oleh

Belajar Berdamai Dengan Rasa Benci

Peresensi : Rifky Azhari Amri

Lagi-lagi, Tere Liye menyihir pembaca dengan kisah yang luar biasa. Sebuah novel tentang perjalanan, kesetiaan, hingga pengkhianatan. Novel Pulang yang bercerita tentang perjuangan hidup seorang lelaki bernama Bujang. Kehidupan membawanya pada perjalanan panjang yang membuatnya mampu belajar banyak hal. Ditambah dengan wataknya yang tidak punya rasa takut, membuat ia dijuluki “Si Babi Hutan”oleh semua orang.

Novel ini bercerita tentang Bujang. Seorang anak laki-laki yang diangkat menjadi anak seorang Tauke Besar; bandit besar keluarga paling berkuasa di negeri itu. Keluarga paling kaya yang turut ambil bagian dalam shadow economy, yaitu ekonomi yang berjalan di ruang hitam. Samad, ayahnya, yang menjadi orang paling disegani dan dihormati oleh Keluarga Tong, membuat Bujang mendapat perhatian lebih dari keluarga itu. Sehingga dengan diskusi yang panjang, membuat Samad dan istrinya akhirnya rela membiarkan Bujang dibesarkan dan dirawat oleh keluarga itu. Bujang senang berkelahi, namun ditentang keras oleh Tauke Besar saat itu. Sebab dirinya tengah dipersiapkan menjadi perisai paling ampuh untuk masa depan keluarga Tong.

“Aku tidak pernah ikut satu pun pertempuran. Pertama, karena Tauke melarangku, dan itu tidak ada tawar menawar. Kedua, aku sibuk dengan sekolahku. satu tahun tinggal di sana, aku telah mendapatkan ijazah persamaan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Nilai-nilai sempurna.” (hal. 99) Seperti nasihat Frans, si Amerika yang menjadi guru privat belajarnya, “Dengan begitu, kau yang ketinggalan sembilan tahun membalik situasinya, akan lebih cepat satu tahun dibanding yang lain. Tauke ingin kau segera kuliah, Bujang. Kau akan menjadi tukang pukul pertama Keluarga Tong yang kuliah di universitas terbaik, bila perlu hingga keluar negeri.” (hal. 100)

Selama menjadi anggota Kelurga Tong, Bujang banyak belajar dan melihat hal-hal yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Ia mengikuti ritual Amok, belajar menembak, bertemu dengan Salonga dari Tondo, juga mengalami pengkhianatan yang dilakukan oleh sahabatnya sendiri terhadap Keluarga Tong. Adalah Basyir, yang melakukan pengkhianatan dengan melakukan penyerangan terhadap Keluarga Tong. “Tangannya lantas teracung ke depan, ke Tauke Besar yang duduk bersandarkan bantal, “Orang tua itu, yang terbaring tak berdaya di atas ranjang dan memegang pistol yang amunisinya habis, dialah yang membuatku menjadi yatim-piatu.” (hal. 287) Bujang yang masih berpegang teguh pada prinsip dan kesetiaannya terhadap Keluarga Tong, berusaha mati-matian menjaga Tauke Besar dari penyerangan yang dilakukan Basyir.

Di antara semua kejadian yang memilukan yang pernah dirasakannya di dalam Keluarga Tong, hal yang paling menyakitkan Bujang adalah kepergian mamak. “Anakku Bujang, pagi ini mamakmu telah tiada. Mamakmu telah pergi selama-lamanya. Dia wafat dengan tenang sambil menyebut namamu lirih serta mendekap pigura fotomu. Mamakmu sudah sakit-sakitan sejak sebulan lalu. Mantri dari Kecamatan tak kuasa lagi menolongnya.” (hal. 191) Juga kepergian bapak yang ditulisnya dalam sepucuk surat melalui Tauke Besar. “Anakku Bujang, jika kau pada akhirnya membaca surat ini, maka itu berarti Bapak sudah mati. Aku menulis surat ini mungkin berminggu-minggu, atau berbulan-bulan sebelum ajalku tiba. Kutitipkan surat ini kepada tetangga kita di talang, dengan pesan, jika aku sudah dikuburkan, saat tanah merah sudah menimbun jasadku, dia akan segera mengirimkan surat ini ke alamat Tauke Muda di Kota Provinsi. Dan dari sana, entah bagaimana caranya, pastilah akan tiba kepadamu.” (hal.237)

Di antara rasa pedih dan benci yang dirasakan Bujang, ia mencoba mendengarkan nasihat Tuanku Imam yang mengatakan; “Peluklah semuanya, Agam. Peluk erta-erat. Dekap seluruh kebencian itu. Hanya itu cara agar hatimu damai, Nak. Semua pertanyaan, semua keraguan, semua kecemasan, semua kenangan masa lalu, peluklah mereka erat-erat. Tidak perlu disesali, tidak perlu membenci, buat apa? Bukankah kita selalu bisa melihat hari yang indah meski di hari terburuk sekalipun?” (hal. 339)

Kisah berlanjut hingga pada akhirnya, Bujang kembali dari tugas besarnya dan “pulang” menemui mamak di pusaranya. Bagaimanapun, lewat novel ini, Tere Liye mengajari kita bahwa sejauh apapun kaki melangkah, cinta keluarga adalah kepulangan yang sesungguhnya. Dan benar, sejauh apapun kehidupan menyesatkan, segelap apapun hitamnya jalan yang ditempuh, Tuhan selalu memanggil kita untuk pulang. Novel ini sangat recommended untuk dibaca. Penuh pesan baik tentang kesetiaan keluarga. Selain itu, membaca novel ini seperti tengah menonton film action yang luar biasa. Jika tidak percaya, mari buktikan saja.

Judul               : Pulang

Penulis             : Tere Liye

Penyunting      : Triana Rahmawati

Penerbit           : Republika

Cetakan           : Pertama, September 2015

Halaman          : 400 hal

ISBN               : 978-602-0822-12-9

 

(Penulis adalah ALUMNI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS, UMSU, 2019)

Komentar

News Feed