Bangkalan Pesimistis Capai Penurunan Stunting hingga 14 Persen di 2024

(KM/HELMI YAHYA) PENCEGAHAN: Penanganan stunting di Bangkalan ditarget penurunan angka hingga 14 persen di 2024, namun sejumlah pihak ragu bisa mencapainya.

KABARMADURA.ID | BANGKALAN-Kasus stunting pada anak dan ibu hamil di Bangkalan masih tergolong tinggi. Pada tahun 2021 lalu, jumlahnya menembus angka 2 ribu lebih atau masih 35 Persen. Sedangkan untuk penurunan target turun stunting nasional ditetapkan hingga 14 persen. Sehingga Bangkalan diprediksi kesulitan mencapai target tersebut.

Kepala Dinas Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindung Anak (DKBP3A) Bangkalan Amina Rachmawati menyampaikan, mengenai rencana pencegahan kasus stunting pada ibu hamil dan anak, pihaknya masih terus mengembangkan upaya sosialisasi dan pembinaan pada remaja yang ideal menikah.

“Para kader juga sudah melakukan upaya survei, dan saat ini akan segera melakukan fokus penanganannya,” katanya.

Bacaan Lainnya

Selain itu, dirinya juga membentuk tim penggeerak keluarga yang nantinya akan bersinergi dengan kader KB untuk melakukan pencegahan, yakni sosialisasi dan imbauan agar pasangan remaja bisa menikah pada usia ideal atau 25 tahun untuk pria dan 21 untuk wanita.

Tim penggerak ini nanti akan bekerja sama dengan bidan desa dan juga pemerintah desa dan kecamatan, agar bisa lebih mudah.

Mengenai angka stunting pada anak, dirinya mengaku tidak tahu pasti. Alasannya, penanganannya dilakukan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan. Namun diakui, pada tahun 2021 lalu, angkanya masih tinggi dan berada di prevalensi 35 persen.

“Ini nanti yang akan kami tekan melalui pencegahan, sebab, target nasional nanti harus tercapai di tahun 2024 yakni 14 persen,” tutur Amina.

Dia menyadari, tidak mudah untuk menurunkan angkanya, karena masih ada beberapa kecamatan yang kasusnya masih tinggi, seperti Kecamatan Socah dan Kolop. Pada dua kecamatan tersebut, fokus penanganan berbeda.

Sedangkan menurut Kepala BKKBN Provinsi Jawa Timur Maria Ernawati, target nasional yang harus dicapai Bangkalan memang 14 persen, tetapi sepertinya ini sulit dilakukan. Sebab angka prevalensinya masih tinggi.

Sehingga BKKBN Provinsi Jawa Timur akan melakukan pendampingan langsung kepada daerah yang masih tinggi angka stuntingnya. Kemudian menjadi pertimbangan untuk target Jawa Timur berada di angka prevalensi 22 persen.

“Nanti akan kami pantau terus, karena memang tidak mudah menurunkan angka stunting ini, jadi nanti kami akan mendampingi,” jelas Ernawati.

Reporter: Helmi Yahya

Redaktur: Wawan A. Husna

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.