Bayangkan Ramadan Terakhir untuk Bekal Hidup Abadi

Yayak Nurwahyudi: Kepala Bappeda Sumenep

Tanpa terasa sudah masuk Ramadan lagi, begitulah waktu ketika dijalani begitu singkat. Sama halnya dengan kehidupan yang sering menjadi tanya satu sama lain

“Apakah usia bakal sampai lagi ke bulan puasa bulan depan?” Belum tentu juga kan!

Apalagi jarak makhluk hidup, manusia pada khususnya sangat dekat. Sudah banyak cerminan dalam lingkungan sekitar, tetangga terdekat bahkan keluarga misalnya. Waktu sore masih enak-enak bercanda ria, habis Isya’ sudah ada kabar si Fulan meninggal tanpa sakit. Ada yang pamit ambil rumput untuk sapinya, tidak sampai tujuan meninggal tersengat listrik. Begitu dekatnya kematian.

Maka dengan demikian pada bulan yang penuh dengan ampunan, penuh dengan lipatan pahala, haruslah digunakan semaksimal mungkin. Setiap gerak yang bernilai positif adalah ibadah dan penuh berkah jika dilakukan di bulan suci ini.

Banyak cara memetik hikmah, sebab setiap saat manusia sedang dilatih. Seperti contoh, bangun seperti tiga malam. Satu bulan penuh umat Islam khususnya dituntut untuk bangun sahur. Maka ketika sudah bangun, bisa dijadikan kesempatan untuk menabung pahala.

Baca Juga:  Mengenal Kiprah Cahaya Langit Pamekasan: Menjembatani Kebaikan, Menjadi Sahabat Duafa, Yatim, dan Mualaf¬†

Salah satu caranya dengan salat malam bagi yang tidak biasa melakukan, sehingga lambat laun bisa dibiasakan. Jarak dengan salat Subuh waktu sahur juga sangatlah dekat, bisa dimanfaatkan salat berjemaah baik dengan keluarga namun lebih utamanya di masjid.

Banner Iklan Lowongan Kerja

Pada bulan Ramadan jadwal kerja juga dipersingkat terutama bagi aparatur sipil negara (ASN), sehingga banyak waktu untuk diisi dengan kegiatan-kegiatan bernilai ibadah, baca Al-Quran misalnya, itu sangat luar biasa keutamaannya.

Bekerja menunaikan amanah juga ibadah yang luar biasa keutamaannya, besar pahalanya, apalagi untuk memenuhi kebutuhan keluarga, itu bisa menjadi amal jariyah amal yang tidak akan putus kebaikan meski yang bersangkutan sudah meninggal.

Baca Juga:  Gus Aliyadi Minta Pemprov Jatim Jaga Stabilitas Harga

Dengan jadwal yang tidak terlalu ditekan ini tentu tingkat kecapean jasmani juga dapat diminimalisir, maka tentu umat muslim mempunyai banyak kesempatan bermunajat memohon ampunan terhadap dosa-dosa terdahulu, siapa tahu ini bulan Ramadan terakhir! Kan tidak ada yang tahu.

Juga di bulan yang istimewa ini ada satu malam yang malam itu jika manusia beribadah pahalanya sama dengan seribu bulan, itu bisa sambil lalu ditunggu, karena tidak semua umat menikmati kesempatan itu. Sebab malam itu bakal turun pertengahan sampai akhir Ramadan, sehingga butuh latihan menikmati dzikir diwaktu malam, utamanya menjelang sahur.

Tentu dengan beberapa pelajaran di lingkungan sekitar, manfaatkanlah waktu sehat, bulan Ramadan ini jadikan media mendekat diri pada sang Pencipta dengan mengharapkan ridla-Nya. Sebab di kehidupan kedua nanti bakal abadi, maka manusia itu butuh bekal kebaikan. Sementara bulan Ramadan adalah gudangnya kebaikan.

Banner Kabar Sastra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *