Banting Profesi Melawan Pandemi, dari Sopir Truk hingga Pembuat Miniatur Truk

  • Whatsapp
(FOTO: KM/HELMI YAHYA) TELATEN: Marzuki beserta teman-teman saat melihat miniatur truk di Desa Jaddih, Kecamatan Socah, Bangkalan.

KABARMADURA.ID, BANGKALAN – Kesungguhan Marzuki dalam mengembangkan hobinya patut diapresiasi. Yang awalnya sebatas hobi kini sudah menjadi peluang ekonomi. Belajar dari media sosial dan trial and error akhirnya bisa menghasilkan ratusan ribu.

HELMI YAHYA, BANGKALAN

Bacaan Lainnya

UNIK, Pembuatan miniatur truk dan berbagai replika kecil dari berbagai industri terus berkembang, bahkan pada industri skala kecil ketertarikan memiliki hiasan dan miniatur terus berkembang.

Salah satu yang dikembangkan oleh Marzuki adalah miniatur truk. Miniatur itu awalnya dibuat lantaran ingin membuat mainan untuk ponakannya. Tetapi karena merasa asik dan nyaman kemudian dijadikan sebagai hobi.

Lelaki dengan satu anak itu bekerja serabutan. Tetapi lebih sering menjadi supir truk antar daerah. Bagi Marzuki yang merupakan mantan perantauan, pekerjaan apapun harus senang disyukuri dan dinikmati. Sehingga ketika sudah menikmati pekerjaan, tidak akan ada istilah tertekan dan keberatan.

Bengkel tua yang menjadi lokasi pembuatan miniatur itu seolah menjadi tempat keluh kesahnya sejak pertama kali belajar membuat miniatur. Marzuki bersama kedua temannya Moh Faisal dan Ahmad belajar bersama. Tetapi karena kedua temannya sambil bekerja sebagai teknisi bengkel, Marzuki berhasil lebih dahulu menguasai teknik pembuatannya. ”Saya dulu belajarnya bersama, tapi karena lebih tekun dan memiliki waktu lebih banyak, saya lebih dulu paham,” kata pria kelahiran Bangkalan tersebut.

Kata Marzuki, beberapa kali percobaan pembuatan memang gagal. Hingga dirinya menghabiskan ratusan ribu untuk membeli bahan yang berulang kali rusak. Marzuki menilai kesulitan membuat miniatur itu adalah memperkirakan perbandingan dengan bentuk aslinya. ”Beruntung saya juga menjadi sopir truk, jadi sudah paham bentuknya di dalam,” jelasnya.

Marzuki yang hidup bertiga bersama istri dan anaknya itu masih bergantung pada pekerjaan Marzuki sebagai seorang supir truk. Sebab, miniatur truknya belum direncanakan akan dikembangkan dan akan dijual kepada para pengusaha.

”Saya awalnya hanya buat untuk hobi, dulu tidak ada niatan dan bahkan percaya bisa diminati dan dijual,” sebutnya.

Tetapi setelah ada yang menawar dengan harga lumayan, Marzuki tergiur untuk menjualnya. Sebab, miniatur truk dengan tingkat kesulitan mudah bisa dijual dengan nominal harga Rp 500 sampai Rp800 ribu. Sedangkan dengan tingkat kesulitan tinggi bisa mencapai Rp1 juta sampai Rp2 juta. “Masih baru jual beberapa, masih berencana untuk meningkatkannya melalui media sosial,” teguhnya.

Sedangkan menurut Faisal, proses belajar membuat miniatur truk itu tidaklah mudah. Sebab, pencarian bahan juga harus dipilih dengan baik.

”Selain kayu jati, kami juga memanfaatkan kayu seadanya, tetapi yang bentuknya sesuai,” tuturnya.

Kata Faisal, masing-masing dari mereka memiliki keahlian yang berbeda. Meski saling menguasai. Tetapi jika Marzuki lebih paham dan bagus menggarbar pada bagian pembentukan bidang atau bentuk garapan. Sedangkan Ahmad lebih ahli pada bagian ukiran, las dan dan reparasi sambungan bahan.

”Kami semua seolah kebetulan memiliki kesukaan dan hobi yang sama, jadi sama sama senang jati membuatnya,” cerita Faisal.

Sedangkan kata Ahmad dirinya merasa cukup mensyukuri dan berbahagia. Sebab, dalam proses penggarapan ada rasa kesenangan yang membuat dirinya puas. Sehingga tak peduli hobinya nanti akan membantu perekonomian atau tidak, dirinya akan tetap melanjutkan dan mengembangkannya,” pungkasnya. (mam)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *