Baru Tujuh Produk Tembus Pasar Modern

  • Whatsapp
MINIM: Disperindagprin Sampang menyebut produk lokal yang bisa dipasarkan di retail modern hanya tujuh dari total ratusan produk.

Kabarmadura.id/Sampang-Keseriusan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindagprin) Sampang, untuk mendorong dan menyediakan akses pemasaran hasil Industri Kecil Menengah (IKM) atau produk lokal masih diragukan. Pasalnya, hingga saat ini, baru ada tujuh produk lokal yang bisa menembus pasar retail modern, padahal jumlah produk lokal di Kota Bahari mencapai ratusan.

Kepala Disperindagprin Sampang Wahyu Prihartono mengatakan, produk lokal yang sudah memenuhi standar pemasaran retail modern, berjumlah 132 produk. Produk itu sudah dipasarkan secara online melalui web resmi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang.

Dirinya mengakui, produk lokal khas kota Bahari yang sudah di pasarkan di retail modern sangat minim. Menurutnya, produk lokal untuk bisa dipasarkan di sejumlah retail modern, harus memiliki standar tersendiri.

Ada sejumlah standarisasi yang harus dipenuhi produk lokal untuk bisa masuk ke retail modern. Di antaranya, produk yang dihasilkan harus berbeda dan memiliki keunikan serta ciri khas tersendiri, tidak cukup hanya memenuhi standar industri, sehingga tidak bisa memaksa semua produk lokal dapat di tampung di retail modern.

“Sampai saat ini baru tujuh produk yang sudah di pasarkan di retail modern, karena pihak pengelola tidak menerima kalau produknya sama, harus beda dengan produk yang lain,” kata Wahyu Prihartono kepada Kabar Madura, Senin (30/9).

Lebih lanjut dirinya menjelaskan, sejauh ini pihaknya sudah mengajukan sebanyak 16 produk lokal untuk dipasarkan di retail modern. Namun yang diterima hanya tujuh produk. Untuk itu, dalam waktu dekat, pihaknya berjanji akan mengajukan lagi sebanyak 28 produk untuk dipasarkan di retail-retail modern di berbagai daerah.

Lanjut Wahyu (sapaan akrabnya), saat ini akses pemasaran produk lokal sudah bisa secara online dan offline, seperti melalui central IKM serta toko-toko online, sehingga akses pemasaran tidak terpaku terhadap pasar modern.

“Kita hanya sebatas mengajukan kepada pihak pengelola retail modern, sedangkan yang menentukan menerima produk ini, yakni pengelola retail, kami tidak bisa memaksa, karena ini hanya inovasi dalam meningkatkan akses pemasaran,” dalihnya.

Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi II DPRD Sampang Alan Kaisan mendesak Pemkab Sampang untuk memasarkan produk UMK dan IKM masuk ke retail modern. Pihaknya meminta, di setiap retail modern di wilayah itu harus disediakan tempat khusus untuk produk lokal.

Selain itu, Alan akan mengusulkan regulasi berupa Peraturan Daerah (Perda) inisiatif yang mewajibkan pasokan produk UMK dan IKM ke ritel modern sebanyak 40 persen sampai 60 persen dari total barang yang tersedia dalam gerai modern tersebut. 

“Kami minta pengelola retail modern ini, wajib menyediakan tempat khusus, guna menampung produk-produk lokal. dan juga upaya pendampingan, promosi dan pemasaran produk lokal harus terus ditingkatkan oleh pemerintah daerah,” pintanya, (sub/pin).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *