oleh

Banyak Warga Takut Divaksin, Dinkes Sampang Diminta Tegas Edukasi

KABARMADURA.ID, SAMPANG-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang kembali menerima vaksin Covid-19 tahap kedua sebanyak 1.390 dosis, sekitar pukul 20.00 WIB (23/2). Jumlah tersebut akan direalisasikan kepada 6000 sasaran, yang semuanya merupakan pekerja publik.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinkes Sampang, Agus Mulyadi menyampaikan, alokasi vaksin  tahap kedua datanya sudah ditentukan oleh pemerintah pusat berdasarkan pengajuan sebelumnya. Sehingga terdapat 1.390 dosis vaksin yang dialokasikan ke kabupaten berjuluk Kota Bahari itu.

Sementara itu, sasaran penyuntikan vaksin  yaitu pekerja publik. Seperti guru, Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), aparatur sipil negara (ASN), pejabat daerah, tokoh agama, jurnalis, Satpol PP, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), dan pedagang.

“Sasarannya itu kurang lebih 6000, dan itu sudah ditentukan oleh pemerintah pusat,  detail dari masing-masing instansi tidak hafal. Yang jelas 1.390 vaksin itu mencukupi untuk 6000 sasaran,” tuturnya, Rabu (24/2/2021).

Selanjutnya, 1.390  vaksin mencukupi untuk 6.000 sasaran lantaran vaksin tahap kedua ini beda dengan vaksin tahap pertama. Sebab, satu botol vaksin bisa digunakan untuk 10 sasaran. Sementara yang tahap pertama  hanya untuk satu orang.

Terkait  teknis teknis penerimaan vaksin tetap melalui beberapa  tahapan, seperti cek kesehatan dan interview mengenai riwayat penyakit yang diderita. Semisal orang yang sakit jantung dan asma tidak bisa divaksin. Selain itu, ada notifikasi pesan ke seluler dari pemerintah pusat.

“Yang kemarin itu single duos, sekarang multi duos, jadi satu botol itu untuk 10 orang. Pelaksanaan vaksinasi dilakukan di semua puskesmas. Dan penyuntikan dilakukan pada Rabu (24/2) kemarin di Mapolres Sampang,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Pansus Covid-19 DPRD Sampang, Moh Iqbal Fathoni mengatakan, Dinkes Sampang harus tegas dalam merealisasikan vaksin tersebut, yaitu dengan cara mengedukasi masyarakat mengenai vaksinasi. Sebab, banyak masyarakat yang ketakutan untuk menerima vaksin.

Dia menambahkan, selain itu, karena semua pekerja publik seperti guru menjadi sasaran vaksin, maka ke depan harus memberikan  contoh, agar orang tua siswa itu menerima adanya vaksin. Hal itu dikatakan, lantaran menerima laporan masyarakat bahwa anaknya tidak akan disekolahkan apabila mau divaksin.

“Dalam merealisasikan vaksin ini harus tegas, jadi semua nakes dan guru itu harus menerima jika divaksin. Jika tidak, malah menjadi contoh yang buruk,” singkatnya. (mal/maf).

Komentar

News Feed