oleh

Berbagi Pengalaman dengan Herman Hidayat Santoso, Lihai Mengukur Potensi Diri demi Kemanfaatan

Jadikan Wirausaha Patahkan Keterbatasan Ekonomi

Kabarmadura.id/Pamekasan-Perjalanan hidup seseorang tidak semulus yang disaksikan oleh kebanyakan orang. Pasti ada aral yang merintanginya, sebab pelaut yang handal pasti akan berhadapan dengan ombak yang besar. Hal itu seperti yang dilalui oleh Kepala Bidang (Kabid) Perlindungan dan Jaminan Sosial (Linjamsos) Dinas Sosial (Dinsos) Pamekasan Herman Hidayat Santoso.

KHOYRUL UMAM SYARIF, KOTA 

Pria kelahiran Pamekasan 12 Juli 1998  itu, menganggap pekerjaannya sebagai sebuah pengabdian panjang menuju kehidupan yang hakiki. Bahkan menurutnya, ASN hakikatnya adalah pelayan masyarakat.

Suami dari Sofiani itu menjadi seorang aparatur sipil negara (ASN) termotivasi dari keluarga besarnya. Sebab background-nya berasal dari keluarga ASN, termasuk orangtuanya yang terus memberikan dukungan dan dorongan untuk ikut seleksi menjadi abdi negara.

Pria yang beralamatkan di Jalan Bazar 81 Pamekasan itu menyampaikan, sudah banyak suka duka yang dilaluinya dalam menjalani kehidupan sebagai seorang ASN. Bahkan pada kondisi terlemah pun di bidang ekonomi pernah dialaminya.

Namun karena tekad bulatnya, serta usaha kerasnnya, semua halangan dan rintangan bisa dilalui dengan baik.

“Banyak suka duka memang. Karena menjadi ASN merupakan sebuah pengabdian, jadi ditempatkan di mana saja siap, bahkan harus memberikan pelayanan di luar jam kantor kami harus sanggup,” tuturnya, Senin (3/8/2020).

Lulusan S2 di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya itu mengaku, menjadi seorang abdi negara harus pintar membagi waktu dengan keluarga. Selain memiliki tanggung jawab terhadap pekerjaan, dirinya tidak bisa melupakan tanggung jawab sebagai kepala keluarga.

“Abdi negara itu juga punya kewajiban dan tanggung jawab membangun rumah tangga yang baik dan benar,” ungkap pejabat yang dikenal mudah berteman itu.

Ada kesan yang tidak pernah dilupakan oleh alumnus S1 Institut Teknologi Surabaya itu selama menjadi ASN, yakni saat dirinya menerima gaji pertama kali sebagai abdi negara pada tahun 1992 silam.

Saat itu dirinya menerima gaji sebesar Rp60 ribu. Baginya, di masa itu gaji tersebut sangat mencukupi jika hidup seorang diri, namun di kala sudah beristri dan sudah punya anak, banyak kebutuhan yang perlu dipenuhi, dan itu tidak bisa sepenuhnya terpenuhi dengan gaji sebagai ASN.

“Alhamdulillah istri sangat pengertian terhadap keadaan di keluarga, bahkan bisa membantu pemenuhan ekonomi dengan berwirausaha,” ujar lelaki yang hobi ngopi ini.

Berkenaan dengan pengalaman hidupnya, bapak dua anak itu berpesan kepada generasi muda untuk tidak lelah membaca peluang, serta kesempatan yang bisa mensukseskan diri. Sebab pada era sekarang persaingan semakin ketat, artinya potensi diri harus terukur dengan baik agar bisa bermanfaat untuk dirinya sendiri dan nusa dan bangsa.

“Kepada para generasi muda untuk pandai-pandai menyaring informasi, pandai-pandai mencari peluang dan kesempatan yang positif,” pungkasnya. (pin)

 

 

Komentar

News Feed