oleh

Bangunan Gedung Arsip di Sumenep belum Beroperasi

KABARMADURA.ID, Sumenep -Pembangunan Gedung Arsip selesai satu tahun lalu, tepatnya di tahun 2019 kemarin. Hanya saja, hingga saat ini bangunan yang menghabiskan anggaran Rp1,2 miliar lebih belum ejuga beroperasi atau dimanfaatkan. Mirisnya, barang-barang wajib ada di gedung tersebut seperti buku sejarah belum juga dipersiapkan.

Pengerjaan gedung dimenangkan PT Mitra Utama tahun anggaran 2019 kemarin. Segala hal tentang gedung itu merupakan tanggung jawab pemenang tender dan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait sebagai penanggung jawab atas pelaksanaan pembangunan. Hal ini diungkapkan, Anggota Komisi III DPRD Sumenep Ahmad Zainurrahman, Rabu (07/10/2020).

“Jangan hanya menggarkan dan memanfaatkan anggaran.  Tetapi, setelah itu terkesan lepas tanggung Jawab, Jika demikian hanya menghamburkan anggaran,” geramnya.

Dia menilai, perencanaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Sumenep tidak berdasarkan pada skala prioritas. Sehingga, ketika sudah terbangun menelan anggaran cukup besar belum juga bisa dimanfaatkan.

“Ketika sudah terbangun berarti merupakan kebutuhan yang mendesak. Nah ketika tidak digunakan ini menjadi pertanyaan besar. Berarti dulu pada saat direncanakan bukan kebutuhan mendesak,” tudingnya.

Pihaknya berjanji persoalan tersebut akan menjadi evaluasi bagi dinas terkait. Sebab, mereka hanya berfikir anggaran  habis. Tidak berdasarkan pada skala prioritas. “Jika begini jelas mubazir anggaran sudah habis kemudian pemanfaatannya tidak cepat difungsikan,” paparnya.

Senada diungkapkan Kepala bidang (Kabid) Penataan Bangunan dan Lingkungan Hery Gushendrawan. Dia mengaku, untuk pemanfaatannya merupakan tanggung jawab DPK. “Kami hanya membangun mengenai pemanfaatannya itu memang tugas DPK,” responnya.

Perencanaan Pembangunan tersebut pasti berdasarkan kebutuhan yang harus dibangun. Sebab, Selama ini arsip sejarah bertebaran dan tidak karuan bisa tersimpan. “Jadi, pembangunan sudah sesuai perencanaan yang berskala prioritas sudah,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala DPK Sumenep Ahmad Masuni mengakui bahwa pembangunan gedung belum berfungsi. Bahkan, gedung arsip yang akan difungsikan untuk arsip statis itu masih belum terisi.

“Butuh proses untuk mengumpulkan arsip. Utamanya, arsip bersejarah,” paparnya.

Dijelaskan, saat ini masih merencanakan pembentukan tim pencari fakta atau tim pencari arsip. Sehingga, semua arsip nantinnya terkumpul dalam gedung arsip. Buku yang akan dicari pertama kali mengenai buku sejarah Sumenep.

Dirinya, fokus pada buku sejarah. Misalnya, monumen keraton, Asta Tinggi, Masjid Jamik. Selain itu akan mencari sejarah pemerintahan atau sejarah yang berkenaan dengan era-era pemerintahan bupati Sumenep dari tahun ketahun. “Masih belum buku terarsip disana,” ujar dia.

Dia menjelaskan, dengan terkumpulnya buku buku atau manuskrip Sumenep akan ada regenerasi baru yang bisa memahami sejarah Sumenep, Selain itu nantinya buku sejarah akan terstruktur dan bila dibutuhkan dikemudian hari maka bisa dilihat di gedung arsip tersebut.

“Kami berharap semoga  gedung arsip cepat terisi. Agar penempatan berkas  itu terkumpul dalam satu gedung arsip.  Dalam gedung arsip juga ada arsip vital termasuk sertifikat kepemilikan tanah dan Sertifikat lainnya. “Semuanya, masih belum ada isinya,” tandasnya. (imd/ito)

 

 

Komentar

News Feed