Berawal dari Lestarikan Kearifan Lokal, Kini Odheng Madura Buatan Gafir Tembus Pasar Nasional

News89 views

KABARMADURA.ID | Kearifan lokal suatu daerah perlu dilestarikan. Itu yang dilakukan seorang warga Desa Pademawu Barat, Kecamatan Pademawu, Gahfiruddin. Dia memproduksi Odheng Madura sebagai bentuk kecintaannya terhadap simbol kebudayaan. Namun, siapa sangka kecintaan itu membawanya meraup keuntungan. 

SAFIRA NUR LAILY, PAMEKASAN

Gafir memiliki ketertarikan tersendiri untuk membuka usaha odheng. Sebab, selain untuk melestarikan kearifan lokal Madura itu, Gafir melihat peluang pasar yang cukup tinggi dalam odheng. Odheng pasti digunakan dalam acara-acara pemerintahan daerah. Sehingga pada 2016 silam, dirinya memutuskan untuk  membuka usaha odheng tersebut.

Padahal saat itu, dia tidak memiliki pengetahuan dasar berbisnis. Bahkan latar belakang pendidikannya pun jauh dari dunia bisnis, dia seorang mahasiswa hukum keluarga islam (HKI). Namun, alumnus STAIN Pamekasan yang kini berubah menjadi IAIN Madura itu belajar secara otodidak terkait dunia bisnis, mulai dari cara membuat odheng, manejemen keuangan, dan lainnya.

“Eksperimen membuat odheng sekitar empat hari. Setelah jadi, saya coba tawarkan, ternyata banyak yang suka dan pesan, jadi saya tambah yakin untuk mengembangkan usaha ini,” terangnya kepada Kabar Madura, Senin (11/9/2023).

Baca Juga:  Mengenal Kiprah Cahaya Langit Pamekasan: Menjembatani Kebaikan, Menjadi Sahabat Duafa, Yatim, dan Mualaf 

Odheng buatan Gafir itu kerap kali menjadi langganan instansi pemerintah, baik di Pamekasan, maupun kabupaten lainnya di Madura. Bahkan, odheng itu pernah dipasangkan ke Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno sebagai tanda penyambutan ketika berkunjung ke Pamekasan tahun lalu.

Tidak hanya terkenal di area Madura, odheng buatan Gafir juga memiliki peminat di berbagai wilayah Indonesia. Terbukti, penjualannya tembus hingga ke Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, hingga Sulawesi. Ada empat jenis model yang ditawarkan; odheng bangsawan, odheng rakyat, odheng leretan, dan odheng tongkerek.

Baca Juga:  Sanggar Meonk Konsisten Ciptakan Karya Kearifan Lokal: Bawa Musik Tradisional hingga ke Mancanegara 

“Kadang ada pesanan yang sampai ditolak karena bentrok dengan pesanan lainnya. Seperti pesanan dari Sumenep yang mencapai seribu pcs, kami tolak karena bentrok dengan pesanan yang di Pamekasan,” ungkap pemilik brand usaha LenPello tersebut. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *