oleh

Belajar Hidup Menghargai dari Perempuan Mesir

Presensi         : Abd. Malik

Keberadaan R.A Kartini di Indonesia menjadi bukti sejarah, bahwa gerakan emansipasi pernah digaungkan. Sosok perempuan yang bijaksana itu menuntut persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Dia cerdas, perseptif, tidak patah  semangat memperjuangkan hak-hak perempuan yang merasa terikat. Sosok yang teguh pendirian, penuh cita-cita pengabdian tapi juga lemah hati, dan sementara itu terpojok, kecewa, terikat, dan akhirnya meninggal dalam umur 24 tahun. Namun meski begitu, ia memiliki kontribusi tinggi terhadap peradaban bangsa ini.

Membaca Novel Perempuan di Titik Nol ini, kita akan dingatkan lagi pada kejadian masa lalu yang memilukan di atas. Di mana R.A Kartini pernah mengabadikan ceritanya dalam buku “Habis Gelap Terbitlah Terang,” saat dirinya tak punya ruang kebebasan berekspresi untuk sekedar menyuarkan pendapatnya. Beda halnya dengan Novel yang ditulis Nawal el-Saadawi ini,  seorang dokter psikiater perempuan di Mesir, yang mengungkap cerita dari balik sel penjara Qanatir dan mengisahkan lika-liku kehidupannya tentang Firdaus yang divonis hukum gantung karena telah membunuh seorang germo.

Terdapat kisah heroik yang menggugah dalam kisah yang ditulis Saadawi, Firdaus ini sudah menjadi pelacur dari sejak kecil di desa hingga ia menjadi pelacur kelas atas di kota Kairo. Namun setelah mendapat hukuman, ia menyambut gembira hukuman gantung itu. Bahkan dengan tegas ia menolak grasi kepada presiden yang diusulkan oleh dokter penjara, menurut Firdaus “vonis hukum mati” justru merupakan jalan menuju “kebenaran sejati”.

“Mereka tidak takut kepada pisau saya. Kebenaran saya itulah yang menakutkan mereka. Kebenaran yang menakutkan ini telah memberikan kepada saya kekuatan yang besar. Ia melindungi saya dari saya takut mati, atau takut kehidupan, rasa lapar, atau ketelanjangan, atau kehancuran.” (hal.171) kata-katanya menyiratkan yang dia perjuangkan itu, yaitu tentang “kebenaran sejati,” dia sadar atas kesalahan yang dia lakukan, tetapi meski begitu siapa yang telah melakukan itu semua, sehingga dia menjadi pelacur kelas atas? Lewat kisah nyata ini, kita justru bisa menguak kebobrokan masyarakat yang didominasi oleh kaum lelaki. Sebuah kritik yang pedas, dan di sisi lain mempraktikkan pola sikap bijaksana menyikapi kepribadian.

Buku yang keras dan pedas, sebagaimana ditulis Mochtar Lubis dalam Kata Pengantar buku ini. Kritik ini tercipta atas kegelisahan yang dialami Firdaus, karena hidupnya yang dipenuhi penderitaan. Maka tak heran bila ucapan yang keluar darinya, memunculkan kritik pedas bagi kaum lelaki Mesir kala itu. “Lelaki revolusioner yang berpegang pada prinsip sebenarnya tidak banyak berbeda dari lelaki lainnya. Mereka mempergunakan kepintaran mereka, dengan menukarkan prinsip kepintaran mereka untuk mendapatkan apa yang dapat dibeli orang lain dengan uang. Revolusi bagi mereka tak ubahnya seks bagi kami. Sesuatu yang disalah gunakan sesuatu yang dapat dijual.” (hal.145)

Di Indonesia ini amat mudah kita temukan bentuk kekerasan terhadap perempuan. Padahal dalam kebudayaan bangsa kita lelaki amat mudah mengatakan perempuan amat dipuja dan dihormati. Tetapi praktiknya masih banyak perempuan Indonesia yang hidupnya hanya untuk melayani dan mengabdi pada suami belaka. Parahnya, dalam tradisi masyarakat primitif, perempuan digambarkan dengan tiga hal ini yakni sumur, kasur, dan dapur. Kepercayaan lama ini meyakini wanita sebagai makhluk Tuhan yang ditakdirkan sebagai orang yang berperan di wilayah domestik saja.

Buku ini terdiri tiga bab saja, namun karya ini telah mampu mengungkap permasalahan penindasan terhadap perempuan disegala bidang, baik itu politik, kelas sosial, ataupun budaya di Mesir. Perempuan di Titik Nol merupakan sebuah protes dan kecaman terhadap paham dan sistem Patriarki untuk semua laki-laki di Mesir. Dan, dari sana jugalah permasalahan gender menjadi terbeberkan sedemikian rupa. Untuk langkah berikutnya, kita diajak belajar pada cerita ini bahwa menghargai hak-hak perempuan sangatlah penting  adanya.

Sayangnya, karena Novel ini merupakan terjemahan dari bahasa Arab. Maka bahasanya kurang layak dikonsumsi anak-anak. Buku ini lebih cendrung dikonsumsi orang dewasa. Jadi buku ini sangat layak dibaca para pendidik, orang tua, khususnya perempuan agar bisa mengambil pelajaran dari kisah ini. Akan tetapi tidak ada salahnya bila kalangan lain pun membaca buku ini. Wallahu a’lam.

Selamat membaca!

* Abd. Malik, mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Guluk-Guluk Sumenep.

Judul              : Perempuan di Titik Nol
Penulis          : Nawal el-Saadawi
Penerbit        : Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Terbitan        : Ketiga belas, Maret 2018
Tebal              : 176 halaman.
ISBN               : 978-602-433-438-3

 

Komentar

News Feed