oleh

Bangun Desa, Jadi Prioritas Program MBKM UTM

KABARMADURA.ID, BANGKALAN-Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) di Universitas Trunojoyo Madura (UTM) akan dimulai. Semisal, salah satu program dari Fakultas Pertanian UTM, yaitu membangun desa. Fokusnya pada sektor pertanian, peternakan, rempah, dan garam. Selain itu, program magang industri dan pertukaran mahasiswa juga akan menjadi salah satu program yang disediakan.

Dekan Fakultas Pertanian UTM, Slamet, menyampaikan, program membangun desa sudah dijalin dengan berbagai desa di Madura. Salah satunya adalah Desa Alang-Alang, Kecamatan Tragah, dan Desa Gili Timur, Kecamatan Kamal. Bahkan di setiap kabupaten sudah ada. ”Di beberapa desa, kami fokus pada Jagung, ada juga yang buah Labu, karena program ini memang menjadi ciri khas kami,” katanya.

Pengolahan garam juga akan menjadi fokus utama dalam MBKM tersebut. Sebab, pengelolaan garam di Madura belum maksimal. Petani garam setempat masih menggunakan cara konvensional yang menjadi ciri khasnya. Sehingga masih dinilai belum bisa memberikan produktivitas yang menguntungkan. ”Masih banyak petani yang belum sejahtera, menjual garamnya dengan harga murah, padahal kalau dibina, mereka mandiri,” terangnya.

Kata Slamet, potensi kemandirian dalam bertani garam di Madura bisa menjadikan Madura sebagai pusat penghasil garam untuk konsumsi dengan skala besar. Hanya saja, pengelolaannya harus diatur dengan baik sehingga bisa memproduksi garam konsumsinya sendiri. ”Ini juga akan menjadi fokus kami ke depan, kami ingin Madura  yang katanya adalah Pulau Garam bisa terbukti,” paparnya.

Selain berupaya untuk mengoptimalkan pertanian, garam, dan rempah, program MBKM juga memiliki program magang Industri. Sehingga mahasiswa yang ada ada jurusan tersebut bisa mengambil program magang dengan menyesuaikan dengan kebutuhan dan permintaan perusahaan. ”Kalau magang ini nanti berhasil, mahasiswa bersangkutan juga bisa saja melanjutkan pekerjaannya di sana,” ulasnya.

Sedangkan pada program pertukaran mahasiswa, Fakultas Pertanian UTM sudah menjalin kerja sama dengan berbagai universitas. Semisal kerja sma dengan Universitas Brawijaya dan Universitas Gajah Mada. Langkah teknisnya, pihaknya menyediakan jurusan atau mata kuliah yang unik dan diminati oleh kampus lain. ”Kalau untuk pertukaran mahasiswa ini, kami bertukar mahasiswa pada jurusan yang masing-masing kampus belum punya, makanya nanti bisa dilakukan pertukaran,” terangnya.

Slamet berharap, program tersebut menarik minat banyak mahasiswa. Sebab, jika lebih banyak melakukan pengabdian, implementasi keilmuannya juga akan lebih matang. Lantaran lebih banyak praktik langsung. ”Saya harap ini akan mendorong mahasiswa agar lebih semangat belajar dan memberikan inovasi baru dalam setiap pengabdiannya,” pungkasnya. (km59/maf/*)

Komentar

News Feed