Belajar dari Perjuangan Ketua DPC GMNI Pamekasan Hasan Basri

  • Whatsapp
(KM/ ALI WAFA) HASAN BASRI : Ketua Umum DPC GMNI Pamekasan

Kabarmadura.id/Pamekasan-“Tegak lurus memperjuangkan kaum marhaen,” itulah prinsip yang menjadi pelecut semangat Hasan Basri dalam menjalankan tugas sebagai Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Pamekasan.

ALI WAFA, PAMEKASAN

Madura, khususnya Kabupaten Pamekasan merupakan daerah yang berkarakter agamis, di setiap sudut wilayah mudah sekali ditemukan pondok pesantren, sehingga tidak heran jika banyak organisasi keagamaan yang berkembang di pulau garam itu. Banyaknya organisasi keagamaan menjadi alasan tidak sedikitnya mahasiswa yang tertarik untuk bergabung di dalamnya.

Namun, di saat yang lain berkecimpung di organisasi keagamaan, Hasan Basri, pemuda yang lahir di Desa Pangereman, Kecamatan Batumarmar, Pamekasan, justru memilih jalan lain. Mahasiswa Universitas Madura (UNIRA) tersebut memilih untuk bergabung dengan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI).

Pemuda kelahiran 10 Mei 1993 itu mengatakan, bergabung dengan GMNI karena menurutnya sejalan dengan ideologinya, yakni marhaenisme. Baginya marhaenisme merupakan ideologi yang berasal dari pemikiran Soekarno dan sesuai dengan karakter masyarakat Indonesia, khususnya Madura.

Berjuang bersama kaum marhaen, justru bisa membuatnya menjadi lebih dekat dengan masyarakat kecil. Menurutnya, di jaman post truth, dan maraknya prilaku intoleransi serta fundamentalisme agama, GMNI justru menjadi organisasi kepemudaan yang justru tetap fokus di jalan ideologis membela kaum marhaen.

“Secara terminologi, marhaen merupakan kaum yang memiliki alat produksi tapi tetap melarat. Madura khususnya Pamekasan adalah daerah yang mayoritasnya petani, yakni petani garam dan juga tembakau, mereka melarat, tapi sedikit yang benar-benar serius memikirkan nasib mereka,” ucapnya, Senin (30/3/2020).

Hasan membuktikan pandangannya dengan terus aktif mengadvokasi kaum marhaen, baginya GMNI sebagai oposisi permanen pemerintah, tegak lurus dalam mengkritik kebijakan yang tidak pro terhadap petani. Selain itu dia juga aktif memberikan penyadaran kepada para petani tentang apa saja hak-hak dan kewajiban mereka. Sebab dirinya yakin, ketika masyarakat sadar dan teredukasi dengan apa sebenarnya hak dan kewajiban mereka, mereka akan bergerak sendiri dan GMNI hanya mendampingi, dari itu akan jelas bahwa gerakan GMNI Pamekasan benar-benar berangkat dari suara rakyat.

Selain itu, alumnus Bustanul Ulum Waru Pamekasan itu menjelaskan, GMNI menjadi organisasi yang menyuarakan keberagaman, baginya, secara ideologis GMNI tidak berangkat dengan term agama tertentu, sehingga menurutnya GMNI merupakan satu-satunya organisasi yang anggotanya dari berbagai agama.

Menurutnya, saat bangsa dikeruhkan dengan persoalan fundamentalisme agama, dia merasa memiliki tugas besar untuk terus menyuarakan semangat kebhinekaan. Baginya GMNI merupakan miniatur Indonesia dan harusnya GMNI lebih bisa menjelaskan semangat kebhinekaan dengan bahasa-bahasa sederhana.

Meski begitu, dia mengaku terus membangun mitra dengan organisasi Cipayung yang berada di Pamekasan, karena menurutnya GMNI bersama Cipayung lain sebagai civil socity lebih leluasa berbicara kepentingan bangsa, dengan HMI, PMII atau Cipayung lain mereka bersatu untuk kepentingan bangsa. Tak pelak, dirinya bersyukur, Cipayung di Pamekasan bisa menurunkan ego organisasi untuk kepentingan bangsa yang lebih besar.

Menurutnya, sebagai civil socity, Cipayung lebih dinamis dan lebih mudah berinteraksi dengan masyarakat, mereka tak perlu menunggu birokrasi yang jelimet jika hanya untuk berbicara soal kepentingan masyarakat.

“Organisasi mahasiswa hari ini menjadi satu-satunya yang tetap kritis terhadap keadaan, idealnya seorang mahasiswa bergabung dengan organisasi kemahasiswaan demi merawat pemikiran-pemikiran kritis,” pungkasnya. (pin)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *