Berbuka dengan yang Manis

  • Whatsapp

Es teh dingin. Minuman itu selalu meliar di kepala. Bayangan seperti tetesan hujan di tengah musim kemarau panjang yang sedang melanda bagian ujung timur Madura. Air hujan itu lantas masuk ke kerongkongan.

Perempuan kerempeng dengan rambut keriting melihat ke arah jam tangan sembari memegang pergelangan tangannya, ia memperhatikan arah jarum jam.  

Sudarsih, meringkuk di bawah pohon pinggir jalan meneduh, setelah seharian pergi ke tempat yang satu ke tempat yang lainnya. Ia membawa gitar, menggejreng sana-sani tak juga ada yang membayar olah vokal yang ia keluarkan.

Pikirnya mungkin orang-orang tidak suka tampilan lemas dan bibirnya yang kering seperti orang yang tidak memiliki semangat hidup. “Ah mana mungkin begitu” tepisnya dalam hati. “tapi juga bisa jadi” terus terusan ia mempertanyakan pada dirinya sendiri.

Sesering mungkin ia memperhatikan jarum jam tangan yang ia pakai. Untuk memastikan berapa jam lagi akan berbuka puasa. Ia bingung apa yang akan ia makan.

Sedangkan hingga dua hari ini ia merasa apes. Bagaimana tidak dari kemarin sampai hari ini tak satu pun ada orang yang memberinya uang. Semua orang yang ia singgahi semua mengatakan “Maaf neng” hingga dengan sedih hati ia harus menghentikan nyanyian dan irama gitarnya. Hatinya berkata apa benar orang tidak punya uang.

Sudah banyak pertanyaan-pertanyaan yang ia jawab sendiri dan meliar di kepalanya. Di bawah pohon yang lindap serta badannya yang semakin lemas. Karna dari kemarin ia hanya berbuka dan sahur dengan air yang ia tadah di pet wudhu’ mushalla usai ia sholat. Perutnya kembali melilit, perih. Ia meringis kelaparan.

Sahur tadi dia menadahkan botol pelastik pada air pet mushalla. Meneguk sedikit demi sedikit untuk menghalau rasa lapar. Namun, sia-sia sebanyak apa pun dia minum, perutnya masih akan tetap lapar.

Mengamen terpaksa ia lakukan setelah ajakan teman sesama bekerja setelah dirumahkan oleh perusahan tempatnya bekerja akibat virus corona. Ia mengalami kesulitan bahkan dalam untuk makan sehari-hari saja. Untuk pulang kampung pun sudah terpakai biaya kos yang ia tempati.

Dirinya rindu ingin pulang ke kampung ibu. Niatnya diurungkan karna tidak ada oleh-oleh yang harus dibawa pulang untuk keluarga tercinta. Kadang air matanya menetes bila mengingat keluarga. Sudarsih buru-buru menyibak air  matanya seketika menjadi kuat bila memandang wajah-wajah orang rumah. Ia segera beranjak semangat kembali untuk mencari nafkah.

Hari ini puasa Ramadhan ke dua minggu atau sudah menempuh puasa empat belas hari. Sudarsih memicingkan matanya menunjukkan pukul enam belas lewat. Perutnya kembali melilit. Satu jam setengah lagi kalau tidak segera mendapat uang, mau tidak mau ia berbuka puasa dengan air pet kembali.

Ia melangkahkan kakinya bersama teman sesama pengamen pergi ke pasar senen. Seharusnya pasar ini sedang ramai-ramainya. Orang akan berjejal, berdesak desakan, untuk membeli kue, takjil, gorengan dan lain-lain. Tentu akan banyak orang di situ.

Sampai di gerbang pasar ia melihat ada uang tergeletak sebesar dua puluh ribu rupiah. Sontak ia terhenti berpikir apa benar ia uang hadiah dari tuhan untuknya. Namun, pernyataan itu ia tepis kalau uang itu bukan miliknya dan tidak boleh diambil.

Sudarsih melihat ada seorang ibu yang sedang kebingungan. Ibu dengan menggendong anak itu sedang mengarahkan matanya ke bawah, seperti mencari sesuatu.

“Ada apa bu ?” ujar Sudarsih pada ibu itu.

“Saya cari uang saya dik.., yang hilang”

“Memangnya berapa bu ?”

“Sedikit sih, dua puluh ribu saja. Tapi uang itu sangat ibu perlukan”

“Apakah benar itu uangnya bu” ujar Sudarsih sembari menunjukkan ke arah uang yang ia temukan.

“Ia betul dik, itu uang ibu. Maksih banyak ya. Maaaf ibu tidak bisa balas”

“Alhamdulillah bu ketemu. Tidak kok bu tidak berharap juga” jawab Sudarsih yang juga ikut senang.

Hingga masuk dalam pasar dibanyaknya orang berdesakan lagi-lagi Sudarsih melihat uang. Seratus ribu. Ia melihat jelas ketika uang itu jatuh dari saku pemiliknya, usai merogoh sakunya tak sengaja uang itu jatuh. Dengan sigap segera ia ambil dan memberinya pada pemiliknya.

“Ini pak uang bapak jatuh tadi”

“Ooh apa iya non ?, ooh ia benar ini uang saya” ujar bapak-bapak sembari mengecek uang dalam sakunya.

“Ini untuk nona ambillah” selembaran uang lima puluh ribu di sodorkan pada Sudarsih.

“Tidak pak, saya ikhlas”. “Loh tidak mengapa nona ?, ambilah”. Ujar bapak itu dengan nada memaksa. “Tidak pak terima kasih” senyum Sudarsih meskipun ia tau jika dirinya sedang butuh uang. “Ya sudahlah, kalau nona tidak mau. Saya ucapkan terima kasih, semoga Allah membalas dengan yang lebih besar” ujar bapak itu yang diamini Sudarsih.

Aneh saja bagi sudarsih mengapa hari hari ini ia sering menemukan uang. Kemarin juga demikian, ia temukan uang sampai-sampai tiga kali. Dan dari semua uang yang ditemukan selalu ada pemiliknya yang tak jauh dari tempat uang itu.

Sudarsih melihat kembali ke arah jarum jam tangannya. Bahwa satu jam lagi akan tiba berbuka puasa. Namun, tak kunjung jua ia mendapat uang hasil ngamen.  Sampai ia letih duduk meneduh di depan toko terompah.

Dalam keadaan duduk selonjor, ia merasa ada yang mengganjal duduknya. Ia bergeser ternyata dirinya duduk di tas berukuran sedang. Setelah ia buka alangkah kagetnya terdapat segepok uang ratusan ribu. Tidak hanya uang terdapat beberapa perhiasan, kartu nama, ktp dan sejumlah kartu ATM. Ia bingung harus di apakan sudah ia tanya sana sini tak juga ada yang mangaku miliknya.

Al hasil ia lihat kartu nama dan tanda pengenal. Sudarsih berinisiatif akan memberikan sesuai alamat yang tertertera. Kebetulan alamatnya tidak jauh dari tempat pasar senen. Ia habiskan tenaganya untuk berjalan kaki. Setelah tanya sini situ, akhirnya ia sampai di rumah yang lumayan mewah.

Tepat di depan rumah, bunyi ketukan pintunya bersamaan dengan bunyi bedug adzan magrib. Tidak membutuhkan waktu lama tuan rumah segera membukannya.

Dengan ngos-ngosan dan sangat payah ia katakan “Apa benar tas ini milik bapak ?”. “Ia betul itu milik saya” dengan segera bapak berkumis itu menyuruh Sudarsih masuk dan mempersilahkan berbuka puasa dimeja makan bersamama keluarganya. Sudarsih merasa risih karna ia anggap dirinya begitu dekil di hadapan meraka. Namun, pandangan mereka begitu ramah padanya.

“Silahkan dik duduklah, berbukalah dengan yang manis-manis”. Semua makanan lezat terhampar di meja makan, mulai dari kolak, es degan, es buah, kurma, bermacam bala-bala, ayam goreng, berbagai jenis masakan ikan, daging dan lain-lain tersaji di  meja makan.

Dalam hati Sudarsih, “Terima kasih Tuhan, ini balasan yang engkau berikan. Setelah dua hari hamba sahur dan buka dengan air pet saja”.

Selasainya ia makan sudarsih ceritakan temuan tasnya sampai keinginannya pulang kampung. Sebagai tanda terima kasih pemilik uang itu berikan uang tunai sebesar sepuluh juta dan segelang emas. Sudarsih bersih keras tidak mau. Namun, dengan sangat memaksa pemilik uang itu berkata “Kalau kau tidak mau kamu berikan pada keluargamu”.

Sudarsih berusaha menyembunyikan air mata yang menghangat di sudut matanya. Walau tetap saja mengucur hebat

Biodata Penulis

Nama Malihatun Nikmah, S.Pd. Tempat tanggal lahir Sumenep, 29 Desember 1996, Alamat Des. Ketawang Parebaan, Kec. Ganding, Kab. Sumenep (Madura).

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *