Beasiswa untuk Mahasiswa Asing: Belajar dari Amanatul Ummah

  • Whatsapp

Oleh: Fathorrahman*)

Kekuatan ekonomi suatu negara selalu saja bergaris lurus dengan kondisi pendidikan negara dimaksud. Keduanya saling memberi dampak pada masing-masing. Negara dengan ekonomi yang kuat, akan dengan mudah membiayai pendidikan di dalam negerinya agar menjadi maju. Bahkan menawarkan banyak kuota beasiswa untuk pelajar dari luar negeri. Amerika dan sejumlah negara di Eropa sebagai contohnya.

Namun, ada keanehan yang mengganggu pikiran penulis: Mesir dengan kondisi ekonomi—bahkan politik—yang tidak lebih baik dari Indonesia justru memberi banyak beasiswa kepada para pelajar dari Indonesia. Berkebalikan dengan Indonesia yang kurang memberi perhatian kepada masalah ini. Memang, sejak tahun 2017, melalui beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (Developing Countries Partnership/KNB), Indonesia mulai memberi beasiswa kepada para pelajar Mesir untuk belajar di sejumlah universitas di Indonesia (sumber: www.kemdikbud.go.id). Tapi dari sisi jumlah penerima, masih jauh sekali dibanding beasiswa yang diberikan Mesir kepada para pelajar Indonesia karena memang “kesadaran” pemerintah Indonesia mengenai hal ini jauh lebih akhir daripada Mesir.

Bahkan, untuk mahasiswa Indonesia sendiri yang sedang belajar di Al-Azhar, kepedulian pemerintah Indonesia masih kurang. Padahal, sejak pertengahan 1990-an, terdapat 4.000 sampai dengan 5.000 pelajar Indonesia yang menjadikan Mesir sebagai tujuan belajar setiap tahunnya. Mona Abaza, peneliti pelajar Indonesia di Mesir, menyebut mereka dengan “Indonesian Azhari” (Mona Abaza, a Profile of an Indonesian Azhari Living in Cairo, Archipel, volume 52, 1996).

Keganjilan kedua adalah Turki. Memang, terkadang ekonomi Turki tumbuh meroket. Tetapi juga seringkali mengalami turbulensi ekonomi dan mengalami krisis akibat situasi politik dan sosial yang tak stabil. Nilai tukar Lira (mata uang Turki) yang terjun bebas terhadap Dolar dengan inflasi yang cukup tinggi dan angka pengangguran besar. Namun, Turki memberi banyak beasiswa kepada pelajar Indonesia. Berkebalikan juga dengan Indonesia kepada pelajar dari Turki. Jumlah pelajar Indonesia yang menerima beasiswa dari Pemerintah Turki terus bertambah. Terdapat 2.700 pelajar Indonesia yang sedang belajar di Turki.

Kondisi ekonomi Indonesia yang baik dengan situasi politik dan sosial yang stabil, perlu memperluas jangkauannya dengan menawarkan sejumlah beasiswa untuk para pelajar dari negara lain di Indonesia. Sejumlah universitas terbaik juga bisa menjadi tujuan belajar para pelajar asing itu. Perhatian negara lain kepada pelajar Indonesia di negara mereka dengan menggelontorkan banyak beasiswa, menjadi pemicu yang baik untuk lahirnya maksud di atas.

Amanatul Ummah sebagai Fenomena

Selain sejumlah tawaran beasiswa dari pemerintah Indonesia kepada para pelajar dari negara lain—walau dalam jumlah yang tidak besar—terdapatlah Pondok Pesantren Amanatul Ummah yang melakukan terobosan yang tak tanggung-tanggung. Pondok Pesantren yang ada di Pacet, Mojokerto, Jawa Timur ini memberikan beasiswa kepada para pelajar asing—selain kepada pelajar dalam negeri—dari banyak negara untuk belajar di pesantren Amanatul Ummah yang mengelola banyak lembaga pendidikan.

Menariknya lagi, beasiswa tersebut dari uang pribadi pengasuh yang sekaligus pendirinya, yaitu Profesor KH. Asep Saifuddin Chalim. Telah banyak pelajar dari negara lain yang belajar di pesantren ini dengan beasiswa dari Kiai Asep. Di antaranya dari: Uzbekistan, Pakistan, Kazakhstan, Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Afghanistan (Wawancara dengan Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, MA., Rabu, 1/9/2021, pukul 09:24 Wib).

Penulis termasuk dekat dengan pengasuh Amanatul Ummah. Dalam seminggu, bisa dua sampai tiga hari tinggal di pesantren ini. Sehingga penulis sangat memahami denyut nadi kehidupan di pesantren ini. Termasuk dalam hal ini adalah banyaknya beasiswa untuk pelajar dari banyak negara tersebut yang sumber dananya dari uang pribadi Kiai Asep. Sehingga dalam tahap ini, penulis berani menyebut hal tersebut sebagai sebuah fenomena!

Sejumlah wawancara dengan Kiai Asep dapat pembaca nikmati di beberapa kanal Youtube. Tetapi, penulis memang mengetahui secara detail prinsip-prinsip yang dipedomani oleh Kiai Asep dalam memperjuangkan pendidikan Islam di Indonesia. Pesatnya perkembangan pendidikan di Amanatul Ummah tidak menjadikan Kiai Asep sebagai pemburu bantuan dana pemerintah. Bahkan, Kiai Asep sangat tidak berkenan menerima bantuan dana dari pemerintah. Dalam sejumlah perbincangan dengan penulis, beliau selalu menyatakan bahwa yang beliau kejar adalah keberkahan untuk santri-santri Amanatul Ummah.

Pemberian beasiswa untuk pelajar luar negeri di Amanatul Ummah ini merupakan oase yang luar biasa. Amanatul Ummah telah menjadi salah satu tujuan belajar pelajar asing yang diminati di Indonesia. Sebagai negara berpenduduk muslim mayoritas, fenomena ini merupakan kebanggaan bagi Indonesia di dunia Islam.

*) Fathorrahman; peserta Wisuda Program Magister (S-2), asal Sumenep Madura pada Institut Pesantren KH. Abdul Chalim (IKHAC) Pacet, Mojokerto, Angkatan ke-II, Agustus 2021.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *