Upaya Melestarikan Batik Ghentongan Khas Tanjungbumi

  • Whatsapp
(FOTO: KM/HELMI YAHYA) TELITI: Darmayanti saat membatik di kediamannya Desa Tanjungbumi, Kecamatan Tanjungbumi Bangkalan, kemarin.

KABARMADURA.ID – Batik khas asal Bangkalan yang dikenal luas oleh masyarakat ternyata diwariskan secara turun temurun. Seperti halnya dengan Batik  Ghentongan dari Desa Tanjungbumi yang merupakan peninggalan nenek moyang.

HELMI YAHYA, BANGKALAN

Bacaan Lainnya

Motif batik yang ada di berbagai daerah mencerminkan kekayaan budaya Nusantara. Semisal Batik Ghentongan asal Desa Tanjungbumi, Madura. Batik tersebut memiliki corak khas yang cukup unik dan menarik.

Batik Ghentongan merupakan asli karya pembatik daerah tidak bisa dijumpai di daerah lain. Sebab, proses pembuatan batik tersebut diajarkan secara turun temurun di lingkungan desa itu. Pembatik dari desa atau daerah lainnya akan kesulitan untuk meniru cara pembuatan batik tersebut, karena prosesnya pun berbeda dengan pembuatan batik pada umumnya. .

Pembuatan Batik Ghentongan dilakukan secara detail. Setiap tahapan dilakukan dengan teliti. Batik yang asli menggunakan teknik ghentongan harus direndam selama 30 hari dalam ghentong.

Berbagai macam warna yang digunakan juga sangat khas, mengacu pada warna klasik yang berdasar pada warna merah dan hitam. Sebab, warna tersebut dinilai lebih kuat dan menggambarkan ciri khas Madura.

Batik dengan motif ghentongan juga memiliki serat halus dan warna sangat mencolok, baik di bagian luar dan dalam. Sehingga, hal tersebut juga menentukan harga yang dibanderol oleh pembatik. Taksiran harga mencapai puluhan juta rupiah untuk satu kain Batik Ghentongan ukuran persegi panjang. ”Kalau asli ghentongan. tidak yang palsu, pasti harganya mahal, karena memang kualitasnya lebih bagus,” tutur Damayanti ketua Asosiasi Pembatik Bangkalan.

Menurutnya, hampir semua warganya di Desa Tanjungbumi mata pencahariannya sebagai pembatik. Sehingga di desanya kerap kali dilabeli sebagai Desa Batik. Selain menyediakan berbagai macam.motif Batik Ghentongan, pengunjung juga bisa melihat langsung proses membatik. ”Kami terus menekuni, karena ini adalah warisan dari leluhur, sehingga sudah menjadi tugas kami mengembangkannya,” ujar perempuan berusia 38 itu.

Selain itu, dirinya juga mengaku tengah mencoba mempromosikan di berbagai media sosial. Sebab, katanya bersaing tidak boleh hanya dengan cara yang biasa. Cara yang bisa dilakukan salah satunya dengan mempromosikan secara online. Dengan harapan bisa menarik lebih banyak peminatnya. ”Saya juga harus bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan teknologi, karena kalau tidak, usaha ini bisa saja terancam,” paparnya. (maf)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *