Bantah Tudingan Legislatif, Dinkes: Alat Rapid Tes Sama dengan yang Digunakan Kabupaten Lain di Jatim

  • Whatsapp
(FOTO: KM/FA'IN NADOFATUL M.) KLARIFIKASI: Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan bersama bagian pengadaan barang dan jasa Dinkes Bangkalan memberikan klarifikasi alat rapid tes yang dimilikinya

Kabarmadura.id/Bangkalan– Kepala Dinkes Bangkalan Sudiyo membantah tudingan salah satu anggota legislatif Bangkalan yang menyebut alat rapid tes milik Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan abal-abal.

Menurutnya, alat rapid tes yang dimilikinya tersebut sudah sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Mengenai rekomendasi alat rapid tes sendiri, lelaki yang kerap disapa Yoyok ini menyampaikan, bahwa semua alat razid tes di Indonesia tidak memiliki rekomendasi dari Kemenkes.

Bacaan Lainnya

Sebab, alat rapid tes yang dipakai di medis saat ini belum ada penelitian yang resmi. Hanya saja, kata Yoyok, alat rapid tes yang dimilikinya tersebut merupakan alat rapid tes yang paling bagus dan paling banyak dicari oleh lembaga kesehatan di Indonesia.

“Distributor Global Sistec itu adalah distributor yang sudah berpengalaman bertahun-tahun di bidangnya di pengadaan alat kesehatan (Alkes). Itu sudah lama kerjasama dengan kami,” terangnya, Selasa (12/5/2020).

Lebih lanjut, Yoyok menuturkan, berdasarkan arahan dari Aparat Penegak Hukum (APH), ini adalah kondisi darurat nasional. Sehingga, ia harus memakai merk alat rapid tesnya yang sekarang. Sedangkan merk alat rapid tes yang biasa digunakan untuk melakukan pemeriksaan cepat tersebut adalah merek Edan.

“Di awal saya sudah pesan barang itu, rebutan luar biasa. Karena lebih dari ratusan negara berebut alat rapid tes merek itu. Kebetulan distributor yang biasa bekerja sama dengan kami itu bersedia menyiapkan alatnya,” tuturnya.

Lebih lanjut, dia memastikan bahwa alat rapid tes yang dimilikinya tersebut kelengkapan administrasi birokrasi sudah sesuai. Baik administrasi berupa izin dan rekomendasinya. Termasuk izin barang impor yang diperbolehkan.

“Kalau mau direkom atau tidak, itu butuh waktu penelitian. Minimal 1 atau 2 tahun. Bahkan rumah sakit Surabaya pun sama belum ada satupun yang diuji secara bersamaan. Bahkan juga pemakaian alat rapid tes ini tidak dipakai di Bangkalan saja, di kabupaten lainnya juga memakai merk yang sama dengan kami,” jelasnya.

Alat ini sendiri, kata Yoyok, merupakan alat yang di impor dari Cina. Dia memaparkan, bahwa alat yang dipakainya ini bukan pemeriksaan menggunakan sampel darah segar saja. Melainkan menggunakan sampel darah hemoglobinnya juga.

“Perkara korelasi valid atau tidaknya kami memang tidak bisa. Karena itu berhubungan dengan imunitas tubuh seseorang,” ungkapnya.

Sementara itu, Kabid Pengadaan Barang dan Jasa Dinkes Bangkalan Yuyun menambahkan bahwa untuk pembelian alat rapid tes milik Dinkes sudah melalui SAS. Kata Yuyun, merupakan izin dari rapid tes secara keseluruhan itu tidak ada satupun perusahaan yang mendapatkan nomor izin edar resmi dari pemerintah melalui Kemenkes. Tetapi sebagai gantinya  pemerintah melalui Kemenkes itu menerbitkan Special Acces Skyma (SAS) tersebut.

Di mana skema jalur khusus ini importir, distributor bisa mendatangkan alat rapid tes secara cepat yang memang sangat diperlukan untuk penanganan wabah Covid-19.

“Kami kebagian pengadaan bulan Maret melalui SAS, SAS sendiri sudah mendapatkan ijin dari Kemenkes,” katanya.

Sebelumnya, salah satu anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bangkalan Mahmudi yang dinyatakan reaktif covid-19 berdasarkan rapid tes tidak terima dengan hasil tersebut. Ia kembali melakukan pemeriksaan rapid tes di salah satu rumah sakit Surabaya dan menuding bahwa alat yang digunakan Dinkes Bangkalan bermerek Edan itu tidak mendapatkan rekomendasi dari Kemenkes.

Merek Edan itu, kata Mahmudi, tidak termasuk dalam 8 rekomendasi dari Kementerian Kesehatan dan WHO. Bahkan ia mengungkapkan, dari 15 alternatif alat yang direkomendasikan, juga tidak terdapat merek Edan tersebut.

“Baru di Bangkalan yang menggunakan merek Edan tersebut. Mungkin merek Edan ini lebih murah, sehingga barangnya bisa lebih banyak didapat. Saya yakin, kalau menggunakan alat merek Edan itu, 50 persen dari warga Bangkalan bisa saja positif Covid-19,” tukasnya. (ina/pai)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *