oleh

Bangkalan dan Arah Pembangunan.

Kabarmadura.id-Bangkalan sebagai kabupaten yang terletak diujung barat pulau Madura. Mengklaim identitas sebagai kabupaten yang yang religius dengan takline kota Dzikir dn sholawat. Identitas tersebut cukup relevan ketika melihat kebelakang dalam hal ini sejarah. Bangkalan memang dikenal dengan kota pesantren. Sebab, terhitung ada sekitar puluhan pesantren yang berdiri di kabupaten tersebut.  Banyak literature yang mengatakan bahwa inisiatif berdirinya organinasi islam dalam hal ini Nahdlatul Ulama(NU) itu berawal dari Bangkalan, yang sekarang menjadi organisasi terbesar di Indonesia bahkan di dunia. Dan banyak juga tokoh ulama yang belajar ilmu agama atau berguru pada tokoh ulama Bangkalan yang terkenal karismatik dan alim dalam keilmuannya yaitu Hadratussyaih Syaickhona Holil bin Abdul Latif. Salah satunya adalah hadratussyaih kiayi Hayim Asy’ari, pendiri NU.

Bangkalan yang juga dikenal dengan kota salak dengan luas sekitar 1.260,14 km dan berpenduduk sekitar 945,425 jiwa itu. Baru saja terlepas dari kungkungan buruk sebagai kabupaten termiskin nomor dua. Hal ini patut diapresiasi sebagai prestasi bangkalan. Karena dapat melepaskan diri dari zona kungkungan buruk tersebut. Namun, ketika kita melihat pada proses arah pembangunan dan APBD bangkalan, maka ini akan menjadi PR besar bagi pemerintahan kabupaten Bangkalan. Agar tidak terjerumus atau terperamjab kembali pada kungkungan buruk itu lagi.

Nyatanya, Bangkalan yang digadang-gadang akan menjadi kabupaten yang maju  setelah pembangunan Suramadu  tidak sesuai ekspektasi. Adanya suramadu yang dianggap sebagai cikal bakal kemajuan Bangkalan, sampai saat ini belum memberikan kontribusi yang signifikan. Pendapatan Asli Daerah(PAD) Bangkalan masih saja berkutat disekitar angka 20% dalam hal ini sekitar 200M dari sekitar 2T APBD Bangkalan. Itu artinya masih 80% APBD Bangkalan bergantung pada subsidi Negara. Dan hal ini secara logika masih jauh dari kata Mandiri apalagi Maju.

Bangkalan sendiri berada pada posisi dilema dalam menentukan arah pembangunan. Mau diarahkan kemana pembangunan Bangkalan ini kedepan?. Mau dibawa ke industri misalkan, tentu konsekuensinya juga perlu diperhatikan secara serius. Sebab, ketika pembangunan Bangkalan diarahkan pada pembangunan industri, katakanlah gampangnya, pembangunan pabrik-pabrik. Secara otomatis pembangunan-pembangunan lainnya seperti tempat-tempat hiburan akan mengikuti. Memang ini akan membuka ruang lapangan pekerjaan secara luas, sehingga mengurangi paradigma rantau atau hasrat untuk merantau mencari pekerjaan yang layak diluar Bangkalan dari masyarakat. Dan akan mendongkrak pada PAD Bangkalan itu sendiri, sehingga kemungkinan lebih besar untuk menjadi kabupaten yang mandiri dan maju. Namun, hal ini pula akan berbenturan dengan identitas kota Dzikir dan Sholawat. Karena pergeseran kehidupan itu pasti terjadi. Dari kehidupan  penuh akan budaya dan religiuitas yang tinggi menjadi kehidupan yang metropolis dan elitis. Bahkan, tidak hanya itu. Masyarakat Bangkalan terbilang masih belum siap menghadapi hal yang demikian. Sebab sumber daya manusia(SDM) Bangkalan berkemungkinan besar hanya akan menjadi penonton di panggung sendiri.

Kenapa kemudian Bangkalan seperti itu?. Bangkalan belum mempunyai ketegasan dalam keseriusan pembangunan terhadap bangkalan. Program-program yang dijalan untuk pembangunan cenderung inkonsistensi. Dalam pendidikan misalnya, masih banyak problem yang belum teratasi, baik dari fasilitas maupun sistim yang dibangun. Padahal, pendidikan salah satu asset terbesar untuk masa depan Bangkalan. Lemahnya pengawasan yang tegas terhadap pendidikan membuat larut pada kelalaian atau kebiasaan buruk yang terjadi di sekolah-sekolah. Istitlah berangkat siang pulang pagi, masih melekat pada proses pendidikan kita, dalam hal ini tenaga pendidik. Juga kurangnya tenaga pendidik PNS juga menjadi problem yang berlarut. Sehingga hal ini sangatlah berpengaruh pada pembangunan karakter generasi kita di Bangkalan.

Kurangnya ketegasan dan lambannya kinerja, tidak hanya terjadi disektor pedidikan saja. Melainkan juga terjadi dibeberapa sector. Seperti diproses administrasi kependudukan. Ada beberapa kecamatan di kabupaten Bangkalan yang tidak ada perkeraman E-KTP dengan alasan rusak. Dan terlihat sangat lucu proses perbaikannya sangat lama. Bahkan sampai saat inipun belum selesai. Sehingga hal ini memberarkan pada masyarakat. Yang seharusnya masyarakat cukup melakukan perekaman E-KTP ditingkat kecamatan, harus melakukan ketingkat Dinas atau pusat kabupaten. Dalam hal ini yang awalnya masyarakat cukup mennyita waktu yang sedikit dan menggelontorkan modal yang sedikit pula untuk melakukan perekaman tersebut. Harus dua kali lipat bahkan tiga kali lipat, karena harus ke pusat kabupaten. Dan tentunya lagi-lagi hal ini menunjukkan bahwa, Bangkalan dipertanyakan keseriusannya dalam melakukan pembangunan kearah kemajuan.

Tidak hanya itu, akhir-akhir ini isu yang nyentrik di kabupaten Bangkalan adalah perihal Sampah. Yang sebenarnya problem itu, sudah sejak lama, sekitar setahun yang lalu menjadi pembahasan. Namun tidak selesai-selesai juga sampai saat ini. Dan anehnya, ketika pihak terkait yang bertanggung jawab hal tersebut didatangi massa untuk menyikapi. Malah salah menyebutkan regulasi atau undang-undang dan terkesan tidak mengerti terhadap undang-undang. Jangan untuk menjalankan amanah undang-undangnya. Dan lagi-lagi ini menjadi salah satu sampel atau contoh ketidak tegasan dalam keseriusan pembangunan Bangkalan.

Belum lagi berbicara insfrastruktur. Banyak sekali infrastruktur-infrastruktur yang miris untuk dilihat. Katakanlah, masih banyak jalan-jalan umum yang rusak dan tidak layak untuk digunakan apalagi dikategorikan sebagai jalan milik pemerintah yang mempunyai Alokasi Dana.

Jadi, jangankan untuk menentukan identitas arah pembangunan. Berbicara hal sederhana saja, seperti yang sudah sedikit banyak diulas diatas. Bangkalan masih sangat lamban dan dipertanyakan ketegasan dalam pengawalan keseriusan pembangunan. Sehingga untuk membangun Bangkalan kearah kemajuan dan kesejahteraan bersama. Bangkalan perlu mengecek kembali sistim-sistim yang dibangun dan dijalankan. Dan perlu adanya sikap yang tegas untuk serius membangun Bangkalan.

TENTANG PENULIS.

Penulis adalah, Abdullah Sahuri, penulis Buku AKU MALAS MEMBACA terbitan KBM Jogjakarta 2019. Dan seorang Mahasiswa Prodi PAI(Pendidikan Agama Islam) semester 7, Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al-Ibrohimy Galis Bangkalan.

No Telepon: 081515034825.

 

Komentar

News Feed