Banjir Sampang dan Pamekasan Kembali Lumpuhkan Aktivitas Warga

  • Whatsapp
(FOTO: KM/JAMALUDDIN) BANJIR: Hujan lebat membuat sungai tidak mampu besarnya debit air dan akhirnya meluap. Pamekasan dan Sampang terdampak banjir pada Senin (11/1/2020).

KABARMADURA.ID, SAMPANG, PAMEKASAN – Beberapa hari terakhir, wilayah Sampang diguyur hujansecara terus menerus. Akibatnya, Sungai Kemuning kembali meluap. Luapan tersebut membuat sejumlah wilayah tergenang dan mengganggu aktivitas warga.

Berdasarkan data yang dihimpun Kabar Madura, ada 6 gedung sekolah yang tergenang air. Sedangkan wilayah pemukiman yang tergenang adalah di Desa Pangilen, Kamoning, Tanggumong, dan Gunung Maddah. Area perkatoran juga tidak luput dari genangan, seperti di Kelurahan Dalpenang, Gunung Sekar, Karang Dalem, Rong Tengah, Polagan dan Banyuanyar.

Bacaan Lainnya

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sampang Asroni mengatakan, banjir tersebut diakibatkan hujan yang terjadi di wilayah Kecamatan Kedungdung dan Robatal pada Minggu (10/1/2021). Deras dan lamanya intensitas hujan membuat Sungai Kemuning tidak mampu menampung besarnya debit air.

Sebelumnya, genangan tersebut hanya terjadi di sisi utara, namun secara perlahan air itu mengalir ke selatan.

“Banjir ini karena sebelumnya hujan di wilayah Robatal dan Kedungdung serta wilayah lainnya sangat deras selama empat jam. Jadi Sungai Kemuning dan tidak bisa menampung, akhirnya meluap,” tuturnya, Senin (11/1/2021).

Genangan air saat ini cukup lama, karena berdasarkan dari BMKG, puncak pasang air laut hingga pukul 23.00. Belum lagi, masih ada ancaman kembali terjadi hujan.Masyarakat yang terdampak diminta terus waspada. Karena banjir bisa datang kapan saja.

“Sekarang kondisinya mendung, khawatir hujan lagi. Dan surutnya air kali ini agak lambat karena air laut pasang,” imbuhnya.

Sejauh ini, upayanya adalah  mengendalikan air dengan pompa air yang telah tersedia. Air yang menggenang terus disedot untuk kembali disalurkan ke jalur sungai.

“Upaya yang kami lakukan ini hanya memaksimalkan 5 pompa yang ada,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMPN 6 Sampang Insiyatun mengatakan,sekolahnya memamng jadi langganan banjir setiap tahun. Namun, genangan air tersebut tidak menghambat proses belajar mengajar di sekolah. Karena saat ini proses belajar mengajar masih dilakukan sistem belajar dari rumah (BDR).

“Sekarang sitem BDR, tapi kalau lembaga memang langganan banjir,” pungkasnya.

Kondisi serupa juga terjadi di Pamekasan. Luapan Sungai Semajid mengakibatkan sejumlah wilayah tergenang. Bahkan pada Senin malam (11/1/2021), beberapa dam pengatur debit air sudah berstatus siaga.

Tinggi muka air di tiga dam pengendali air seperti Dam Samiran sudah mencapai 40 centimeter, Dam Klampar 140 centimeter, Dam Blumbungan 185 centimeter.

Sedangkan genangan air sudah dialami tiga kecamatan, yakni Proppo, Palengaan dan Pamekasan. Banjir di Kecamatan/Kota Pamekasan menggenangi tiga kelurahan, antara lain Parteker, Patemon dan Jungcangcang. Bahkan, air sudah menggenangi pusat kota, yakni di area Monumen Arek Lancor.

Di Palengaan, banjir menggenang di dua desa, yakni Desa Palengaan Daya dan Desa Rombuh. Sementar di Kecamatan Proppo hanya menggenang di Desa Kodik. Banjir tersebut diduga akibat banjir yang terjadi sejak Minggu (10/1/2021) di wilayah utara Pamekasan.   (mal/waw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *