oleh

Bantuan Masker Swadaya di Kabupaten Sumenep Dipastikan Sulit Terealisasi

KABARMADURA.ID, Sumenep – Realisasi masker sebagai antisipasi menyebarnya Covid-19 di Kabupaten Sumenep Terancam tidak berjalan lancar. Bahkan bantuan swadaya tersebut dipastikan sulit terwujud. Sebab, semua masyarakat terkena dampak. Hal ini diungkapkan, Kepala Bidang (Kabid) Pemdes Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Sumenep, Supardi, Kamis (01/10/3020).

Menurutnya, realisasi bantuan swadaya masker itu berdasar surat edaran (SE) Kemnteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) Republik Indonesia Nomor S.2294/HM.01.03/VIII/2020 tentang kewajiban pengadaan masker bagi kepala desa (kades).

Dalam SE yang ditandatangani pada 4 Agustus tetsebut, Kemendesa dan PDTT mewajibkan kades untuk mengadakan 4 masker kain yang bersumber dari dana desa (DD) melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Rinciannya, ssebanyak 2 masker dan 2 masker lagi dari swadaya warga yang mampu (gotong royong).

“Untuk program penganggaran atau pendistribusian empat masker ke setiap masyarakat di desa memang tidak lah mudah, apalagi memang selama ini seluruh masyarakat terdampak, yang sulit direalisasikan itu yang swadaya, kan duanya dari DD yang duanya swadaya. Maka kondisinya masyarakat sudah kenak dampaknya semua,” ujarnya.

Pardi menambahkan, untuk masker yang dianggarkan dari DD dipastikan seluruh desa di kabupaten paling timur Pulau Madura ini sudah melaksanakannya. Sebab, dalam surat tersebut juga disampaikan guna memberikan kenyamanan kepada masyarakat di desa maka diadakan setengah miliar masker yang harus dibagikan secara gratis kepada masyarakat.

“Maka sudah terhitung sejak DD bisa digunakan untuk dana Covid-19, pada tahap pertama kemarin. Kami mengetahui, dari SPJ atau laporan belanja DD nanti kami mengetahui belanja atau tidaknya. Dan seluruh desa sejak awal sudah melaksanakan itu,” imbuhnya.

Sementara itu, salah satu Sekretaris Desa (Sekdes) di Sumenep Suaidi menyampaikan, jika belanja DD dibuat untuk pengadaan masker masih memungkinkan, tapi untuk gerakan swadaya pihaknya masih mikir dua kali. “Kalau swadaya tidak tahu ya, wong semuanya sama-sama terdampak kok,” paparnya. (ara/ito)

Komentar

News Feed