oleh

Belajar Matematika melalui Budaya Madura

Peresensi            : Muallifah

Apa yang bisa kita fikirkan ketika mendengar  kata “ matematika”? angka-angka yang membingungkan denngan rumus yang tiada habisnya dan memaksakan untuk hasil yang pasti? Atau sekedar penumlahan pengurangan perkalian dan pembagian? Kita memahami bahwa matematika adalah ilmu pasti, bersifat kaku mulai dari zaman sebelum kita lahir hingga hari ini. Namun bisakah matematika bertemu dengan budaya? Bagi sebagian orang akan menganggap hal tidak mungkin atau ilmu ini adalah cocokologi akan tetapi, hal tersebut akan kita temukan pada buku “Etnomatematika Budaya Madura”.

Buku yang ditulis dari hasil penelitian ini menyajikan informasi yang berbeda kepada kita untuk memahami matematika melalui budaya Madura. Sebenarnya, kajian etnomatematika ini sudah banyak dilakukan oleh para peneliti, bahkan hasilnya membuat para pembaca berfikir bahwa begitu luasnya khazanah keilmuan kita, yang awalnya kita berfikir matematika hanya merupakan ilmu berhitung, sedangkan budaya yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari berhubungan erat dengan matematika itu sendiri.

Tujuan dari etnomatematika adalah untuk mengakui bahwa ada cara-cara berbeda dalam melakukan matematika dengan mempertimbangkan pengetahuan matematika akademik yang dikembangkan oleh berbagai lapisan masyarakat serta dengan mempertimbangkan langkah yang berbeda dimana budaya yang berbeda merundingkan praktik matematika mereka (cara mengelompokkan, berhitung, mengukur, merancang bangunan atau alat, bermain dan lainnya) (hlm.4).

Leluhur kita memiliki pengetahuan matematika yang luar biasa dengan mengaplikasikan pada setiap warisan budaya yang ada di suatu daerah. Hasil penelitian Hartoyo (2012) menunjukkan bahwa etnomatematika hadir dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pelaksanaan adat istiadat dan upacara masyarakat subsuku Dayak yang tinggal di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia.

Konsep yang sering digunakan adalah konsep berhitung, membilang, mengukur, menimbang, menentukan lokasi, merancang, membuat bangun-bangun simetri. Aktivitas masyarakat yang berkaitan dengan etnomatematika ini dapat dikembangkan menjadi sumber belajar matematika di sekolah yang kontekstual-realistik. Aktivitas sebagian masyarakat subsuku Dayak dalam membuat anyaman, terutama anyaman topi petani yang disulam berbagai motif mengandung beberapa konsep advance elementary geometry. Etnomatematika yang digunakan masyarakat ini berpotensi untuk dikembangkan menjadi bahan pembelajaran matematika (hlm.6).

Berdasarkan paparan tersebut pembaca akan dibawa pada pemahaman yang begitu panjang untuk bersikeras mencoba mendalami serta mencintai ilmu matematika yang dianggap sulit oleh kebanyakan masyarakat pada umumnya. Apalagi tulisan ini berisi paparan penjelasan ilmiah bahwa matematika bisa berdampingan dengan budaya. Pada kenyataannya setiap warisan Madura, selalu ada konteks ilmu matematika yang bisa kita pelajari. Misalnya: dalam karya batik. Batik Madura pada umumnya dikenal dengan “ sekar sejagad” meski demikian terdapat unsur matematika yang melekat dalam karya batik, misalnya: garis, titik, segi empat, lingkaran, zigzag,segitiga, belah ketupat, jajar genjang, persegi dan masih banyak yang lain tergantung kreatifitas pengrajin batik.

Dalam rumah adat Taneyan Lanjhang misalnya, rumah adat Madura mengandung  unsur matematika yang sangat luas. Persegi panjang yang mewakili bentuk rumah persegi yang terdapat dalam lahan, lebar terdapat dalam luas halaman, luas yang terdapat pada isi rumah serta keliling yang terdapat dalam lahan, luas dan teras (hlm.20).

Selain rumah adat, tradisi kerrabhân sapèjuga terdapat unsur matematika di dalamnya. Mulai dari kaleles yang berbentuk persegi panjang,pangonong yang berbentuuk datar trapesium, rèkèng yang berbentuk seperti tabung, persegi panjang yang ditemui pada tabir/sekat lapangan, serta ilmu kecepatan, jarak dan laju cepat ketika kerrabhân sapè berlangsung. Meski demikian, unsur matematika dalam budaya Madura masih banyak lagi. Mulai dari tarian Madura, hingga permainan Madura.

Tulisan ini memaparkan budaya Madura yang begitu luas dari unsur matematika. Pembaca akan dibawa pada pemahaman bahwa matematika tidak selalu identic dengan ilmu berhitung, lebih dari itu memahami matematika membuat pembaca bisa menganalisa social yang ada di sekeliling, khususnya warisan budaya Madura.

Tulisan ini kurang cocok bagi para pembaca yang cenderung tidak menyukai bahan bacaan yang ilmiah dengan pemaparan hasil penelitian yang kaku. Sebab gaya Bahasa yang digunakan cenderung bersifat  datar, sesuai dengan hasil penelitian dengan berisikan data-data yang diperoleh dari lapangan. Meski demikian, tulisan ini menjadi bahan refleksi bersama bahwa kajian budaya Madura begitu luas untuk dipahami secara mendalam.

Penulis

Muallifah, mahasiswi asal Sampang, sedang menyelesaikan studi di Universitas Gajah Mada Yogyakarta

 

Buku                      : Etnomatematika Budaya Madura

ISBN                      : 978-623-7161-82-0

Penulis                                 : Moh Zayyadi & Durroh Halim

Jumlah halaman: 114 hlm

Penerbit              : Duta Media

Tahun terbit       :  Juni 2020

 

Komentar

News Feed