Batik Khas Bangkalan Dijiplak, Pembatik Meradang

  • Whatsapp
BUTUH KESIGAPAN: Motif batik khas Bangkalan ditemui di pasar wisata di Pekalongan dan Lamongan yang disuplai bukan dari Bangkalan.

KABARMADURA.ID | BANGKALAN-Karya motif batik khas Bangkalan rupanya bisa ditemui di beberapa lokasi wisata di sekitar Pekalongan dan Lamongan. Batik yang di Bangkalan dibuat dengan teknik Ghentongan dan tulis diduga dijiplak dengan teknik cap dan juga print.

Sedangkan harga yang ditawarkan jauh lebih murah dari aslinya. Temuan  tersebut membuat pengusaha batik Bangkalan meminta Dinas Perindustrian dan Ketenagakerjaan Bangkalan  memberikan solusi. Jika tidak, maka perlahan akan mematikan pengusaha batik di Bangkalan.

Salah satu pengusaha batik di Bangkalan Sufi’atin mengaku, beberapa pekan lalu menemukan motif batik yang sama seperti milik Bangkalan, yakni motif Ajham Kathe. Tetapi bedanya, batik yang ditemui menggunakan print, sedang di Bangkalan adalah batik tulis.

“Awalnya saya juga kurang percaya, karena saya kira hanya mirip, ternyata tidak, memang sama.” katanya.

Wanita yang biasa disapa Supi’ ini menduga batiknya telah dijiplak oleh pengusaha lain di luar Bangkalan. Sebab, saat ditanya pada penjual, dikatakan dapat tawaran barang tersebut dari kerabatnya. Sehingga tidak tahu betul asal daerah yang menghasilkan motif dan corak tersebut.

“Dia katanya dapat dari saudaranya di Pekalongan, tapi tidak tahu jelas motif ini berasal dari mana. Ini harus ada tindakan, jangan biarkan karya kami di klaim oleh daerah lain,” ulasnya.

Usai menemui kejadian tersebut, Supi’ menduga tidak hanya satu atau dua motif batik yang ditiru. Sehingga sudah seharusnya ada tindak lanjut dari pemerintah. Mengingat, setiap motif memiliki khas yang berbeda dan sudah seharusnya menghormati motif dari daerah lain.

Dinas Perindustrian dan Ketenagakerjaan Bangkalan dituntut segera mengambil kesempatan untuk melindungi para pengusaha batik. Sebab jika tidak, maka industri batik di Bangkalan bisa mati.

Sedangkan Kepala Disperinaker Bangkalan Agus E Leandy melalui Kabid Industri Non Agro, Mitha, menyampaikan bahwa dirinya belum menerima laporan tersebut secara langsung. Sebab jika memang dirasa ada dugaan penjiplakan, harusnya ada laporan langsung dan buktinya.

“Kalau tidak ada bukti, kami bagaimana bisa menindak lanjutinya,” katanya.

Selain itu, jika memang benar berkaitan dengan penjiplakan karya yang sudah memiliki hak kekayaan intelektual, maka urusannya nanti dengan hukum. Karena sudah jelas melanggar merugikan orang lain. Untuk sementara, masih akan dikoordinasikan, kemudian memikirkan langkah selanjutnya.

“Kalau memang benar, nanti akan berurusan dengan aparat penegak hukum lagi,” tegas Mitha.

Reporter: Helmi Yahya

Redaktur: Wawan A. Husna

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *