oleh

Barang Impor Beredar, Garam LokalBanyak Mengendap di Gudang

Kabarmadura.id-Tokoh nasional asal Madura, Achsanul Qosasi, merasa geram dengan banyaknya hasil garam di Indonesia yang tidak terserap. Dalam pengamatannya, hal itu tidak terlepas dari dampak barang impor yang masih banyak beredar di Indonesia.

Sejatinya, pimpinan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) tini idak mempermasalhkan Indonesia mengimpor garam, namun harus tepat waktunya, agar tidak membuat hasil garam lokal tidak terserap. Terlebih, hasil yang dinikmati petambak sedikit setelah dikurangi biaya konsumsi dan produksi.

“Jika impor salah waktu, maka petani yang jadi korban. Barang impor tetap beredar. Hasil petani tak terserap. Di sinilah negara hadir. Nilai tukar petani adalah hasil penerimaan petani dalam menjual hasil taninya dibanding dengan kebutuhan konsumsi petani dan harga biaya produksi pertaniannya,” ujarpria yang familiar disapa AQ ini, Selasa (23/6/2020).

Sebelumnya, PT. Garam berencana mengekspor puluhan ribu ton garam ke Kanada yang direncanakan mulai Agustus 2020. Sayangnya, Badan Usaha Milik Negera (BUMN) yang bergerak dalam produksi garam itu tidak menyerap garam rakyat dalam rencana ekspornya.

Berdasarkan data Dinas Perikanan (Diskan) Pamekasan per22 Mei 2020, garam rakyat yang belum terserap sebanyak 26.403,7 ton. Sementara, harga garam pasaran di Pamekasan berkisar di angka Rp250 hingga Rp300 perkilogram.

Sedangkan berdasakan data Diskan Sampang, garam rakyat di Sampang yang belum terserap lebih dari 280 ribu  ton. Sementaraharga di pasaran untuk kualitas I (KW1) berkisar di angka Rp250 perkilogram.

Sementara Asosiasi Petani Garam (APG) mencatat, sekitar 90 ribu ton garam di Sumenep masih di gudang petambak alias belum terserap. Mengenai harga, rata-rata dibeli sebilai Rp450 per kilogram untuk KW1.(idy/waw)

GARAM RAKYAT BELUM TERSERAP

Pamekasan: 26.403,7 ton

Harga: Rp250 hingga Rp300/kg

Sampang: 280.000 ton

Harga: Rp250/kg

Sumenep: 90 ribu ton

Harga: Rp450/kg

Sumber: Dinas Perikanan (Diskan) Pamekasan, Diskan Sampang,Asosiasi Petani Garam (APG)

Komentar

News Feed