Bappeda Pastikan Libatkan Masyarakat Cairkan Polemik Penolakan Tambang Fosfat

  • Whatsapp
(FOTO: KM/IST) KOMPAK: Berbagai aliansi dan komunitas sudah menyatakan sikap menolak review RTRW yang diduga memudahkan praktik yang merusak lingkungan.

KABARMADURA.ID, SUMENEP-Draf review Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Sumenep yang dinilai akan mendatangkan masalah, akan dibahas pada Agustus 2021 mendatang.Revisi RTRW itu ditolak sejumlah pihak, karena berindikasi menghalalkan pengelolaan penambangan fosfat di Sumenep.

Karena mengancam kelestarian lingkungan,gelombang penolakan bermunculan dari kalangan ulama, tokoh masyarakat, fraksi-fraksi DPRD Sumenep dan aktivis.

Bacaan Lainnya

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumenep Yayak Nurwahyudi mengatakan, saat ini draf itu masih mentok di Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim). Padahal untuk revisi RTRW juga membutuhkan rekomendasi dari pusat.

“Maret ini kami pastikan di provinsi selesai. April sampai Juni sudah selesai di Jakarta, setelah itu, kami serahkan langsung ke DPRD Sumenep,” katanya, Kamis (18/2/2021).

Sehingga ketika sudah sampai atau akan dibahas di DPRD Sumenep, maka pihaknya memastikan keterlibatan banyak pihak, seluruh stakeholder dan perwakilan masyarakat.

Yayak memastikan, jika masyarakat keberatan dengan adanya revisi RTRW tersebut, maka sebagai perwakilan pemkab, tidak segan-segan menggagalkan revisi tersebut.

“Agustus secara otomatis dibahas dengan tokoh masyarakat dan pihak lainnya. Jika nanti RTRW ditolak, maka secara otomatis ya tidak bisa disahkan,” imbuhnya.

Polemik perubahan RTRW sudah cukup banyak memantik reaksi kelompok masyarakat.Mulai Forum Sumenep Hijau yang terdiri dari ulama sepuh, juga banyak kelompok lain seperti Front Keluarga Mahasiswa Sumenep (FKMS). Bahkan lebih separuh fraksi di DPRD Sumenep ikut menolak.

Komunitas lain yang menolak juga ada Aliansi Mahasiswa Sumenep (AMS), Front Aksi Mahasiswa Sumenep (FAMS), Pemuda Kecamatan Ganding yang mengatasnamakan Solidaritas Sadar Lingkungan Ganding (Solid) dan beberapa komunitas lokal lainnya. Penolakakan dalam rangka memelihara kelestarian lingkungan Kota Keris ini.

Forum Sumenep Hijau misalnya, melakukan istigasah dan diskusi tentang penolakan wacana penambangan fosfat pada hari kamis 11 Februari 2021. Acara yang digelar di Pondok Pesantren Annuqayah Latee itu dihadiri oleh kiai NU se-Kabupaten Sumenep.

Penolakan lain terhadap review RTRW 2013-2033, selain disampaikan secara terang-terangan seperti istigazah dan kajian, juga ada audiensi yang dilakukan mahasiswa dengan cara unik.

Misalnya komunitas Solid yang menggelar ritual bertajuk, “Rokat Gunung, Konser dan Orasi Lingkungan”. Kegiatan itu dilaksanakan bersama kiai-kiai, perwakilan DPRD, dan tokoh masyarakat. (ara/waw)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *