oleh

Berangkat dari yang Sederhana

Oleh Abd. Kadir*)

Tanggal 17 Agustus malam, saya membaca berita bahwa Gus Mus (sapaan akrab KH Mustofa Bisri) merekam situasi dan kondisi Alun Alun Rembang yang sepi dari ‘atribut merah putih’ untuk kemerdekaan. Dalam rekaman yang viral itu Gus Mus mempertanyakan mengapa alun-alun itu sepi dari ‘atribut merah putih’.

“Hari ini, tanggal 17 agustus 2020, hari (ulang tahun) kemerdekaan Republik Indonesia, ada yang aneh menurut saya. Di Alun-Alun Kota Rembang, tidak ada satu pun bendera merah putih dikibarkan, tak ada satu pun bendera merah putih dikibarkan.

Pertanyaan saya kepada Pemda Rembang, mulai Bupati sampai DPRD-nya. Apa lupa, apa tidak punya bendera? Apa karena lagi sibuk memikirkan pilkada? Terima kasih (detiknews, 17 Agustus 2020).

Dalam berita itu pula, ada pihak pemkab yang memberikan klarifikasi bahwa pemasangan atribut kemerdekaan di alun-alun itu tidaklah wajib. Artinya, dipasang boleh, dan tidak dipasang pun juga tidak apa-apa. Meskipun di berita yang lain, ada pihak DPRD yang menyayangkan karena menganggap ini bagian dari ketidakpedulian pemkab, dan ini sangat keterlaluan.

*

Ada juga cerita dari teman yang ikut tim Covid-19 kabupaten berkeliling lembaga pendidikan untuk memastikan pembukaan sekolah untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka di sekolah. Di salah satu lembaga besar, yang jumlah siswanya mungkin ribuan, ternyata minim bendera merah putih, atribut kemerdekaan. Mendengar cerita teman saya ini, saya hanya berpikir bahwa barangkali atribut itu sudah diturunkan karena sudah tanggal 18 Agustus. Artinya “kewajiban” untuk menaikkannya di tanggal 17 Agustus sudah terlaksana. Sudah “gugur kewajiban”. Dan sepertinya pihak lembaga itu setengah terburu-buru untuk menurunkan atributnya, karena sudah lewat tanggal kemerdekaan bangsa kita ini. Namun, muncul lagi di pikiran saya, secepat itukah penurunan atribut itu?

Jika mengacu pada upacara penurunan bendera, maka tanggal 17 Agustus sore hari sudah dilakukan penurunan. Lagi-lagi ini cukup menggelitik bagi saya. Secepat itukah? Seperti para pedagang kaki lima yang mendengar akan ada penertiban dari aparat Satpol PP, dengan serta merta dan sigap mereka meyimpan kembali dagangan yang “digelar” di sekitar trotoar sehingga seolah-olah tidak pernah ada “transaksi jual-beli” atau pasar apa apa di tempat itu.

Artinya, persoalan sederhana yang saya ungkap di atas, sebenarnya telah memunculkan berbagai pertanyaan. Seperti apa yang dipertanyakan Gus Mus di atas. Mulai dari pertanyaan ironis, sinis bahkan bisa juga memunculkan pertanyaan ekstrim yang mengarah pada sarkas.

Menarik memang ketika kita mencermati realitas ini. Di satu sisi, hiruk pikuk kemerdekaan ini menjadi inspirasi untuk membangkitkan semangat nasionalisme rakyat bangsa ini. Di sisi lain ternyata seolah “membebani” kita untuk memasang “atribut kemerdekaan”.

Tidak memasang atribut merah putih, atau umbul-umbul untuk menyemarakkan hari kemerdekaan bangsa ini, memanglah cukup sederhana. Tak ada yang istimewa. Tak ada ‘dosa’ di dalamnya. Apalagi sampai masuk neraka. Tetapi, berangkat dari kesederhanaan itulah sebenarnya ada makna besar tentang nasionalisme. Merdeka di masa pandemi itu adalah kekuatan yang luar biasa. Seperti yang pernah disampaikan Pak D. Zawawi Imron, kita masih sepakat bahwa kita adalah orang Indonesia yang lahir dan hidup di atas tanah Indonesia. Minum dari air yang mengalir dalam tanah Indonesia. Makan dari hasil bumi tanah Indonesia. Bersujud di atas sajadah yang menghampar tanah Indonesia. Bahkan, bisa jadi kita akan mati, dikubur dan kembali menjadi satu dengan tanah Indonesia. Pertanyaan yang muncul kemudian, masih sederhanakah ketika kita tidak lagi menghormati jasa pahlawan yang telah mengorbankan jiwa raga mereka untuk kemerdekaan ini, meskipun hanya cukup dengan mengibarkan bendera merah putih dan memasang atribut untuk membangkitkan nasionalisme kita? Ah, sungguh terlalu!

Sebagaimana pepatah Tiongkok kuno, bahwa perjalanan seribu mil itu dimulai dari dari satu langkah. Begitu sederhananya. Hanya satu langkah. Tapi ini untuk masuk pada angka 1000 mil. Perjalanan yang begitu jauh.

Maka, begitu juga kesederhanaan tak mengibarkan bendera dan tak memasang atribut. Akan tidak sederhana lagi ketika ini menjadi simbol penghormatan pada pahlawan dan kekuatan nasionalisme kita. Nasionalisme terhadap bangsa yang hari ini berjuang untuk melawan pandemi Covid-19. Dirgahayu Negeriku!

*) Penulis adalah Kabid Pembinaan SD Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep.

 

Komentar

News Feed