oleh

Bangkalan Yakin Segera Zona Hijau, Pamekasan Masih Sibuk Awasi Perbatasan

Kabarmadura.id/BANGKALAN-Setelah memulangkan setidaknya 37 pasien yang dinyatakan bersih dari Covid-19, disusul dengan bertambahnya pasien sembuh. Per 26 Juli 2020, yang dinyatakan sembuh mencapai 217 orang dari 344 jumlah akumulasi yang terinfeksi Covid-19. Dengan data itu, jumlah pasien sembuh lebih tinggi dibandingkan tingkat pasien yang terinfeksi.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan Sudiyo yakin bahwa Bangkalan bakal menjadi zona hijau. Terlebih, saat ini Bangkalan sudah berwarna oranye, yang artinya, penyebaran Covid-19 masuk kategori sedang.

“Untuk perubahan warna ada 14 indikator, termasuk yang paling dominan yakni tingkat kesembuhan pada pasien,” ujarnya.

Jika tingkat kesembuhan terus meningkat, katanya, Bangkalan bisa berubah menjadi zona hijau. Selain tingkat kesembuhan, indikator lain yang paling diperhitungkan yaitu hasil pelacakan dan angka kematian. Kedua indikator utama itu menjadi salah satu prasyarat masuk zona hijau.

Saat ini, pelacakan setiap pasien maupun orang yang berkontak dengan pasien masih gencar dilakukan, agar bisa ditangani lebih awal.

“Kasus pasien Covid-19 banyak juga tidak masalah, asal tingkat kesembuhan juga banyak. Kalau kasus banyak, tingkat kematian juga banyak, ini yang jadi masalah. Kalau angka kematian lebih tinggi bisa menjadi hitam, bahkan kami dianggap tidak bekerja karena tidak bisa menyembuhkan pasien,” jelasnya.

Tiga indikator yang paling dominan itu saling berkaitan. Sehingga, jika salah satu tidak jalan, wilayah akan tetap menjadi merah. Seperti, kasus banyak dan tingkat kesembuhan juga banyak. Akan tetapi hasil pelacakan tidak dilakukan, juga akan membawa pengaruh Bangkalan bisa berubah warna menjadi hijau atau tidak.

“Itu indikator utamanya untuk merubah warna dari merah ke hijau, indikator sembuh, tracing dan jumlah kasus atau tingkat kematian,” paparnya.

Terpisah, Tim Gugus Tugas Covid-19 Bangkalan yang kini berubah menjadi Satgas Covid-19 Bangkalan ini mengumumkan adanya istilah baru soal penetapan nomenklatur dalam penanganan Covid-19. Nomenklatur itu langsung berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 413 Tahun 2020 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Covid-19.

Bupati Bangkalan Abdul Latif Amin Imron mengatakan, soal penggunaan istilah atau bahasa baru tersebut, pihaknya akan lebih dulu menyosialisasikan ke seluruh pemangku kepentingan yang terlibat dalam penanganan Covid-19, agar bisa menyamakan persepsi.

“Terdapat nomenklatur baru yang akan disesuaikan ke depannya,” ujarnya.

Istilah baru itu antara lain, suspek atau orang yang memiliki gejala infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) dan memiliki riwayat perjalanan dari wilayah transmisi lokal serta memiliki riwayat kontak dengan pasien terinfeksi Covid-19 yang perlu perawatan medis di rumah sakit, tapi tidak ada pemberat lainnya.

Sedangkan istilah kontak erat, yakni orang tanpa gejala yang memiliki riwayat kontak dengan pasien terkonfirmasi positif Covid-19. Kemudian istilah kasus probable, adalah suspek dengan ISPA berat atau meninggal dengan gambaran klinis yang meyakinkan Covid-19 dan tidak sempat diambil spesimennya untuk pemeriksaan PCR.

Selain itu, kasus konfirmasi atau biasa disebut seseorang yang terinfeksi Covid-19 dengan dibuktikan dari hasil pemeriksaan laboratorium PCR. Ada yang bergejala, tidak bergejala, bergejala ringan, sedang hingga berat. (ina/waw)

Belum Ada Rencana Pembebasan Perbatasan

(FOTO: KM/ ALI WAFA) SIAGA: Petugas Dishub Pamekasan memeriksa pengendara dari luar kota yang masuk ke Pamekasan di area terminal barang, Senin (27/7/2020).

PAMEKASAN–Setelah sekian lama memberlakukan penyemprotan dan pendataan di wilayah perbatasan Kabupaten Pamekasan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan belum berencana membebaskannya.

Anggota Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Pamekasan Achmad Marsuki mengatakan, pihaknya masih akan memberlakukan program tersebut hingga Pamekasan benar-benar steril dari wabah Covid-19.

“Daripada perbatasan dibebaskan, justru lebih baik jika Pamekasan bersikap siaga dalam menangani Covid-19,” demikian diungkapkan Plt. kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan tersebut.

Sementara itu, petugas Dinas Perhubungan (Dishub) yang berjaga di area terminal barang Abd. Kadir mengungkapkan, dalam sehari pihaknya mendata puluhan orang datang dari wilayah luar Madura. Semuanya dikategorikan orang dalam resiko (ODR).

“Jika pengendara dari dalam Madura tidak kami data, atau dari luar Madura dengan tujuan Sumenep,” ungkap Kadir.

Sementara petugas Palang Merah Indonesia (PMI) Tita yang juga berjaga di area tersebut menyebut, dalam sehari, pihaknya bisa menghabiskan enam bungkus cairan disinfektan atau setara dengan tiga tandon air yang telah dicampur dengan disinfektan.

“Setiap satu tandon itu kami pakai dua bungkus disinfektan, sehari kami bisa habiskan tiga tandon,” ujarnya. (ali/waw)

 

Komentar

News Feed