oleh

Banjir Sampang akibat Kurang Ampuhnya Penangkal Banjir

KABARMADURA.ID, SAMPANG-Sehari setelah surut, Sampang kembali diterjang banjir pada Selasa (12/1/2020). Banjir tersebut terhitung sudah kelima kalinya dalam sebulan terakhir, atau sejak awal Desember 2020.

Banjir akibat luapan air Sungai Kemuning itu, tercatatmerendam enam wilayah di Kota Sampang. Luapan itu diperparah kondisi air laut yang pasang, sehingga menghambat arus air.

Wilayah terdampak itu antara lain Desa Pangilen, Kamoning, Tanggumong, dan Gunung Maddah. Di area perkotaan, banjir merendam sebagian wilayah Kelurahan Dalpenang, Gunung Sekar, Karang Dalem, Rong Tengah, Polagan dan Banyuanyar.

Sebelumnya, atau sehari sebelum banjir kelima, Sampang juga dilanda banjir pada Senin (11/1/2021). Saat banjir kelima, banjir keempat belum sempat surut seluruhnya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sampang Asroni mengatakan, konisi banjir keempat dan kelima surutnya mengalami kelambatan. Sebab, kondisi air laut sedang pasang. Selain itu ada tambahan air hujan deras yang terjadi pada hari Senin sore. Akibatnya, ketinggian banjir keempat dan kelima masih lebih tinggi dari banjir sebelumnya.

BPBD belum bisa memprediksi kapan surutnya. Namun ia mengimbau kepada semua masyarakat untuk waspada, karena banjir tersebut datangnya tiba-tiba.

Kondisi air saat ini masih di atas ambang batas, seperti di Desa Pangelen. Genangan air masih berada di level merah. Seharusnya sudah surut pada sore harinya jika air laut tidak pasang.

“Semoga saja tidak hujan lagi agar tidak ada tambahan air. Dan surutnya ini juga tergantung kondisi air laut, karena sekarang air laut sering pasang maka mengalami keterlambatan,” ungkapnya, Selasa (12/1/2021).

Dalam rangka mengontrol kondisi air, pihaknya rutin keKecamatan Kedungdung, Robatal dan Banyumas. Sebab, wilayah tersebut merupakan perbukitan dan berada di sisi utara Kota Sampang. Sehingga ketika terjadi hujan deras dan arus air besar, maka area perkotaan akan terjadi banjir.

Saat itulah, semua petugas penjaga pompa air diintruksikan bersiaga untuk menyedot air. Sehingga jika air sudah masuk kota, penyedotan bisa langsung dilakukan, agar terjadinya genangan tidak terlalu lama.

“Di Kedungdung ada alat untuk melihat kondisi air, jika tinggi, kami siap siaga. Karena untuk menyedot air harus melihat ketinggian, jika kondisi sungai tinggi dan air laut pasang,meski di pemukiman tinggi, tidak kami sedot. Percuma, karena ketika disedot akan balik lagi,” imbuhnya.

Soal antisipasi penangkal banjir yang bersifat jangka panjang, Asroni mengaku sudah berupaya dengan cara mengeruk Sungai Kemuning dan memasang pompa air. Sejauh ini, belum ada rencana membuat bendungan dengan alasan masih terkendala ketersediaan lahan.

Selain itu, diakui kurangnya keberadaan biopori di Sampang, meskipun hal itu jadi salah satu cara untuk mengatasi banjir. Sebab, dengan adanya biopori, serapan air juga semakin cepat.

“Kami tidak memprioritaskan program mana yang harus dilakukan, tapi untuk menangani banjir ini perlu ada keterlibatan semua elemen, termasuk pemerintah provinsi dan pusat. Selain itu, hujan di Sampang ini tidak bersamaan dengan angin kencang. Belum ada laporan dari masyarakat terkait rumah yang rusak,” pungkasnya. (mal/waw)

 

Komentar

News Feed