untuk tidur di sofa ruang tamu. Setiap pagi pukul 03.00 ia pun ngeloyor ke kamar mandi. Sehabis mandi ia duduk-duduk di dapur sambil mencampuri minuman teh manis dengan beberapa tetes minyak dari kembang melati. Ia mulai mengambil buku catatannya untuk mengkalkulasi makanan-makanan utama yang harus dikonsumsi esok hari. Ia juga membeli beberapa jenis kalung dari batu akik yang sering diiklankan di layar-layar teve. Kebiasaan ini berlangsung selama lebih dari empatpuluh hari, meskipun tetap tak ada hasil yang terbilang memuaskan.

Namun, dia berusaha sabar karena tekadnya sudah bulat. Setelah itu, dia mulai melakukan ritual rahasia sambil mengecat ungu rambut dan kuku jari kakinya. Ia mulai tidur tengkurap sembari merapalkan mantra-mantra yang sudah dihafalnya. Pada malam Jumat, dia mengecat wajahnya seperti orang-orang Papua sedang merayakan ritual-ritual keagamaan.

Gengsi dan egoisme Van Basten membuatnya tak mau membicarakan apapun bersama istrinya. Dia merasa yakin semuanya itu adalah urusan pribadinya sendiri. Istrinya menanggapi dengan penuh kesabaran, karena ia mengingat masa-masa awal pernikahannya, ketika sang suami banyak berkorban demi rasa cinta dan kasih sayangnya. Dia memutuskan memberinya kesempatan sebelum turut campur, serta mengetahui lebih jauh siapa itu Van Basten yang sebenarnya. 

***

Pada suatu pagi yang cerah di hari Minggu, Van Basten mengajak istrinya menghadiri acara pameran buku di gedung kebudayaan Amsterdam. Acara pameran dihadiri oleh berbagai peserta dari ratusan negara, termasuk Indonesia. Tanpa sepengetahuan Van Basten, salah seorang anggota Duta Baca Indonesia yang ikut dalam rombongan adalah warga Cengkareng, Jakarta Barat. Ia termasuk salah seorang penulis muda Indonesia, yang hadir selaku undangan. Tiba-tiba, di hadapan Van Basten, lelaki muda itu berteriak histeris, “Abang! Bang Toyib!”

Van Basten terperanjat kaget dan menoleh ke arahnya. Lelaki muda itu menjabat tangan dan memeluk Van Basten persis di depan stan buku-buku karya penulis Indonesia.

“Apa kabar, Bang Toyib? Wah, lama sekali kita enggak bertemu. Saudara-saudara di Indonesia bertanya-tanya mengenai kabar Abang di sini?”

Istri Van Basten bingung dan serba salah, “Bang Toyib?” gumamnya pelan, “Siapa itu Bang Toyib?”

Walah, welah, ternyata dunia ini hanya selebar daun kelor (pikir Van Basten). Lelaki muda itu ternyata berasal dari desa Cengkareng, Jakarta Barat. Dan setelah diurutkan silsilahnya rupanya masih saudara sepupu dengan Van Basten alias Muhamad Toyib.

Sejak menghadiri acara pameran itu, akhirnya Van Basten bicara apa adanya di hadapan sang istri, bahwa ia berasal dari Jakarta, Indonesia, dan bukan dari Singapura. Bahasa ibu yang digunakannya juga bahasa Indonesia dengan dialek Jakarta. Ia merantau ke negeri Belanda sebagai refuji, karena iklim politik militerisme Orde Baru yang tidak kondusif.

Pada akhir tahun 2020 lalu, ia mengabarkan kepada pihak keluarga di Jakarta, bahwa dirinya sedang mengidap positif Covid-19, menjalani perawatan medis selama tiga bulan di Amsterdam, hingga kemudian wafat pada awal tahun 2021 lalu.

Kini sudah jelas bagi semuanya, bahwa ia terlahir sebagai Muhamad Toyib di desa Cengkareng, Jakarta Barat, kemudian meninggal dunia di negeri Belanda sebagai Muhamad Marco Van Basten. ***

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *