Belajar dari Hisyamudin, Pengurus JQH-NU Sumenep yang Konsisten Tebar Manfaat di Tengah Umat

  • Whatsapp
(FOTO: KM/IMAM MAHDI) Drs. H. Hisyamudin, M.Pd.I.: Wakil Tanfidziyah PCNU Sumenep. 

KABARMADURA.ID | Tokoh yang satu ini merupakan salah satu tokoh cukup menginspirasi masyarakat Sumenep. Namanya adalah Drs. H. Hisyamudin. M. Pdi. Ia aktif sebagai Wakil Ketua Tanfidziyah MWCNU Sumenep sejak tahun 1992 hingga sekarang. Pengabdiannya di NU tidak bisa diragukan lagi. Tidak hanya itu, ia juga aktif sebagai pengurus Jamiyatul  Qurra’ Wal Huffadz Nahdlatul Ulama (JQH-NU) Sumenep.

IMAM MAHDI, SUMENEP

Pria kelahiran Sumenep, 17 Maret 1969 ini bagian dari pembina huffadz yang aktif  mencetak peserta Musabaqah Tilawatil Qur’an tingkat Jawa Timur ke-29 (MTQ Jatim XXIX) yang akan diselenggarakan di Pamekasan. 

Dia menaruh perhatian besar terhadap program tahfidz. Sebab, menurutnya, hal tersebut sebagai  investasi di akhirat. Selain itu, dengan program tersebut, ia juga dapat memberikan pengaruh positif kepada masyarakat.

“Kegiatan yang berkaitan dengan kualitas menuju akhirat terus saya lakukan,” katanya, Kamis (28/10/2021)

Menurutnya, kegiatan tahfidz diletakkan sebagai program ko-kurikuler dan ekstrakurikuler sekaligus. Sebagai ko-kurikuler yaitu program tahfidz diwajibkan atas seluruh santri seminggu dua kali, hari Ahad dan Rabu, setiap selesai shalat Subuh hingga waktu Syuruq.

Seusai alat Subuh berjamaah di masjid, para santri berkumpul bersama wali kelasnya masing-masing untuk dicek tahsin dan hafalannya. Dengan durasi sekitar 1 jam setiap anak akan setoran hafalan dan dicek bacaan Al-Qurannya. “Kegiatan ini ditutup dengan shalat sunnah Syuruq,” ujarnya. 

Selain aktif di NU, ia juga aktif berdakwah di tengah-tengah masyarakat. Ia juga sebagai Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Gapura. “Meluangkan waktu untuk bermanfaat merupakan prinsip saya selama ini,” ujarnya

Baginya, kesuksesan seseorang tergantung sejauh mana kebermanfaatannya kepada orang lain. Sebab menurutnya, kemanfaatan bukan hanya berbentuk uang, tetapi bisa berupa ilmu dan pengetahuan. 

 

Reporter: Imam Mahdi 

Redaktur: Muhammad Aufal Fresky

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *