oleh

Berakhir Ricuh, Demonstran Ancam Kembali Geruduk PT Garam

KABARMADURA.ID, Sumenep –Kantor PT Garam di Kalianget, Sumenep digeruduk massa dari dua organisasi mahasiswa, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Senin (12/10/2020).

Aksi massa yang berjumlah ratusan sempat memanas. Sebab, kedatangannya sudah disambut kawat berduri dari jarak yang cukup jauh (kurang lebih 300 meter) dari gedung PT Garam. Massa yang marah, langsung membongkar secara paksa, sehingga bisa masuk ke lokasi.

Ada beberapa tuntutan yang disampaikan dalam aksi itu, yakni menuntut PT Garam agar memperjelas kontrak kerja buruh dan memberikan salinannya, memberikan fasilitas yang layak dan menyesuaikan upah buruh sesuai dengan upah minimal kerja (UMK).

“Misalnya seperti fasilitas gubuk untuk buruh beristirahat di lokasi produksi, dan tidak memutuskan sepihak kontrak kerja seperti yang diatur omnibus law, apalagi PT Garam adalah BUMN yang secara otomatis adalah milik negara dan harus pro ke negara,” ungkap salah satu orator aksi.

Dalam aksinya, mereka juga memperagakan drama yang menggambarkan kehidupan buruh atau petani garam yang sulit. Mereka juga membakar ban bekas sebagai ungkapan kekecewaan.

Meskipun sudah memberitahukan bahwa mereka akan aksi sejak jauh-jauh hari, tapi  PT Garam dinilai tidak menyikapi secara serius lantaran direktur PT Garam tidak menemui mereka.

“Padahal apa yang kami serukan bukan sekadar formalitas, tapi wujud totalitas sebagai anak petani, yang hak-haknya harus diperjuangkan, bukan malah mengabdi kepada investor,” papar orator yang lain.

Masalah rendahnya harga garam juga mereka singgung. Terlebih, PT Garam justru menyerap garam petambak. Dalam masalah itu, mereka mengancam akan menggelar aksi lebih besar lagi jika tidak ditanggapi secara serius.

“Bisa dibayangkan dengan harga Rp300 perkilogram, kapan petani garam akan sejahtera, ironisnya dengan harga sangat minim, ratusan ton setiap tahunnya garam petani tidak terserap,” imbuhnya.

Sementara itu, manajemen PT Garam hanya berjanji segala aspirasi tersebut akan disampaikan ke direksi. Sebab, saat ini para direksi tidak di kantor.

“Seperti tadi itu, kami juga sudah menandatangani tuntutan mahasiswa, berarti kami akan segera membahas atau menyampaikan ke direktur nanti, saat ini setiap perkembangan kami selalu sampaikan,” tanggap Whedi Harianto yang mewakili PT Garam.

Aksi itu kemudian dilanjutkan ke gedung DPRD Sumenep. Berhubung tidak ditemui, maka mencoba melobi dengan tim keamanan, dan sepakat, peserta aksi menunggu di halaman gedung yang ada di selatan Masjid Jami’.

“Kami sudah sepakat dengan pak kapolres dan dandim, tapi ketika sampai di pintu masuk kami malah dijegal oleh petugas kepolisian, sehingga kami menilai aparat keamanan ini tidak konsisten, malahan sopir mobil aksi juga dipukul, padahal dia itu bekerja,” tutur Akh Fauzi salah satu pengurus PMII Cabang Sumenep.

Bahkan para aparat itu juga mengamankan 7 orang atau peserta demonstran.

“Kami punya rekamannya, bahwa yang melempar batu itu bukan dari kami, dia memakai sarung dan helm, kami pastikan dia bukan anggota kami. Juga ada beberapa peserta kami yang disuruh menghapus rekaman anarkis kepolisian,” lanjutnya.

Terpisah, Kapolres Sumenep AKBP Darman mengatakan, meskipun pihaknya mengamankan beberapa peserta aksi, hal itu dilakukan untuk menjaga kondusivitas.

“Kericuhan ini terjadi karena adanya kesimpangan komunikasi, namun peserta yang diamankan tidak akan kenapa. Kami juga akan menindaklanjuti, untuk mencari dalang kerusuhan,” paparnya.(ara/waw)

Komentar

News Feed