Bedah Buku Acara Rutin UNIBA FM

  • Whatsapp
(FOTO: KM/IST)  EDUKATIF: Bedah buku bersama Izuddin A. Hakkim, S.Sos., M. TESOL pada kegiatan pekan sebelumnya.

KABARMADURA.ID, SUMENEP – Universitas KH Bahauddin Mudhary (UNIBA) Madura, Selasa (19/2) melangsungkan kegiatan bedah buku The Art of Thinking Clearly karya Rolf Dobelly yang membahas tentang bagaimana cara berpikir lebih jelas.

Sebagaimana disampaikan Humera Asad Ullah Khan, S.E., MM., kegiatan itu dikemas dengan santai namun memberikan ilmu dan wawasan yang sangat baik bagi generasi muda khususnya para mahasiswa.

Bacaan Lainnya

Kegiatan bedah buku rutin digelar dua pekan sekali yang disiarkan di radio komunitas UNIBA Madura itu, setidaknya tersapat 99 sub bab dalam buku tersebut. Namun, bedah buku itu  hanya membahas enam bab yang dinilai cukup penting.

Pembahasan pertama, mengenai survivorship bias yang mana membahas tentang cara pandang yang tanpa sadar hanya melihat seseorang dari sisi keberhasilannya saja dan mencoba untuk meraih hal yang sama tanpa belajar dari kegagalan orang. Di bab ini titik fokusnya adalah cara memandang kegagalan orang lain sebagai pembelajaran.

Kemudian, swimmar’s body illusion yang mengungkap pemikiran kota yang kadang kala mengalami konitive error. Yakni, menilai dari apa yang didapatkan. Di sini dibahas bagaimana membedakan antara hasil yang didapat dengan proses seleksi yang dilakukan. Sehingga pemikiran akan suatu objek tertentu tidak hanya terbatas atau tertuju pada hasilnya, tapi juga prosesnya.

“Lalu mengenai sosial praaf yang membahas tentang kesalahan berfikir yang mana mengangkap apa yang kita lakukan itu benar karna kebanyakan orang juga melakukannya. Hal ini di tujuan agar kita bisa berpikir dan mengambil keputusan terlepas dari pengaruh orng lain. Ada pula tentang sunk cost fallacy,” papar Humera.

Pembahasan selanjutnya adalah confirmation bias yang mabahas dan mencegak kita berpikir subjektif.

“Hal ini karena sering kali kita membuat kesimpulan atau pernyataan terlebih dahulu baru melihat teori-teori yang ada. Hal ini tanpa sadar membuat kesimpulan yang lebih dulu kita buat itu benar dengan mencocokkan dengan teori yang ada tanpa melihat permasalahan yang jelas,” urainya.

Lalu yang terakhir tentang hello effect. “Hal ini membahas tentang anggapan akan seseorang yang baru kita kenal atau temui dari perspektif cara pandang kita tanpa mengenalnya lebih dulu,” pungkasnya. (ara/ong)

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *